Sesudah meninggalkan
Korintus, pekerjaan Paulus yang berikutnya ialah Efesus. Ia dalam perjalanannya
ke Yerusalem untuk menghadiri pesta yang akan datang, dan ia singgah sebentar
saja di Efesus. Ia bertukar pikiran dengan orang‑orang Yahudi di dalam rumah
ibadat, dan begitu baik kesan yang diadakan kepada mereka sehingga mereka
memohon kepadanya untuk meneruskan pekerjaannya di antara mereka. Rencananya
untuk mengunjungi Yerusalem mencegah dia daripada tinggal, tetapi ia menjanjikan
untuk kembali kepada mereka, "jika Allah menghendakinya." Akwila dan
Priskila telah menemaninya ke Efesus dan meninggalkan mereka di sana untuk
melaksanakan pekerjaan yang telah dimulainya.
Pada waktu inilah
"seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria, ia seorang
yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal‑soal Kitab Suci. "Ia
telah mendengar Yohanes Pembaptis berkhotbah, telah menerima baptisan
pertobatan, dan adalah seorang saksi yang hidup bahwa pekerjaan nabi itu
tidaklah sia‑sia. Catatan Kitab Suci tentang Apolos ialah bahwa "ia telah
menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan
dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan
Yohanes."
Sementara di Efesus, Apolos
"mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat." Di antara
pendengarnya adalah Akwila dan Priskila yang, melihat bahwa ia belum menerima
terang yang sempurna dari Injil, ''mereka membawa dia ke rumah mereka dan
dengan teliti menjelaskan
(Bab ini berdasarkan Kisah
Rasul‑rasul 18:18‑28)
kepadanya Jalan
Allah." Dengan ajaran mereka ia memperoleh pengertian yang lebih jelas
tentang Kitab Suci dan menjadi salah satu daripada penganjur yang paling gigih
untuk iman orang Kristen.
Apolos rindu sekali untuk
pergi ke Akhaya, dan saudara‑saudara di Efesus, "mengirim surat kepada
murid‑murid di situ, supaya mereka menyambut dia" sebagai seorang guru
sesuai benar dengan sidang Kristus. Ia pergi ke Korintus, di mana dalam
pekerjaan untuk khalayak ramai dan dari rumah ke rumah, "ia membantah
orang‑orang Yahudi . . . dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah
Mesias." Paulus telah menanam benih kebenaran; Apolos sekarang
menyiraminya. Kemajuan yang mengikuti Apolos dalam mengkhotbahkan Injil
memimpin beberapa orang percaya untuk meninggikan pekerjaannya melebihi yang
dikerjakan oleh Paulus. Membandingkan orang dengan orang hal ini membawa ke
dalam sidang suatu roh perpecahan yang sangat menghambat pesatnya perkembangan
kemajuan Injil.
Selama satu setengah tahun
yang digunakan oleh Paulus di Korintus, ia bermaksud untuk mempersembahkan
Injil dalam kesederhanaannya. "Aku tidak datang dengan kata‑kata yang
indah" di Korintus; "tetapi dengan takut dan gentar, dan "dengan
keyakinan akan kekuatan Roh telah ia nyatakan "kesaksian Allah,"
bahwa mereka "jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan
Allah." 1 Korintus 2:1, 4, 5.
Paulus perlu menyesuaikan
cara mengajarnya kepada keadaan sidang. "Aku, saudara‑saudara, pada waktu
itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani," ia
sesudah itu menerangkan kepada mereka, "tetapi hanya dengan manusia
duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu,
bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya."1 Korintus
3:1, 2. Banyak dari orang‑orang percaya di Korintus lamban mempelajari
pelajaran‑pelajaran yang ia coba ajarkan kepada mereka. Pengetahuan mereka
dalam perkara rohani tidak seimbang dengan hak dan kesempatan mereka. Bila
mereka telah maju dalam pengalaman Kristen, dan sanggup mengerti dan
mempraktikkan kebenaran‑kebenaran yang lebih dalam dari perkataan itu, mereka
sedang berdiri di mana murid‑murid itu berdiri bila Kristus mengatakan kepada
mereka, "Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang
kamu belum dapat menanggungnya." Yohanes 16:12. Kecemburuan, sangka‑sangka
jahat, dan dakwaan telah menutup hati dari banyak orang percaya di Korintus
terhadap pekerjaan sepenuhnya daripada Roh Kudus, yang "menyelidik segala
sesuatu, bahkan hal‑hal yang tersembunyi dalam diri Allah." 1 Korintus
2:10. Betapa bijaksana keadaan mereka dalam perkara‑perkara duniawi sehingga
mereka adalah bayi‑bayi dalam pengetahuan akan Kristus.
Adalah pekerjaan Paulus
untuk menasihati orang‑orang yang bertobat di Korintus tentang dasar‑dasar,
abjad dari iman Kristen. Ia telah diharuskan untuk menasihati mereka seperti
mereka yang tidak tahu tentang cara kerja kuasa Ilahi ke atas hati mereka. Pada
waktu itu mereka tidak sanggup mengerti rahasia keselamatan; karena "manusia
duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya
adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya
dapat dinilai secara rohani." Ayat 14. Paulus telah berusaha untuk
menaburkan benih, namun harus diairi oleh orang lain. Mereka yang mengikuti dia
harus menjalankan pekerjaan dari batas di mana ia meninggalkannya, memberikan
terang rohani dan pengetahuan pada waktu yang tepat, seperti sidang itu sanggup
menahannya.
Bila rasul itu menerima
pekerjaannya di Korintus, ia menyadari bahwa ia harus memperkenalkan kebenaran
yang besar itu yang ingin diajarkannya dengan hati‑hati. Ia mengetahui bahwa di
antara para pendengarnya akan ada orang percaya yang sombong dalam teori
manusia, orang‑orang yang menguraikan sistem yang salah dari perbaktian, yang
meraba‑raba dengan mata yang buta, mencoba mencari dalam buku alam teori‑teori
yang akan berlawanan dengan kenyataan kehidupan rohani dan kehidupan yang kekal
sebagaimana yang dinyatakan dalam Kitab Suci. Ia juga mengetahui bahwa
pengecam-pengecam akan mencoba membalikkan tafsiran Kristen mengenai perkataan
yang dinyatakan, dan bahwa orang‑orang yang suka meragukan akan memperlakukan
Injil Kristus dengan ejekan dan cemooh.
Sementara ia berusaha
memimpin jiwa‑jiwa ke kaki salib, Paulus tidak mencoba mempersalahkan secara
langsung mereka yang tak bermoral, dan untuk menunjukkan berapa ngeri dosa
mereka pada pemandangan Allah yang suci. Agaknya ia menentukan di hadapan
mereka tujuan yang benar dari kehidupan dan mencoba mengesankan kepada pikiran
mereka pelajaran‑pelajaran dari Guru Ilahi, yang kalau diterima, akan
mengangkat mereka dari keduniawian dan dosa kepada kesucian dan kebenaran. Ia
bahas terutama dengan kesalehan dan kesucian yang praktis kepada siapa mereka
harus mendapat yang akan dianggap layak dalam kerajaan Allah. Dia rindu untuk
melihat terang Injil Kristus menembus kegelapan dari pikiran mereka, supaya
mereka dapat melihat bagaimana ngeri pada pemandangan Allah kebiasaan‑kebiasaan
mereka yang salah. Sebab itu beban ajarannya di antara mereka adalah Kristus
dan Dia yang disalibkan. Ia berusaha menunjukkan kepada mereka, bahwa pelajaran
mereka yang paling sungguh‑sungguh dan kesukaan mereka yang terbesar haruslah
menjadi kebenaran keselamatan yang ajaib melalui pertobatan kepada Allah dan
iman dalam Tuhan Yesus Kristus.
Ahli filsafat
mengesampingkan terang keselamatan, sebab hal itu teori yang sombong itu kepada
perasaan malu; orang duniawi enggan menerimanya, sebab itu akan memisahkan dia
dari berhala‑berhala duniawi. Paulus melihat bahwa tabiat Kristus harus
dipahami sebelum manusia dapat mengasihi Dia atau memandang salib dengan mata
iman. Di sinilah harus mulai pelajaran itu yang akan menjadi ilmu pengetahuan
dan nyanyian orang‑orang tebusan selama masa kekekalan Dalam terang salib saja
dapatlah nilai yang benar dari jiwa manusia dinilai.
Pengaruh yang menghaluskan
dari rahmat Allah mengubah pembawaan manusia yang alami itu. Surga tidak dapat
merindukan pikiran yang bersifat jasmani; hati mereka yang alami dan tidak
disucikan itu akan merasa tidak ada penarikan kepada tempat yang suci, jika itu
mungkin bagi mereka untuk memasuki, mereka tidak akan mendapat sesuatu yang
cocok. Kecenderungan yang mengendalikan hati alamiah harus ditaklukkan oleh
anugerah Kristus sebelum manusia yang telah jatuh diserasikan untuk memasuki
surga dan menikmati masyarakat malaikat‑malaikat yang suci. Bila manusia mati
kepada dosa dan dipercepat dengan kehidupan yang baru dalam Kristus, kasih
Ilahi memenuhi hatinya; pengertiannya disucikan; ia minum dari mata air
kesukaan dan pengetahuan yang tidak habis‑habisnya dan terang dari hari yang
kekal menerangi jalannya, karena dengan dia terus‑menerus adalah Terang
kehidupan.
Paulus telah berusaha
memberi kesan kepada pikiran saudara‑saudara orang Korintus fakta bahwa ia dan
pendeta‑pendeta yang bekerja sama hanyalah orang‑orang yang diperintahkan oleh
Allah untuk mengajarkan kebenaran, sehingga semua terlibat dalam pekerjaan yang
sama, dan bahwa mereka bersama‑sama bergantung kepada Allah untuk kemajuan
dalam pekerjaan mereka. Perbincangan yang timbul dalam sidang mengenai kebaikan
yang relatif dari pendeta‑pendeta yang berbeda‑beda tidaklah dalam perintah
Allah, tetapi adalah akibat dari menghargai sifat hati alamiah. "Karena
jika yang seorang berkata: 'Aku dari golongan Paulus,' dan yang lain berkata:
'Aku dari golongan Apolos,' bukanlah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia
duniawi yang bukan rohani? Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan‑pelayan
Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing‑masing menurut jalan yang
diberikan Tuhan kepadanya. Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang
memberi pertumbuhan." 1 Korintus 3:4‑7.
Pauluslah yang mula‑mula
mengkhotbahkan Injil di Korintus, dan yang telah mengorganisasikan sidang di
tempat itu. Inilah pekerjaan yang telah ditentukan Tuhan baginya. Kemudian,
oleh petunjuk Tuhan, pekerja‑pekerja yang lain telah dibawa ke dalam, untuk
berdiri pada nasib dan tempat mereka. Benih yang telah ditaburkan haruslah
diairi, dan inilah pekerjaan yang harus dikerjakan oleh Apolos. Ia mengikuti
Paulus dalam pekerjaannya, untuk memberikan instruksi yang lebih lanjut, dan
menolong benih yang ditaburkan untuk berkembang. Ia mendapatkan jalannya kepada
hati orang banyak, tetapi Allahlah yang memberikan pertumbuhan. Bukanlah kuasa
manusia, tetapi kuasa Ilahi, yang mengerjakan perubahan dalam tabiat. Mereka
yang menanam dan mereka yang mengairi tidaklah menyebabkan pertumbuhan benih;
mereka bekerja dengan Allah, sebagai alat yang telah ditentukan‑Nya, untuk
bekerja sama dengan Dia dalam pekerjaan‑Nya. Kepada Pekerja Yang Agung itu
adalah kehormatan dan kemuliaan yang datang dengan kemajuan.
Hamba‑hamba Allah tidak
semuanya mempunyai pemberian‑pemberian yang sama, tetapi mereka semuanya adalah
pekerja‑pekerja‑Nya. Semuanya haruslah belajar dari Guru Yang Besar itu dan
kemudian harus memancarkan apa yang telah dipelajarinya. Allah telah memberikan
kepada tiap‑tiap pesuruh‑Nya suatu pekerjaan pribadi. Ada berbagai‑bagai
pemberian, tetapi semua pekerja haruslah bersatu‑padu dalam keselarasan,
dikendalikan oleh pengaruh yang menyucikan dari Roh Kudus. Sementara mereka
memberitahukan Injil keselamatan, banyak yang akan diyakinkan dan ditobatkan
oleh kuasa Allah. Alat manusia tersembunyi dengan Kristus dalam Allah, dan
Kristus kelihatan sebagai yang paling utama di antara sepuluh ribu, dan Seorang
yang sama sekali menyenangkan.
"Baik yang menanam
maupun yang menyiram adalah sama; dan masing‑masing akan menerima upahnya
sesuai dengan pekerjaannya sendiri. Karena kami adalah kawan sekerja Allah;
kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah." Ayat 8, 9. Dalam tulisan ini
Paulus mengumpamakan sidang dengan ladang yang dikerjakan, dalam mana tukang
kebun bekerja, menjaga anggur yang ditanam oleh Tuhan; dan juga kepada suatu
bangunan, yang harus bertumbuh menjadi bait suci yang suci bagi Tuhan. Allah
adalah Pekerja Yang Agung, dan Ia menentukan kepada setiap orang apa
pekerjaannya. Semuanya harus bekerja di bawah pengawasan‑Nya, membiarkan mereka
bekerja untuk dan melalui pekerja‑pekerja‑Nya. Ia memberikan kepada mereka akal
budi dan kesanggupan, dan jika mereka memperhatikan petunjuk‑Nya, memahkotai
usaha mereka dengan kemenangan.
Hamba‑hamba Allah harus
bekerja bersama‑sama, bersatu padu dalam peraturan yang ramah‑tamah dan sopan,
"saling mendahului dalam memberi hormat." Roma 12:10. Tidak boleh ada
kritik yang tidak baik, tidak boleh menghancurluluhkan pekerjaan orang lain;
dan tidak boleh ada rombongan yang terpisah‑pisah. Tiap‑tiap orang mempunyai
kepribadiannya sendiri, yang tidak boleh dihanyutkan dalam kepribadian orang
lain. Namun demikian masing‑masing harus bekerja selaras dengan saudara‑saudaranya.
Dalam pelayanan mereka pekerja-pekerja Allah harus menjadi satu. Tidak ada
seorang pun dapat menyatakan dirinya sebagai suatu patokan, berbicara dengan
tidak hormat tentang teman sekerjanya atau memperlakukan mereka sebagai orang
bawahan. Di bawah Allah masing‑masing harus melakukan pekerjaan yang sudah
ditentukan, dihormati, dikasihi, dan diberanikan oleh pekerja‑pekerja yang
lain. Bersama‑sama mereka harus menjalankan pekerjaan sampai selesai.
Prinsip‑prinsip ini harus
tinggal berkepanjangan dalam suratan Paulus yang pertama kepada sidang di
Korintus. Rasul itu menyebut "hamba‑hamba Kristus, yang kepadanya
dipercayakan rahasia Allah," dan mengenai pekerjaan mereka ia menjelaskan:
"Yang akhirnya dituntut dari pelayan‑pelayan yang demikian ialah, bahwa
mereka ternyata dapat dipercayai. Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku
dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiri
pun tidak kuhakimi. Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan
karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan. Karena
itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan
menerangi juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan
apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap‑tiap orang akan menerima pujian
dari Allah." 1 Korintus 4:1‑5.
Tidaklah diberikan kepada
seseorang manusia untuk menghakimi antara berbagai‑bagai hamba Allah. Tuhan
saja yang menghakimi pekerjaan manusia, dan Ia akan memberi kepada masing‑masing
pahalanya yang adil.
Rasul itu, meneruskan,
menunjuk dengan langsung kepada perbedaan yang telah diadakan antara
pekerjaannya dan pekerjaan Apolos: "Saudara‑saudara, kata‑kata ini aku
kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan
kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: 'Jangan melampaui yang ada tertulis,'
supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan
mengutamakan yang satu daripada yang lain. Sebab siapakah yang kau anggap
engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?
Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah‑olah
engkau tidak menerimanya?" Ayat 6, 7.
Paulus dengan jelas
menghadapkan kepada sidang bahaya‑bahaya dan kesukaran‑kesukaran yang ia dan
teman‑temannya telah menanggung dengan sabar dalam pelayanan untuk Kristus.
"Sampai pada saat ini," ia menyatakan, "kami lapar, haus,
telanjang, dipukul, dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang
berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar;
kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama
dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat
ini. Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegur kamu
sebagai anak‑anakku yang kukasihi. Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu‑ribu
pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang
dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan
kepadamu." Ayat 11‑15.
Ia yang mengirim pekerja‑pekerja
Injil sebagai utusan‑utusan‑Nya tidak dihormati bila dinyatakan di antara para
pendengarnya cinta kasih yang kuat kepada beberapa pekerja yang kenamaan
sehingga tidak ada kerelaan untuk menerima pekerja‑pekerja dari guru yang lain.
Tuhan mengirim pertolongan kepada umat‑Nya, bukan selamanya sebagaimana mereka
pilih, tetapi sebagaimana mereka perlukan; karena manusia itu berpandangan
dangkal dan tak dapat melihat apa yang terbaik untuk mereka. Sangat jarang
bahwa seorang pendeta mempunyai segala kecakapan yang perlu untuk menyempurnakan
suatu sidang dalam segala tuntutan Kekristenan; sebab itu Allah sering mengirim
mereka kepada pendeta‑pendeta yang lain, masing‑masing mempunyai beberapa
kesanggupan dalam mana orang lain kekurangan.
Sidang harus menerima hamba‑hamba
Kristus dengan perasaan terima kasih, sebagaimana mereka mau menerima Tuhan
Sendiri. Mereka harus berusaha untuk mendapat segala keuntungan dari petunjuk
itu yang setiap pendeta boleh berikan kepada mereka dari sabda Allah. Kebenaran
yang hamba‑hamba Allah bawa harus diterima dan
dihargai dalam kerendahan,
tetapi tak ada pendeta yang harus didewa‑dewakan.
Melalui rahmat Kristus,
pendeta‑pendeta harus dijadikan pesuruh‑pesuruh terang dan berkat. Sebagaimana
dengan doa yang sungguh‑sungguh dan tabah mereka mendapat anugerah Roh Kudus
dan keluar dengan beban menyelamatkan jiwa, hati mereka penuh dengan semangat
untuk menyampaikan kemenangan salib, mereka akan melihat buah‑buah dari
pekerjaan mereka. Enggan untuk mempertunjukkan akal budi manusia atau
meninggikan diri sendiri, mereka akan melaksanakan suatu pekerjaan yang akan
menahan serbuan Setan. Banyak jiwa akan berbalik dari gelap kepada terang, dan
banyak gereja akan didirikan. Manusia akan bertobat, bukan kepada alat manusia,
tetapi kepada Kristus. Diri sendiri akan ditahan di belakang; Yesus saja,
Manusia di Kalvari itu, akan kelihatan.
Mereka yang sedang bekerja
bagi Yesus hari ini boleh menyatakan keistimewaan yang menarik serupa dengan
yang dinyatakan oleh mereka yang dalam zaman rasul‑rasul memasyhurkan Injil.
Allah sudah sedia untuk mengaruniakan kepada hamba‑hamba‑Nya hari ini
sebagaimana Ia memberikan kuasa kepada Paulus dan Apolos, kepada Silas dan
Timotius, kepada Petrus, Yakobus dan Yohanes.
Pada zaman rasul‑rasul ada
beberapa jiwa yang salah jalan yang menuntut percaya pada Kristus, namun enggan
menunjukkan penghormatan kepada utusan‑utusan‑Nya. Mereka menyatakan bahwa
mereka tidak mengikuti guru manusia, tetapi diajar langsung oleh Kristus tanpa
pertolongan pendeta‑pendeta Injil. Mereka tidak bergantung pada roh dan tidak
rela untuk menyerah kepada suara sidang. Orang seperti itu ada dalam bahaya
besar untuk diperdaya.
Allah telah menempatkan di
dalam sidang, sebagai penolong‑penolong yang telah ditentukan‑Nya, manusia
dengan talenta yang beraneka ragam, sehingga melalui akal budi yang
dipersatukan dari banyak pendapat pikiran Roh itu boleh ditemui. Manusia yang
bergerak dengan sifat tabiat mereka sendiri yang kuat, enggan untuk menanggung
dengan orang lain yang telah mempunyai pengalaman yang panjang dalam pekerjaan
Allah, akan menjadi buta oleh kepercayaan pada diri sendiri, tidak sanggup
melihat antara yang salah dan yang benar. Tidaklah aman bagi orang‑orang
seperti itu dipilih sebagai pemimpin‑pemimpin di dalam sidang; karena mereka
akan mengikuti pertimbangan dan rencana mereka sendiri, tidak mempedulikan
pertimbangan dari saudara‑saudara mereka sendiri. Mudahlah bagi musuh bekerja
melalui mereka yang, diri sendiri memerlukan nasihat pada setiap langkah,
menjalankan perwalian jiwa dalam kekuatan sendiri, tanpa mempelajari sifat
rendah hati Kristus.
Kesan saja tidak menjadi
penuntun yang aman kepada kewajiban. Musuh sering mendesak manusia untuk
percaya bahwa Allah yang memimpin mereka, sedangkan sebenarnya mereka sedang
mengikuti dorongan manusia. Tetapi bila kita memperhatikan dengan teliti, dan
minta nasihat kepada saudara‑saudara kita, kita akan diberikan pengertian
tentang kemauan Tuhan; karena perjanjian adalah, "Ia membimbing orang‑orang
yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan‑Nya kepada orang‑orang
yang rendah hati." Mazmur 25:9.
Dalam gereja Kristen yang
mula‑mula ada beberapa orang yang menolak untuk mengakui baik Paulus atau
Apolos, tetapi mengatakan bahwa Petruslah pemimpin mereka. Mereka menegaskan
bahwa Petrus telah erat sekali dengan Kristus sementara Tuhan mereka tinggal di
atas dunia, sementara Paulus adalah penganiaya orang‑orang percaya. Pandangan
dan perasaan mereka terikat oleh prasangka. Mereka tidak menunjukkan kebebasan,
kedermawanan, dan sikap lemah lembut, yang menunjukkan bahwa Kristus tinggal di
dalam hati.
Ada bahaya bahwa roh
berpihak‑pihak ini akan berakibat dalam kejahatan yang besar kepada gereja
Kristen, dan Paulus dinasihatkan oleh Tuhan untuk mengutarakan perkataan
nasihat yang sungguh‑sungguh dan kecaman yang serius. Tentang mereka yang
berkata, "yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing‑masing berkata: Aku
dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan
Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus itu terbagi‑bagi? Adakah
Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama
Paulus?" "Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas
manusia," ia memohon, "sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik
Paulus, maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu sekarang,
maupun waktu yang akan datang. Semuanya kamu punya. Tetapi adalah milik Kristus
dan Kristus adalah milik Allah." 1 Korintus 1:12, 13: 3:21‑23.
Paulus dan Apolos adalah
dalam keselarasan yang sempurna. Orang terakhir ini dikecewakan dan disusahkan
sebab perpecahan dalam sidang di Korintus; ia tidak mengambil keuntungan yang
memihak yang ditunjukkan kepada dirinya sendiri, pula tidak menganjurkannya,
tetapi dengan lekas meninggalkan ladang pergumulan. Sesudah itu bila Paulus
mendesak dia untuk berkunjung kembali ke Korintus, ia menolak dan tidak lagi
bekerja di sana sampai jauh sesudahnya apabila sidang telah mencapai keadaan
kerohanian yang lebih baik.
No comments:
Post a Comment