Paulus telah memohon kepada
Kaisar, dan Festus tidak dapat berbuat yang lain daripada mengirim dia ke Roma.
Tetapi beberapa waktu telah lewat sebelum sebuah kapal yang cocok dapat
diperoleh; dan sementara orang‑orang tahanan yang lain harus diutus bersama‑sama
dengan Paulus, pertimbangan tentang persoalan mereka juga menyebabkan
penangguhan. Hal ini memberikan kesempatan kepada Paulus untuk mengemukakan
alasan imannya di hadapan orang‑orang yang terkemuka di Kaisarea, dan juga di
hadapan Raja Agripa II, yang terakhir daripada Herodes.
"Beberapa hari
kemudian datanglah raja Agripa dengan Bernike ke Kaisarea untuk mengadakan
kunjungan kehormatan kepada Festus. Karena mereka beberapa hari lamanya tinggal
di situ, Festus memaparkan perkara Paulus kepada Raja itu, katanya: Di sini ada
seorang tahanan yang ditinggalkan Feliks pada waktu ia pergi. Ketika aku berada
di Yerusalem, imam‑imam kepala dan tua‑tua orang Yahudi mengajukan dakwaan
terhadap orang itu dan meminta supaya ia dihukum." Ia memberikan garis
besar keadaan‑keadaan yang telah memimpin permohonan tahanan kepada Kaisar,
menceritakan tentang pemeriksaan Paulus baru‑baru ini di hadapannya, dan
mengatakan bahwa orang‑orang Yahudi tidak mengajukan terhadap Paulus suatu
tuduhan seperti yang telah diharapkan mereka, tetapi mereka hanya
"berselisih paham . . . tentang soal‑soal agama mereka, dan tentang
seorang bernama Yesus, yang sudah mati, sedangkan Paulus katakan dengan pasti,
bahwa ia hidup."
Sementara Festus memberitahukan
ceritanya, Agripa menjadi tertarik dan berkata, "Aku ingin mendengar orang
itu sendiri." Sesuai dengan keinginannya, suatu rapat sudah diatur untuk
hari berikutnya. "Pada keesokan harinya datanglah Agripa dan Bernike
dengan segala kebesaran dan sesudah mereka masuk ruang pengadilan bersama‑sama
dengan kepala‑kepala pasukan dan orang‑orang yang terkemuka dari kota itu,
Festus memberi perintah, supaya Paulus dihadapkan."
Untuk menghormati para
tamunya, Festus telah berusaha untuk menjadikan kesempatan ini pertunjukan yang
mengesankan. Jubah‑jubah yang mewah dari pembela dan tamu‑tamunya, pedang dari
serdadu‑serdadunya, dan baju zirah yang mengkilap dari komandan‑komandan
mereka, memberikan kecermelangan kepada pemandangan itu.
Dan sekarang Paulus, masih
terbelenggu, berdiri di hadapan orang banyak yang berkumpul. Alangkah besarnya
perbedaan yang ditampilkan di sini! Agripa dan Bernike mempunyai kuasa dan
kedudukan, dan oleh sebab itu mereka disayangi oleh dunia. Tetapi mereka miskin
akan sifat‑sifat tabiat yang dihargai oleh Allah. Mereka pelanggar‑pelanggar
hukum‑Nya, bejat dalam hati dan kehidupan. Jalan kehidupan mereka dibenci oleh
surga.
Tahanan yang sudah tua itu,
dirantaikan kepada serdadu pengawalnya, pada pemandangannya tak ada sesuatu
yang akan memimpin dunia untuk memberikan penghormatan kepadanya. Namun pada
orang ini yang tampaknya tanpa sahabat atau kekayaan atau kedudukan, dan dibawa
sebagai tahanan karena imannya dalam Anak Allah, segenap surga menaruh
perhatian. Malaikat‑malaikat menjaga dia. Sekiranya kemuliaan seorang dari
pesuruh‑pesuruh yang bercahaya memancar, kemegahan dan kesombongan kerajaan
akan luntur; raja dan orang istana akan dipukul ke bumi ini, sebagaimana
pengawal‑pengawal Roma di kubur Kristus.
Festus sendiri
memperkenalkan Paulus kepada orang banyak dengan perkataan: "Ya raja
Agripa serta semua yang hadir di sini bersama‑sama dengan kami. Lihatlah orang
ini, yang dituduh oleh semua orang Yahudi, baik yang di Yerusalem, maupun yang
di sini. Mereka telah datang kepadaku dan sambil berteriak‑teriak mereka
mengatakan, bahwa ia tidak boleh hidup lebih lama. Tetapi ternyata kepadaku,
bahwa ia tidak berbuat sesuatupun yang setimpal dengan hukuman mati dan karena
ia naik banding kepada Kaisar, aku memutuskan untuk mengirim dia menghadap
Kaisar. Tetapi tidak ada apa‑apa yang pasti yang harus kutulis kepada Kaisar
tentang dia. Itulah sebabnya aku menghadapkan dia ke sini dan kepada kamu
semua, terutama kepadamu raja Agripa, supaya, setelah diadakan pemeriksaan, aku
dapat menuliskan sesuatu. Sebab pada hematku tidaklah wajar untuk mengirim
seorang tahanan dengan tidak menyatakan tuduhan‑tuduhan yang diajukan terhadap
dia."
Raja Agripa sekarang
memberikan kepada Paulus kebebasan untuk berbicara bagi dirinya sendiri. Rasul
itu tidak kaget oleh pertunjukan yang cemerlang atau kedudukan yang tinggi dari
para pendengarnya; karena ia mengetahui berapa kecilnya nilai kekayaan atau
kedudukan duniawi. Kebesaran dan kuasa duniawi tidak dapat untuk sesaat
mengecilkan keberaniannya atau merampok dia daripada pengendalian dirinya.
"Ya raja Agripa, aku
merasa berbahagia," ia menyatakan, "karena pada hari ini aku
diperkenankan untuk memberi pertanggungan jawab di hadapanmu terhadap segala
tuduhan yang diajukan orang‑orang Yahudi terhadap diriku, terutama karena
engkau tahu benar‑benar adat‑istiadat dan persoalan orang Yahudi. Sebab itu aku
minta kepadamu, supaya engkau mendengarkan aku dengan sabar."
Paulus menceritakan tentang
pertobatannya dari kurang percaya yang keras kepala kepada iman dalam Yesus
Kristus sebagai Penebus dunia. Ia melukiskan pemandangan surga yang mula‑mula
memenuhi dia dengan ketakutan yang tak terkatakan, tetapi sesudah itu terbukti
menjadi sumber penghiburan yang terbesar suatu kenyataan tentang kemuliaan
Ilahi, di tengah‑tengah mana duduk bertakhta Ia yang dihinakan dan dibenci,
yang dia bahkan pengikut‑pengikutnya sedang berusaha hendak membinasakan. Sejak
saat itu Paulus telah menjadi seorang yang baru, seorang percaya yang sungguh‑sungguh
dan sangat teguh kepada Kristus, yang oleh kemurahan yang mengubahkan menjadi
sedemikian itu.
Dengan kuasa dan jelas
Paulus menguraikan di hadapan Agripa peristiwa‑peristiwa besar yang dihubungkan
dengan kehidupan Kristus di dunia ini. Ia memberikan kesaksian bahwa Mesias
yang dinubuatkan sudah kelihatan dalam tubuh Yesus, orang Nazaret. Ia
menunjukkan bagaimana Kitab Suci Perjanjian Lama telah menyatakan bahwa Mesias
harus kelihatan sebagai seorang manusia di antara orang‑orang, dan bagaimana
dalam kehidupan Yesus telah digenapi tiap‑tiap perincian seperti diuraikan oleh
Musa dan nabi‑nabinya. Dengan maksud untuk menebus dunia yang hilang, Anak
Allah yang Ilahi telah menderita salib, menanggung malu, dan telah naik ke
surga dengan jaya atas kematian dan kubur (maut).
Kenapa, menurut pemikiran
Paulus, tampaknya tidak mungkin Kristus harus bangkit dari antara orang mati?
Tetapi sekali telah tampak kepadanya, bagaimanakah ia dapat menyangsikan yang
telah dilihatnya dan didengarnya sendiri? Pada pintu gerbang Damsyik ia telah
memandang kepada Kristus yang sudah tersalib dan bangkit, Kristus yang sama
yang telah berjalan‑jalan di lorong‑lorong Yerusalem, mati di Kalvari,
menghancurkan ikatan kematian, dan naik ke surga. Sama seperti Kefas, Yakobus,
Yohanes, atau yang lain‑lain dari murid‑muridnya, ia telah melihat dan bercakap‑cakap
dengan Dia. Suara telah memerintahkan dia untuk memasyhurkan Injil dari yang
sudah bangkit, dan bagaimanakah ia tidak menurut? Di Damsyik, di Yerusalem, di
segenap tanah Yudea, dan dalam tempat yang jauh, ia telah menyaksikan tentang
Yesus yang Disalibkan, menunjukkan kepada semua golongan "bahwa mereka
harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan‑pekerjaan
yang sesuai dengan pertobatan itu."
"Karena itulah,"
rasul itu menjelaskan. "Orang‑orang Yahudi menangkap aku di Bait Allah,
dan mencoba membunuh aku. Tetapi oleh pertolongan Allah aku dapat hidup sampai
sekarang dan memberi kesaksian kepada orang‑orang kecil dan orang‑orang besar.
Dan apa yang kuberitakan itu tidak lain daripada yang sebelumnya telah
diberitahukan oleh para nabi dan juga oleh Musa, yaitu, bahwa Mesias harus
menderita sengsara dan bahwa ia adalah yang pertama yang akan bangkit dari
antara orang mati, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan
kepada bangsa‑bangsa lain."
Seluruh rombongan telah
mendengarkan dengan terpesona cerita Paulus tentang pengalaman‑pengalamannya
yang ajaib. Rasul itu bersatu dalam memikir‑mikirkan dalam tema kesayangannya.
Tidak ada seorang yang mendengarkannya dapat menyangsikan ketulusannya. Tetapi
dalam kehanyutan penuh bujukan yang meyakinkan ia disela oleh Festus yang
berseru, "Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau
gila."
Rasul itu menyahut,
"Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan
pikiran yang sehat. Raja juga tahu tentang segala perkara ini, sebab itu aku
berani berbicara terus‑terang kepadanya. Aku yakin bahwa tidak ada sesuatupun
dari semuanya ini yang belum didengarnya, karena perkara ini tidak terjadi di
tempat yang terpencil." Kemudian, berbalik kepada Agripa, ia menyapa dia
dengan terus terang, "Percayakah engkau, raja Agripa, kepada para nabi?
Aku tahu, bahwa engkau percaya kepada mereka."
Sangat terharu, Agripa
untuk sesaat kehilangan pandangan akan alam sekitarnya dan kemuliaan
kedudukannya. Sadar akan kebenaran yang telah didengarnya, melihat hanya orang
tahanan yang hina berdiri di hadapannya sebagai hamba Allah, ia menjawab dengan
tidak sengaja, "Hampir‑hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang
Kristen."
Dengan tekun rasul itu
menjawab, "Aku mau berdoa kepada Allah supaya segera atau lama‑kelamaan
bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang lain yang hadir di sini dan yang
mendengarkan perkataanku menjadi sama seperti aku," menambahkan, sementara
ia mengangkat tangannya yang terbelenggu, "kecuali belenggu‑belenggu
ini."
Festus, Agripa, dan Bernike
boleh dengan keadilan memakai belenggu yang mengikat rasul itu. Semuanya merasa
bersalah oleh kejahatan yang menyedihkan; Orang‑orang yang bersalah ini telah
mendengar pada hari itu tawaran keselamatan oleh nama Kristus. Satu, sekurang‑kurangnya,
hampir terbujuk untuk menerima rahmat dan pengampunan yang dipersembahkan.
Tetapi Agripa tak mengindahkan kemurahan yang diulurkan, menolak untuk menerima
palang dari Penebus yang tersalib.
Keinginan tahu raja sudah
dipuaskan, dan bangkit dari tempat duduknya, ia menandakan bahwa wawancara itu
sudah berakhir. Sementara orang banyak itu bubar, mereka bercakap‑cakap di
antara mereka sendiri, mengatakan, "Orang itu tidak melakukan sesuatu yang
setimpal dengan hukuman mati atau hukuman penjara."
Meskipun Agripa seorang
Yahudi, ia tidak menanggung sifat fanatik dan prasangka yang buta dari orang‑orang
Farisi. "Orang ini", ia berkata kepada Festus, "sebenarnya sudah
dapat dibebaskan sekiranya ia tidak naik banding kepada Kaisar." Tetapi
perkara itu telah disampaikan kepada pengadilan yang lebih tinggi, dan sekarang
sudah di luar batas kekuasaan Festus atau Agripa.
No comments:
Post a Comment