"Ketika kami tiba di
Yerusalem, semua saudara menyambut kami dengan suka hati. Pada keesokan harinya
pergilah Paulus bersama‑sama dengan kami mengunjungi Yakobus; semua penatua
telah hadir di situ."
Pada kesempatan ini, Paulus
dan kawan‑kawannya menyerahkan bahkan kepada pemimpin‑pemimpin pekerjaan di
Yerusalem sumbangan‑sumbangan yang dikirimkan oleh gereja‑gereja kafir untuk
menunjang orang‑orang miskin di antara saudara‑saudara Yahudi. Pengumpulan sumbangan‑sumbangan
ini telah meminta banyak waktu dari rasul dan teman‑teman sekerjanya, pikiran
yang cemas dan pekerjaan yang melelahkan. Jumlah, yang jauh melebihi harapan
tua‑tua di Yerusalem menunjukkan banyak pengorbanan dan malah kekurangan yang
sangat di pihak orang‑orang kafir yang percaya.
Pemberian‑pemberian
sukarela ini menyatakan kesetiaan orang‑orang kafir yang bertobat kepada
pekerjaan Allah yang diorganisasikan di seluruh dunia dan seharusnya diterima
oleh semua orang dengan pengakuan yang berterima kasih, namun nyatalah kepada
Paulus dan kawan‑kawannya bahwa di antara mereka di muka siapa mereka sekarang
sedang berdiri ada beberapa orang yang tidak sanggup menghargai roh kasih
saudara‑saudara yang mendorong pemberian‑pemberian ini.
Dalam tahun‑tahun permulaan
dari pekerjaan Injil di antara orang‑orang kafir, beberapa dari saudara‑saudara
yang terkemuka di Yerusalem, berpaut kepada prasangka yang dulu dan kebiasaan
berpikir, tidak bekerja sama dengan sungguh‑sungguh dengan Paulus dan kawan‑kawannya.
Dalam kecemasan mereka untuk memelihara beberapa bentuk dan upacara yang tidak
berarti, mereka tidak dapat melihat berkat yang akan datang kepada mereka dan
pekerjaan yang mereka kasihi, melalui suatu usaha mempersatukan semua bagian
dari pekerjaan Tuhan. Meskipun ingin melindungi minat yang terbaik dari gereja
Kristen, mereka telah melangkah mengatur dengan kemajuan penjagaan Allah, dan
dalam akal budi manusia berusaha melemparkan terhadap pekerja‑pekerja banyak
larangan yang tidak perlu. Dengan demikian akan timbul serombongan manusia yang
tidak kenal keadaan yang berubah‑ubah dan keperluan yang aneh yang ditemui oleh
pekerja‑pekerja di ladang‑ladang yang jauh, namun mereka mendesak bahwa mereka
mempunyai kekuasaan untuk memimpin saudara‑saudara mereka di ladang‑ladang ini
untuk mengikuti metode pekerjaan tertentu. Mereka merasa seakan‑akan pekerjaan
mengkhotbahkan Injil harus dijalankan sesuai dengan pendapat mereka.
Beberapa tahun telah lewat
sejak saudara‑saudara di Yerusalem, dengan wakil dari gereja‑gereja yang
terkemuka lainnya, memberikan perhatian kepada pertanyaan‑pertanyaan yang
timbul yang membingungkan mengenai cara yang diikuti oleh mereka yang sedang
bekerja untuk orang‑orang kafir. Sebagai akibat dari rapat ini, saudara‑saudara
itu telah bersatu dalam membuat anjuran yang tepat kepada sidang‑sidang
mengenai suatu tatacara dan kebiasaan, termasuk penyunatan. Adalah pada rapat
inilah saudara‑saudara itu juga telah bersatu untuk menganjurkan kepada gereja‑gereja
Kristen Barnabas dan Paulus sebagai pekerja‑pekerja yang layak untuk
kepercayaan penuh dari tiap‑tiap orang percaya.
Di antara mereka yang hadir
dalam rapat ini, ada beberapa yang telah mengritik dengan keras cara‑cara kerja
yang diikuti oleh rasul‑rasul kepada siapa terletak beban yang utama untuk
membawa pekabaran Injil kepada dunia kafir. Tetapi selama rapat itu pandangan
mereka tentang maksud Allah telah diperluas, dan mereka telah bersatu dengan
saudara‑saudara mereka dalam mengadakan keputusan yang bijaksana yang memungkinkan
persatuan seluruh orang percaya.
Sesudah itu, bila ternyata
bahwa orang‑orang bertobat dari antara orang‑orang kafir bertambah dengan
cepatnya, ada beberapa dari saudara‑saudara terkemuka di Yerusalem yang mulai
menghargai prasangka‑prasangka mereka yang dulu terhadap metode‑metode Paulus
dan kawan‑kawannya. Prasangka‑prasangka ini menjadi lebih kuat, bertahun‑tahun
kemudian, sampai beberapa pemimpin mengambil keputusan bahwa pekerjaan
penginjilan harus dijalankan menurut pendapat mereka sendiri. Jika Paulus mau
menyesuaikan metode‑metodenya kepada peraturan‑peraturan tertentu yang mereka
anjurkan, mereka akan mengakui dan menunjang pekerjaannya; kalau tidak mereka
tidak akan memandang kepadanya dengan kebaikan hati atau memberi dukungan
mereka kepadanya.
Orang‑orang ini telah
melupakan kenyataan bahwa Allah adalah guru umat-Nya, bahwa tiap‑tiap pekerja
dalam pekerjaan‑Nya harus mendapat pengalaman pribadi dalam mengikuti Pemimpin
Ilahi, dan bukannya berharap kepada manusia untuk petunjuk langsung; bahwa
pekerja‑pekerja‑Nya harus dibentuk dan diciptakan, bukannya menurut buah
pikiran manusia, tetapi sesuai dengan contoh Ilahi.
Dalam pelayanannya rasul
Paulus telah mengajarkan kepada orang banyak "bukan dengan kata‑kata
hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh."
Kebenaran yang dikabarkannya telah dinyatakan kepadanya oleh Roh Kudus,
"sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bukan hal‑hal yang tersembunyi
dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat
dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian
pulalah tidak ada orang yang tahu apa yang terdapat dalam diri Allah selain Roh
Allah .... Dan karena kami, Paulus menyatakan, "menafsirkan hal‑hal rohani
kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata‑kata tentang karunia‑karunia
Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia,
tetapi oleh Roh." 1 Korintus 2:4, 10‑13.
Sepanjang pelayanannya,
Paulus telah memandang pada Allah untuk bimbingan langsung. Pada waktu yang
sama, ia telah sangat teliti untuk bekerja sesuai dengan keputusan rapat umum
di Yerusalem, dan sebagai akibatnya sidang‑sidang sudah "diteguhkan dalam
iman dan makin lama makin bertambah besar jumlahnya." Kisah 16:5. Dan
sekarang, meskipun kurang simpati yang ditunjukkan kepadanya oleh beberapa
orang, ia mendapat penghiburan dalam kesadaran bahwa ia bahwa ia telah
melakukan kewajibannya dalam menguatkan pengikut‑pengikut‑Nya di dalam roh
kesetiaan, kedermawanan, dan kasih saudara bersaudara, seperti dinyatakan pada
kesempatan ini dalam sumbangan sukarela yang ia sanggup tempatkan di hadapan
tua‑tua Yahudi.
Sesudah memberikan
persembahan ini, Paulus "menceritakan terinci apa yang dilakukan Allah di
antara bangsa‑bangsa lain oleh pelayanannya." Pertunjukan fakta ini yang
dibawa kepada hati semua orang, sedangkan mereka yang ragu‑ragu, yakin bahwa
berkat surga telah menyertai pekerjaannya. "Mendengar itu mereka
memuliakan Allah." Mereka merasa bahwa cara‑cara bekerja yang diikuti oleh
rasul itu membawa cap surga. Sumbangan‑sumbangan sukarela yang terletak di
hadapan mereka menambah keyakinan kepada kesaksian rasul itu mengenai kesetiaan
sidang‑sidang yang baru didirikan di antara orang‑orang kafir. Sementara orang‑orang
yang terhitung di antara mereka yang bertanggung jawab atas pekerjaan di
Yerusalem yang telah mendesak bahwa tindakan pengendalian yang sewenang‑wenang
disetujui, melihat pekerjaan Paulus dalam terang yang baru dan telah diyakinkan
bahwa jalan mereka sendiri adalah salah, bahwa mereka sudah ditahan dalam
perhambaan oleh kebiasaan‑kebiasaan dan tradisi‑tradisi Yahudi, dan bahwa
pekerjaan Injil telah sangat dihalangi oleh kegagalan mereka untuk mengenal
bahwa dinding pemisah di antara orang Yahudi dan orang kafir telah dirobohkan
oleh kematian Kristus.
Inilah kesempatan emas bagi
semua saudara yang terkemuka untuk mengakui dengan terus terang bahwa Allah
telah berbuat melalui Paulus, dan bahwa berulangkali mereka telah bersalah
dalam menyebarluaskan laporan musuh‑musuhnya untuk membangkitkan kecemburuan
dan prasangka mereka. Tetapi gantinya bersatu dalam suatu usaha untuk berbuat
adil kepada seorang yang telah dilukai, mereka memberikan nasihat kepadanya
yang menunjukkan bahwa mereka masih menghargai suatu perasaan bahwa Paulus
harus bertanggung jawab penuh atas prasangka yang ada. Mereka tidak berdiri
teguh untuk membelanya, mencoba menunjukkan kepada yang tidak senang di mana
mereka telah bersalah, tetapi berusaha memberi suatu kompromi oleh menasihati
dia untuk mengikuti jalan yang pada pemandangan mereka akan menghilangkan semua
penyebab salah pengertian.
"Saudara,
lihatlah," mereka berkata, sebagai jawab atas kesaksiannya, beribu‑ribu
orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum
Taurat. Tetapi mereka mendengar tentang engkau, bahwa engkau mengajar semua
orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa‑bangsa lain untuk melepaskan hukum
Musa, sebab engkau mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak‑anaknya
dan jangan hidup menurut adat istiadat kita. Jadi bagaimana sekarang? Tentu
mereka akan mendengar, bahwa engkau telah datang ke mari. Sebab itu, lakukanlah
apa yang kami katakan ini: Di antara kami ada empat orang bernazar. Bawalah
mereka bersama‑sama dengan engkau, lakukan pentahiran dirimu bersama‑sama
dengan mereka dan tanggunglah biaya mereka, sehingga mereka dapat mencukurkan
rambutnya; maka semua orang akan tahu, bahwa segala kabar yang mereka dengar
tentang engkau sama sekali tidak benar, melainkan bahwa engkau tetap memelihara
hukum Taurat. Tetapi mengenai orang kafir yang percaya, sudah kami tuliskan dan
berkesimpulan bahwa mereka tidak pernah memelihara iman percaya itu, dan mereka
harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari
darah, dari daging binatang yang mati lemas dan dari percabulan."
Saudara‑saudara ini
berharap bahwa Paulus, oleh mengikuti jalan yang dianjurkan, boleh memberikan
bantahan yang pasti tentang laporan yang palsu mengenai dia. Mereka memastikan
kepadanya bahwa keputusan rapat yang dulu tentang orang‑orang kafir yang
bertobat dan hukum bayang‑bayang, masih berlaku. Tetapi nasihat yang diberikan
sekarang tidak sesuai dengan keputusan. Roh Allah tidak menganjurkan petunjuk
ini; itu adalah buah‑buah pengecut. Para pemimpin sidang di Yerusalem
mengetahui bahwa oleh tidak patuh kepada hukum‑hukum upacara, orang‑orang
Kristen akan membawa kepada diri mereka sendiri kebencian orang‑orang Yahudi
dan menyingkapkan mereka kepada aniaya. Sanhedrin berbuat seberapa dapat untuk
menghalangi kemajuan Injil. Orang‑orang dipilih oleh badan ini untuk mengikuti
rasul‑rasul, terutama Paulus, dan dalam setiap jalan yang mungkin menentang
pekerjaannya. Sekiranya orang‑orang percaya kepada Kristus dipersalahkan di
hadapan Sanhedrin sebagai pelanggar hukum, mereka akan menderita hukuman yang
cepat dan hebat sebagai pelanggar‑pelanggar agama Yahudi.
Banyak dari orang‑orang
Yahudi yang telah menerima Injil masih menginginkan penghargaan hukum upacara
dan terlalu rela hanya untuk mengadakan kelonggaran‑kelonggaran yang kurang
bijaksana, mengharapkan dengan demikian untuk mendapat kepercayaan dari orang
senegerinya, untuk menghilangkan prasangka mereka, dan untuk memenangkan mereka
kepada iman dalam Kristus sebagai Penebus dunia. Paulus menyadari bahwa selama
banyak dari anggota‑anggota gereja yang terkemuka di Yerusalem terus‑menerus
menghargai prasangka terhadap dia, mereka akan tetap bekerja untuk meniadakan
pengaruhnya. Ia merasakan bahwa kalau oleh suatu kelonggaran yang masuk akal ia
dapat memenangkan mereka kepada kebenaran, ia akan menghilangkan halangan yang
besar kepada kemajuan Injil di tempat‑tempat yang lain. Tetapi ia tidak diberi
kuasa oleh Allah untuk mengiakan sebanyak yang mereka minta.
Bila kita memikirkan
kerinduan Paulus yang besar untuk menjadi sesuai dengan saudara‑saudaranya,
kelemahlembutannya terhadap yang lemah iman, kehormatannya bagi rasul‑rasul
yang sudah pernah bersama-sama dengan Kristus, dan untuk Yakobus, saudara
Tuhan, dan maksudnya untuk menjadi segala perkara kepada semua orang selama ia
peroleh tanpa mengorbankan prinsip--bila kita memikirkan segala perkara ini,
tidaklah mengherankan bahwa ia dipaksa untuk menyimpang dari jalan yang teguh
dan pasti yang telah diikutnya sampai kini. Tetapi gantinya melaksanakan tujuan
yang diinginkannya, usahanya untuk: memperdamaikan hanyalah mempercepat krisis,
mempercepat penderitaannya yang diramalkan, dan mengakibatkan dia dipisahkan
dari saudara‑saudaranya, mengambil dari sidang salah satu tiang yang terkuat,
dan membawa kesusahan kepada hati orang Kristen di seluruh negeri.
Pada keesokan harinya
Paulus mulai membawa nasihat dari tua‑tua. Empat orang di bawah nazar khusus
(Bilangan 6), istilah yang sudah hampir usang, dibawa oleh Paulus ke dalam bait
suci, "untuk memberitahukan, bila pentahiran akan selesai dan persembahan
akan dipersembahkan untuk mereka masing‑masing." Tentu saja pengorbanan
yang mahal untuk penyucian harus dipersembahkan.
Mereka yang menasihati
Paulus untuk mengambil langkah ini tidaklah menganggap dengan sepenuhnya bahaya
yang besar bahwa dari mana ia tidak akan luput. Pada masa ini, Yerusalem
dipenuhi dengan orang‑orang yang berbakti dari segala negeri. Sebagai kegenapan
dalam perintah yang diberikan kepadanya oleh Allah, Paulus telah membawa kabar
Injil kepada orang‑orang kafir, ia telah mengunjungi banyak kota‑kota dunia
yang terbesar, dan ia telah dikenal baik oleh beribu‑ribu orang dari negeri
asing yang telah datang ke Yerusalem untuk mengunjungi pesta itu. Di antara
orang‑orang ini adalah orang‑orang yang hatinya dipenuhi dengan kebencian yang
pahit terhadap Paulus, dan baginya memasuki bait suci pada suatu kesempatan
umum adalah membahayakan jiwanya. Beberapa hari lamanya ia mondar‑mandir di
tengah orang‑orang yang beribadah, rupanya tidak diketahui; tetapi sebelum
berakhirnya masa yang ditentukan, sementara ia bercakap‑cakap dengan seorang
imam mengenai korban‑korban yang akan dipersembahkan, ia dikenal oleh beberapa
orang Yahudi dari Asia.
Dengan kesetanan mereka
berlari kepadanya, sambil berseru, "Hai orang‑orang Israel, tolong! Inilah
orang yang di mana‑mana mengajar semua orang untuk menentang bangsa kita dan
menentang hukum Taurat, dan tempat ini!" Sementara orang‑orang menyambut
panggilan untuk pertolongan, tuduhan yang lain ditambahkan--"dan sekarang
ia membawa orang‑orang Yunani pula ke dalam bait Allah dan menajiskan tempat
suci ini."
Oleh undang‑undang Yahudi
adalah suatu kejahatan yang patut dihukum dengan kematian untuk orang yang
tidak bersunat memasuki bagian dalam bait suci dari bangunan yang suci itu.
Paulus telah kelihatan dalam kota bersama Trofimus, seorang Efesus, dan menurut
dugaan ia telah membawa dia ke dalam bait suci. Ini tidak dilakukannya; dan
sebab ia seorang Yahudi, tindakannya memasuki bait suci bukanlah pelanggaran
hukum. Tetapi meskipun tuduhan itu palsu semata‑mata, hal itu telah
membangkitkan prasangka umum. Sementara teriakan didengungkan dan terdengar ke
seluruh ruangan bait suci, orang banyak yang berkumpul di sana dipengaruhi oleh
kegemparan besar. Kabar dengan cepat tersiar di seluruh Yerusalem, "Maka
gemparlah seluruh kota, dan rakyat datang berkerumun."
Bahwa seorang murtad dari
Israel mencoba menajiskan bait suci pada saat bila beribu‑ribu orang telah
datang di sana dari segala penjuru dunia untuk berbakti, membangkitkan amarah
orang banyak. "Lalu menangkap Paulus dan menyeret dia ke luar dari Bait
Allah dan seketika itu juga semua pintu gerbang Bait Allah itu ditutup."
"Sementara mereka
merencanakan untuk membunuh dia, sampailah kabar kepada kepala pasukan, bahwa
seluruh Yerusalem gempar." Klaudius Lisias mengetahui benar unsur yang
sedang bergolak, yang harus dihadapi, dan ia "segera bergerak dengan
prajurit‑prajurit dan perwira‑perwira dan maju mendapatkan orang banyak itu.
Ketika mereka melihat dia dan prajurit‑prajurit itu, berhentilah mereka memukul
Paulus." Tidak mengetahui akan sebab keributan itu, tetapi melihat bahwa
kemarahan orang banyak ditujukan kepada Paulus, kapten Roma itu mengambil
kesimpulan bahwa ia adalah seorang pemberontak Mesir tentang siapa ia sudah
dengar, yang telah sejauh itu luput dari penangkapan. Sebab itu ia
"menangkapnya dan menyuruh mengikat dia dengan dua rantai, lalu bertanya
siapakah dia dan apakah yang telah diperbuatnya." Dengan segera orang
berseru dalam tuduhan yang nyaring dan marah‑marah. "Tetapi dari antara
orang banyak itu ada yang meneriakkan kepadanya ini, ada pula yang meneriakkan
itu. Dan oleh karena keributan itu, ia tidak dapat mengetahui apakah yang
sebenarnya terjadi. Sebab itu ia menyuruh membawa Paulus ke markas. Ketika
sampai ke tangga Paulus terpaksa didukung prajurit‑prajurit karena berdesak‑desaknya
orang banyak, yang berbondong‑bondong mengikuti dia, sambil berteriak: Enyahkan
dia."
Di tengah keributan rasul
itu mengetahui bahwa malaikat‑malaikat surga ada dengan dia. Ia merasa tidak
rela meninggalkan bait suci tanpa berusaha mengabarkan kebenaran di depan orang
senegerinya. Ketika ia hampir dibawa ke dalam markas itu ia berkata kepada
kepala pasukan itu: "Bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu?"
Lisias menjawab, "Tahukah engkau bahasa Yunani? Jadi engkau bukan orang
Mesir itu, yang baru‑baru ini menimbulkan pemberontakan dan melarikan empat
ribu orang pengacau bersenjata ke padang gurun?" Sebagai jawaban Paulus
berkata, "Aku adalah orang Yahudi, dari Tarsus, warga dari kota yang
terkenal di Kilikia; aku minta, supaya aku diperbolehkan berbicara kepada orang
banyak itu."
Permohonannya dikabulkan
dan "pergilah ia berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan tangannya
kepada rakyat itu." Isyarat itu menarik perhatian mereka, sementara
sikapnya menunjukkan rasa hormat. "Ketika suasana sudah tenang, mulailah
ia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani, katanya: Hai saudara‑saudara
dan bapa‑bapa, dengarkanlah apa yang hendak kukatakan kepadamu sebagai
pembelaan diri." Pada bunyi perkataan Ibrani yang terkenal, "makin
tenanglah mereka," dalam ketenangan yang umum ia meneruskan:
"Aku adalah orang
Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini;
dididik dengan sungguh-sungguh di bawah pimpinan Gamaliel, dalam hukum nenek
moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama
seperti kamu semua pada waktu ini." Tidak ada yang dapat menyangkal
pernyataan rasul itu, sebagai kenyataan bahwa apa yang dikatakannya cukup
dikenal oleh semua orang yang masih tinggal di Yerusalem. Ia kemudian berbicara
mengenai semangatnya yang dulu dalam menganiaya murid‑murid Kristus sampai
mati; dan ia menceritakan keadaan pertobatannya, menceritakan kepada pendengar‑pendengarnya
bagaimana hatinya yang sombong telah dipimpin untuk tunduk kepada orang Nazaret
yang disalibkan itu. Sekiranya ia telah mencoba untuk memasuki perdebatan
dengan penentang‑penentangnya, mereka dengan keras kepala akan menolak untuk
mendengar perkataannya; tetapi hubungan pengalamannya yang disertai dengan
suatu kuasa yang meyakinkan sehingga untuk sementara waktu nampaknya melunakkan
dan menaklukkan hati mereka.
Ia kemudian mencoba untuk
menunjukkan bahwa pekerjaannya di antara orang‑orang kafir tidak dimasuki oleh
pilihan. Ia telah menginginkan untuk bekerja lagi bagi bangsanya sendiri;
tetapi dalam bait suci itu juga suara Allah telah berbicara kepadanya dalam
penglihatan yang suci, memimpin jalannya "jauh dari sini kepada bangsa‑bangsa
lain."
Sampai sekarang orang‑orang
telah mendengarkan dengan penuh perhatian, tetapi bila Paulus tiba pada titik
dalam sejarahnya di mana ia ditentukan sebagai duta Kristus kepada orang‑orang
kafir, kemarahan mereka bernyala‑nyala. Kebiasaan memandang kepada diri sendiri
sebagai satu‑satunya umat yang disukai oleh Allah, mereka tidak rela
mengizinkan orang‑orang kafir untuk turut menikmati kesempatan yang sampai pada
waktu ini telah dianggap sebagai milik mereka semata‑mata. Menyaringkan suara
mereka melebihi suara pembicara, mereka berseru, "Enyahlah orang ini dari
muka bumi! Ia tidak layak hidup."
"Mereka terus
berteriak sambil melemparkan jubah mereka dan menghamburkan debu ke udara.
Karena itu kepala pasukan memberi perintah untuk membawa Paulus ke markas dan
menyuruh periksa dan menyesah dia, supaya dapat diketahui apa sebabnya orang
banyak itu berteriak‑teriak sedemikian rupa terhadap dia.
"Tetapi ketika Paulus
ditelentangkan untuk disesah, berkatalah ia kepada perwira yang bertugas:
Bolehkah kamu menyesah seorang warga negara Roma, apa lagi tanpa diadili?
Mendengar perkataan itu perwira itu melaporkannya kepada kepala‑kepala pasukan,
katanya: Apakah yang hendak engkau buat? Orang itu ' warga negara Roma. Maka
datanglah kepala pasukan itu kepada Paulus dan berkata: Katakanlah, benarkah
engkau warga negara Roma? Jawab Paulus: Benar. Lalu kata kepala pasukan itu:
Kewarganegaraan itu kubeli dengan harga mahal. Jawab Paulus: Tetapi aku
mempunyai hak itu atas kelahiranku. Maka mereka yang harus menyesah dia, segera
mundur; dan kepala pasukan itu juga takut, setelah ia tahu, bahwa Paulus, yang
ia suruh ikat itu, adalah orang Roma.
"Namun kepala pasukan
itu ingin mengetahui dengan teliti apa yang dituduhkan orang‑orang Yahudi
kepada Paulus. Karena itu pada keesokan harinya ia menyuruh memanggil Paulus
dari penjara dan memerintahkan, supaya imam‑imam kepala dan seluruh Mahkamah
Agama berkumpul. Lalu ia membawa Paulus dari markas dan menghadapkannya kepada
mereka."
Rasul itu sekarang diadili
oleh pengadilan yang sama tentang mana ia sendiri menjadi seorang anggota
sebelum pertobatannya. Sementara ia berdiri di hadapan penghulu‑penghulu
Yahudi, pembawaannya tenang, dan wajahnya menyatakan damai Kristus.
"Sambil menatap anggota‑anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: Hai
saudara‑saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani
yang murni di hadapan Allah." Mendengar perkataan ini, kebencian mereka
menyala‑nyala kembali. "Tetapi imam besar Ananias menyuruh orang‑orang
berdiri dekat Paulus menampar mulut Paulus. "Pada perintah yang melampaui
batas kemanusiaan ini, Paulus berseru, "Allah akan menampar engkau, hai
tembok yang dikapur putih‑putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku
menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk
menampar aku. Dan orang‑orang yang hadir di situ berkata: ‑Engkau mengejek Imam
Besar Allah." Dengan sopannya yang luar biasa Paulus menjawab, "Hai,
saudara‑saudara, aku tidak tahu, bahwa kamu adalah Imam Besar. Memang ada
tertulis: Jangan engkau berkata jahat tentang seorang pemimpin bangsamu!
"Dan ketika ia tahu,
bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian
termasuk orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agung itu, katanya: Hai
saudara‑saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku
dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang
mati."
"Ketika ia berkata
demikian, timbullah perpecahan antara orang‑orang Farisi dan orang‑orang Saduki
dan terbagi‑bagilah orang banyak itu. Sebab orang‑orang Saduki mengatakan bahwa
tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang‑orang
Farisi mengakui kedua‑duanya." Dua golongan itu mulai membantah satu sama
lain, dan dengan demikian kekuatan pertentangan mereka terhadap Paulus
dipecahkan. "Beberapa ahli Taurat dari golongan Farisi tampil ke depan dan
membantah dengan keras, katanya: Kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang
salah pada orang ini! Barangkali ada roh atau malaikat yang telah berbicara
kepadanya, "Janganlah kita melawan Allah.'"
Dalam kekacauan yang
mengikutinya orang‑orang Saduki ingin mendapat menangkap rasul, supaya mereka
boleh membunuh dia; dan orang‑orang Farisi ingin melindungi dia. "Maka
terjadilah perpecahan besar, sehingga kepala pasukan takut, kalau‑kalau mereka
akan mengoyaknPaulus. Karena itu ia memerintahkan
pasukan untuk turun ke bawah dan mengambil Paulus dari tengah‑tengah mereka dan
membawanya ke markas."
Kemudian, sementara
membayangkan pengalaman‑pengalamannya yang sukar pada hari itu, Paulus khawatir
bahwa jalannya boleh jadi tidak diperkenankan Allah. Bukankah ia sudah
melakukan suatu kesalahan dalam mengunjungi Yerusalem. Apakah keinginannya yang
besar untuk bersatu dengan saudara‑saudaranya menuntun kepada akibat yang
menyedihkan ini?
Kedudukan yang ditempati
oleh orang‑orang Yahudi sebagai umat Allah sekadar rupa di hadapan dunia yang
tidak percaya, menyebabkan rasul itu bersedih dalam roh yang mendalam.
Bagaimanakah pegawai‑pegawai kafir itu memandang ke atas mereka?nmenuntut sebagai penyembah
Allah, dan memikul jabatan yang suci, namun menyerahkan diri mereka sendiri
kepada pengendalian kemarahan yang buta dan tidak pantas, berusaha membinasakan
saudara‑saudara mereka sekalipun yang berani berbeda dengan mereka dalam
kepercayaan agama, dan mengalihkan rapat perundingan yang paling bermakna
kepada suatu suasana perselisihan dan kekacauan yang jahat. Paulus merasa bahwa
nama Allah telah menderita fitnah di hadapan orang kafir.
Dan sekarang ia berada
dalam penjara, dan ia mengetahui bahwa musuh‑musuhnya, dalam kebencian mereka
yang menyedihkan, akan mengambil jalan apa saja untuk membunuh dia. Mungkinkah
bahwa pekerjaannya untuk sidang sudah berakhir dan serigala lapar sudah hampir
masuk sekarang? Pekerjaan Kristus amat dekat ke hati Paulus dan dengan
kecemasan yang mendalam ia memikirkan bahaya‑bahaya dari gereja‑gereja yang
tersebar, terbuka kepada aniaya orang‑orang benar itu sebagaimana ia telah
jumpai dalam rapat Sanhedrin. Dalam dukacita dan putus asa ia menangis dan
berdoa.
Dalam jam yang gelap
seperti itu bukannya Tuhan tidak menghiraukan umat‑Nya. Ia telah mengawali dia
dari gerombolan pembunuh dalam halaman bait suci; Ia telah beserta dengan dia
sebelum rapat Sanhedrin; Ia beserta dengan dia di dalam benteng; dan Ia
menyatakan diri‑Nya Sendiri kepada saksi‑Nya yang setia sebagai jawaban kepada
doa yang sungguh‑sungguh untuk bimbingan bagi rasul itu. "Pada malam
berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: Kuatkanlah
hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di
Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau bersaksi di Roma."
Paulus sudah lama
mengharapkan untuk mengunjungi Roma; ia sangat merindukan untuk bersaksi bagi
Kristus di sana, tetapi ia merasa bahwa maksud‑maksudnya sudah digagalkan oleh
musuh‑musuh orang Yahudi. Ia berpikir sedikit, bahkan sekarang, bahwa ia akan
menjadi sebagai orang tahanan kalau ia pergi.
Sementara Tuhan memberikan
keberanian kepada hamba‑Nya, musuh‑musuh Paulus berhasrat untuk merencanakan
kebinasaannya. "Dan setelah hari siang orang‑orang Yahudi mengadakan
komplotan dan bersumpah untuk mengutuk diri, bahwa mereka tidak akan makan atau
minum sebelum mereka membunuh Paulus. Jumlah mereka yang mengadakan komplotan
itu lebih dari empat puluh orang." Di sini suatu puasa seperti Tuhan
melalui Yesaya telah mempersalahkan suatu puasa untuk "berbantah dan
berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena‑mena." Yesaya
58:4.
Orang‑orang yang berkomplot
itu "pergi kepada imam‑imam dan tua‑tua bangsa Yahudi dan berkata: Kami
telah bersumpah dengan mengutuk diri, bahwa kami tidak akan makan atau minum,
sebelum kami membunuh Paulus. Karena itu hendaklah kamu bersama‑sama dengan Mahkamah
Agung menganjurkan kepada kepala pasukan, supaya ia menghadapkan Paulus lagi
kepada kamu, seolah‑olah kamu hendak memeriksa perkaranya lebih teliti, dan
sementara itu kamu sudah siap sedia untuk membunuh dia sebelum ia sampai kepada
kamu."
Gantinya memarahi rencana
itu, imam‑imam dan penghulu‑penghulu sangat menyetujuinya. Paulus telah
mengucapkan kebenaran bila ia membandingkan Ananias kepada kubur yang putih.
Tetapi campur tangan Allah
menyelamatkan hamba‑Nya. Kemenakan Paulus, anak saudaranya perempuan, mendengar
tentang "penghadangan" pembunuh‑pembunuh itu, "datang ke markas
dan setelah diizinkan masuk, ia memberitahukan kepada Paulus. Lalu Paulus
memanggil salah seorang perwira dan berkata kepadanya: Bawalah anak ini kepada
kepala pasukan karena ada sesuatu yang perlu disampaikan kepadanya. Perwira itu
membawa kepada kepala pasukan dan berkata: Paulus orang tahanan itu, memanggil
aku dan meminta, supaya aku membawa anak muda ini kepadamu, sebab ada yang
perlu diberitahukan kepadamu."
Klaudius Lisias menerima
orang muda ini dengan ramah, dan setelah membawanya ke samping, ia bertanya,
"Apakah yang perlu kauberitahukan kepadaku." Orang muda itu menjawab:
"Orang‑orang Yahudi telah bersepakat untuk meminta kepadamu supaya besok
engkau menghadapkan Paulus lagi ke Mahkamah Agung, seolah‑olah Mahkamah itu mau
memperoleh keterangan yang lebih teliti daripadanya. Akan tetapi janganlah
engkau mendengarkan mereka, sebab lebih dari empat puluh orang dari mereka
telah siap sedia dan hanya menantikan keputusanmu. "
"Lalu kepala pasukan
itu menyuruh anak muda itu pulang dan memerintahkan kepadanya: Jangan katakan
kepada siapa pun juga, bahwa engkau telah memberitahukan hal ini
kepadaku."
Lisias dengan segera
mengambil keputusan untuk memindahkan Paulus dari batas kekuasaannya kepada
Feliks sebagai penuntutnya. Sebagai suatu umat, orang‑orang Yahudi berada dalam
kegemparan dan kejengkelan, dan keributan yang sering terjadi. Kehadiran yang
terus‑menerus dari rasul itu di Yerusalem boleh memimpin kepada akibat‑akibat
yang berbahaya kepada kota itu sendiri. Sebab itu ia "memanggil dua
perwira dan berkata: Siapkan dua ratus orang prajurit untuk berangkat ke
Kaisarea beserta tujuh puluh orang berkuda dan dua ratus orang bersenjata
lembing, kira‑kira jam sembilan malam ini. Sediakan juga beberapa keledai
tunggang untuk Paulus dan bawalah dia dengan selamat kepada wali negeri
Feliks."
Tidak ada waktu yang hilang
untuk menyuruh Paulus pergi. "Lalu prajurit‑prajurit itu mengambil Paulus
sesuai dengan yang diperintahkan kepada mereka dan membawanya pada malam hari
ke Antipatris." Dari tempat itu orang‑orang berkuda pergi dengan orang
penjara itu ke Kaisarea, sementara empat ratus serdadu kembali ke Yerusalem.
Pegawai yang ditugaskan
untuk pengawalan itu menyampaikan tahanannya kepada Feliks, juga memberikan
sepucuk surat dengan mana ia dipercayakan oleh kepala pasukan itu:
"Salam dari Klaudius
Lisias kepada wali negeri Feliks yang mulia. Orang ini ditangkap oleh orang‑orang
Yahudi dan ketika mereka hendak membunuhnya, aku datang dengan pasukan
mencegahnya dan melepaskannya, karena aku dengar bahwa dia adalah warga negara
Roma. Untuk mengetahui apa alasannya mereka mendakwa dia, akan menghadapkannya
ke Mahkamah Agama mereka. Ternyatalah bagiku, bahwa ia didakwa karena soal‑soal
hukum Taurat mereka, tetapi tidak ada tuduhan, atas mana ia patut dihukum mati
atau dipenjarakan. Kepadaku telah diberitahukan bahwa mereka hanya mengajukan
perkara itu kepadamu."
Setelah mendengar kabar
itu, Feliks bertanya dari provinsi manakah orang penjara ini berasal, dan
setelah diberitahu bahwa ia berasal dari Kilikia, ia pun berkata: "Aku
akan memeriksa perkaramu, bila para pendakwamu juga telah tiba di sini. Lalu ia
menyuruh menahan Paulus di istana Herodes."
Kasus Paulus bukanlah yang
pertama kali yang olehnya seorang hamba Allah memperoleh suaka di antara orang‑orang
kafir karena kebencian orang‑orang yang mengaku umat Allah. Dalam kemarahan
mereka kepada Paulus orang‑orang Yahudi telah menambahkan dalam daftar hitam
kejahatan‑kejahatan yang menandai sejarah bangsa itu. Lebih jauh mereka telah
mengeraskan hati mereka terhadap kebenaran dan lebih menentukan nasib mereka
yang sebenarnya.
Hanya sedikit yang
menyadari arti yang luas dari perkataan yang diucapkan Kristus, ketika di dalam
rumah sembahyang di Nazaret, Ia mengumumkan diri‑Nya Sendiri sebagai Yang
Diurapi. Ia mengumumkan pekerjaan‑Nya untuk menghiburkan, memberkati, dan
menyelamatkan orang‑orang yang berdukacita dan yang berdosa; dan kemudian
melihat kesombongan dan kurang percaya yang mengendalikan hati para pendengar‑Nya,
Ia mengingatkan mereka bahwa pada waktu yang lampau Allah memalingkan wajah‑Nya
dari umat pilihan sebab kurang percaya dan pemberontakan mereka, dan telah
menyatakan diri‑Nya Sendiri kepada mereka di negeri‑negeri kafir yang tidak
menolak terang surga. Janda dari Sarfat dan Naaman dari Siria telah hidup
menurut terang yang ada pada mereka; sebab itu mereka dihitung lebih benar dari
umat pilihan Allah yang telah undur dari Dia dan telah mengorbankan prinsip
kepada kesenangan dan kemuliaan dunia.
Kristus memberitahukan
kepada orang‑orang Yahudi di Nazaret suatu kebenaran yang menakutkan ketika Ia
menyatakan bahwa dengan orang‑orang Israel yang murtad tidak ada keamanan bagi
pesuruh‑pesuruh Allah yang setia. Mereka tidak mengetahui harga diri mereka
atau menghargai pekerjaannya. Sementara pemimpin‑pemimpin Yahudi mengaku
mempunyai semangat yang besar untuk kemuliaan Allah dan kebaikan orang Israel, mereka
adalah musuh bagi kedua‑duanya. Oleh ajaran dan teladan, mereka sedang memimpin
orang banyak lebih jauh dan semakin jauh dari penurutan kepada Allah memimpin
mereka ke mana Ia tidak dapat menjadi pertahanan mereka pada hari kesusahan.
Dalam perkara Paulus,
perkataan teguran Juruselamat kepada orang‑orang di Nazaret pun berlaku, bukan
saja kepada orang‑orang Yahudi yang tidak percaya, tetapi kepada saudara‑saudaranya
sendiri yang seiman. Sekiranya pemimpin‑pemimpin dalam sidang menyerahkan
sepenuhnya perasaan kepahitan mereka kepada rasul itu, dan menerima dia sebagai
seorang yang khusus dipanggil oleh Allah untuk membawa kabar Injil kepada orang‑orang
kafir, Tuhan akan menyelamatkan dia untuk mereka. Allah tidak mengerjakan suatu
mukjizat untuk meniadakan rentetan keadaan dalam mana kelakuan dari pemimpin‑pemimpin
sidang di Yerusalem yang menyebabkannya.
Roh yang sama masih sedang
memimpin kepada akibat yang sama. Kelalaian untuk menghargai dan memperbaiki
rahmat Ilahi telah menghilangkan banyak sekali berkat bagi sidang. Betapa
sering Tuhan ingin memperpanjang pekerjaan dari beberapa pendeta yang setia,
sekiranya pekerjaan‑Nya dihargai! Tetapi sidang Tuhan mengizinkan musuh jiwa‑jiwa
untuk memutarbalikkan pengertian, sehingga mereka salah mengemukakan dan salah
menafsirkan perkataan dan perbuatan hamba Kristus; jika mereka mengizinkan diri
sendiri berdiri pada jalannya dan menghalangi kegunaannya, Tuhan kadang‑kadang
menyingkirkan dari mereka berkat yang hendak diberikan‑Nya.
Setan selamanya bekerja
melalui agen‑agennya untuk menawarkan hati dan membinasakan mereka yang telah
dipilih Allah untuk melaksanakan pekerjaan yang besar dan baik. Mereka boleh
bersedia untuk mengorbankan kehidupan itu sendiri sekalipun untuk kemajuan
pekerjaan Kristus, namun penipu besar itu akan menganjurkan kepada saudara‑saudaranya
keragu‑raguan mengenai mereka, jikalau dijamu, akan merusak kepercayaan dalam
ketulusan tabiat mereka, dan dengan demikian akan melumpuhkan kegunaan mereka.
Terlalu sering ia berhasil dalam membawa ke atas mereka, oleh saudara‑saudara
mereka sendiri, dukacita yang sedemikian itu sehingga Allah dengan sangat ramah
mengantarai mereka untuk memberikan perhentian kepada hamba‑hamba‑Nya yang
teraniaya. Setelah tangan dilipat di dada yang tidak berdenyut, bila suara
amaran dan keberanian didiamkan, maka yang keras kepala boleh dibangkitkan
untuk melihat dan menghargai berkat‑berkat yang mereka sendiri telah alihkan
dari mereka. Kematian mereka boleh menyaksikan secara lengkap yang olehnya kehidupan
mereka telah gagal melaksanakannya.
No comments:
Post a Comment