Hanya sedikit yang
disebutkan dalam buku Kisah mengenai pekerjaan yang terakhir dari rasul Petrus.
Selama tahun‑tahun pekerjaannya yang sibuk yang mengikuti kecurahan Roh pada
Hari Pentakosta, ia adalah di antara mereka yang berusaha tanpa lelah mencapai
orang‑orang Yahudi yang datang ke Yerusalem untuk berbakti pada masa pesta
tahunan.
Sementara jumlah orang‑orang
percaya bertambah di Yerusalem dan di tempat‑tempat lain yang dikunjungi oleh
pesuruh salib itu, talenta yang dimiliki oleh rasul Petrus terbukti mempunyai
nilai yang tak dapat dikatakan kepada sidang Kristen yang mula‑mula. Pengaruh
kesaksian tentang Yesus orang Nazaret terbentang jauh dan luas. Kepadanya
terletak tanggung jawab ganda. Ia membawa kesaksian yang positif tentang Mesias
di depan orang‑orang yang tidak percaya, bekerja dengan sungguh‑sungguh untuk
pertobatan mereka; dan pada waktu yang sama ia melakukan pekerjaan yang khusus
bagi orang‑orang percaya, menguatkan mereka dalam iman kepada Kristus.
Sesudah Petrus dipimpin
kepada penyangkalan diri sendiri dan bergantung sepenuhnya pada kuasa Ilahi, ia
menerima panggilannya untuk bertindak sebagai seorang pembantu gembala. Kristus
telah berkata kepada Petrus, sebelum penyangkalannya akan Dia, "Dan
engkau, jika engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara‑saudaramu." Lukas
22:32. Perkataan ini penting untuk pekerjaan yang luas dan berhasil yang harus
dilakukan oleh rasul ini pada masa yang akan datang bagi mereka yang datang
kepada percaya. Untuk pekerjaan ini, pengalaman Petrus tentang dosa dan
penderitaan dan pertobatan telah mempersiapkan dia. Belum sampai ia belajar
tentang kelemahannya, ia dapat mengetahui tentang keperluan orang berdosa akan
perlunya bergantung kepada Kristus. Di tengah‑tengah topan pencobaan ia telah
mengerti bahwa manusia dapat berjalan dengan aman hanyalah dalam rasa tidak
percaya diri sendiri ia bergantung kepada Juruselamat.
Pada pertemuan yang
terakhir dari Kristus dengan murid‑murid‑Nya di tepi pantai, Petrus, dicoba
dengan pertanyaan yang diucapkan tiga kali, "Apakah engkau mengasihi
Aku?" (Yohanes 21:15‑17), telah dikembalikan kepada tempatnya di antara
keduabelas rasul itu. Pekerjaannya telah ditentukan baginya; ia harus memberi
makan kepada kawan domba Tuhan. Sekarang, bertobat dan diterima, ia bukan saja
mencari untuk menyelamatkan mereka yang tanpa kandang, tetapi harus juga
menjadi gembala domba‑domba.
Kristus menyebutkan kepada
Petrus hanya satu syarat pelayanan "Apakah engkau mengasihi Aku?" Ini
adalah syarat yang penting. Meskipun Petrus mempunyai pemberian yang lain,
namun tanpa kasih Kristus ia tidak dapat menjadi gembala yang setia atas
kawanan domba Allah. Pengetahuan, kebajikan, kefasihan, semangat semuanya
penting dalam pekerjaan yang baik; tetapi tanpa kasih Kristus dalam hati,
pekerjaan seorang pekerja Kristus adalah suatu kegagalan.
Kasih Kristus bukannya
perasaan yang gelisah, tetapi suatu prinsip yang hidup, yang harus dinyatakan
sebagai kuasa yang tinggal di dalam hati. Jika tabiat dan tingkah laku gembala
adalah contoh dari kebenaran yang dianjurkan, Tuhan akan memberikan persetujuan‑Nya
kepada pekerjaan itu. Gembala dan kawanan domba akan menjadi satu, disatukan
oleh pengharapan yang biasa dalam Kristus.
Cara Juruselamat dalam
memperlakukan Petrus mengandung suatu pelajaran baginya dan bagi saudara‑saudaranya.
Meskipun Petrus telah menyangkal Tuhannya, kasih yang ditunjukkan Yesus baginya
tidak pernah gagal. Sementara rasul itu menunaikan tugas untuk memberikan sabda
itu kepada orang‑orang lain, ia harus menemui pelanggar itu dengan kesabaran,
simpati, dan kasih yang mengampuni. Mengingat akan kelemahan dan kegagalannya
sendiri, ia harus memperlakukan domba dan anak domba yang diserahkan kepadanya
sebagaimana Kristus telah memperlakukan dia.
Manusia, yang diserahkan
kepada kejahatan, cenderung untuk memperlakukan dengan kekerasan orang‑orang
yang tergoda dan bersalah. Mereka tidak dapat membaca hati; mereka tidak
mengetahui pergumulan dan kesedihannya. Tentang kemarahan yang menunjukkan
kasih, tentang pukulan agar luka disembuhkan, tentang amaran yang menimbulkan
pengharapan, mereka perlu pelajari.
Sepanjang pelayanannya,
Petrus dengan setia memperhatikan kawanan dombanya yang dipercayakan kepadanya,
dan dengan demikian membuktikan dirinya sendiri layak untuk pekerjaan dan
tanggung jawab yang diberikan kepadanya oleh Juruselamat. Selalu ia meninggikan
Yesus orang Nazaret sebagai pengharapan Israel, Juruselamat manusia. Ia membawa
hidupnya sendiri di bawah disiplin Pekerja Yang Besar. Oleh setiap cara dalam
kuasanya ia berusaha mendidik orang‑orang percaya untuk pelayanan yang giat.
Teladannya yang saleh dan kegiatannya yang tidak kenal jerih lelah mengilhamkan
banyak orang muda tentang janji untuk menyerahkan diri mereka sendiri kepada
pekerjaan pelayanan. Sementara waktu berlalu, pengaruh rasul sebagai seorang
pendidik dan pemimpin bertambah. Dan meskipun ia tidak pernah melupakan
bebannya untuk bekerja terutama bagi orang‑orang Yahudi, namun ia memberikan
kesaksiannya di negeri‑negeri dan menguatkan iman orang banyak kepada Injil.
Pada tahun‑tahun terakhir
dari pelayanannya, Petrus diilhamkan untuk menulis kepada orang‑orang percaya
"yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Britania.
" Suratnya adalah alat untuk membangunkan keberanian dan menguatkan iman
dari mereka yang menderita ujian dan penderitaan, dan untuk memperbarui
pekerjaan yang baik dari mereka yang melalui banyak pencobaan berada dalam
bahaya untuk kehilangan pegangan mereka kepada Allah. Surat‑surat ini memberi
kesan yang ditulis oleh seorang yang menderita karena Kristus dan juga
penghiburan‑Nya telah melimpah; seorang yang segenap tubuhnya telah diubahkan
oleh anugerah, dan yang pengharapannya untuk hidup kekal sudah pasti dan teguh.
Pada permulaan suratnya
hamba Allah yang sudah tua itu memberikan kepada Tuhan penghargaan puji‑pujian
dan ucapan terima kasih. "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus
Kristus," ia berseru, "yang karena rahmat‑Nya yang besar telah
melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati,
kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima satu bagian yang
tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang
tersimpan di surga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah
karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk
dinyatakan pada zaman akhir."
Dalam pengharapan ini dari
suatu warisan yang pasti di dalam dunia yang dijadikan baru, orang‑orang
Kristen yang mula‑mula bersuka, meskipun dalam waktu ujian dan kesusahan yang
hebat. "Bergembiralah akan hal itu," Petrus menulis, "sekalipun
sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai‑bagai pencobaan.
Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih
tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan
api--sehingga kamu memperoleh pujian‑pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada
hari Yesus Kristus menyatakan diri‑Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat
Dia, namun kamu mengasihi‑Nya.... Kamu bergembira karena sukacita yang mulia
dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu
keselamatan jiwamu."
Perkataan rasul itu ditulis
sebagai petunjuk bagi orang‑orang percaya pada segala zaman, dan hal itu
mempunyai arti yang khusus bagi mereka yang hidup pada waktu apabila
"kesudahan segala sesuatu sudah dekat. " Nasihat dan amarannya,
perkataan iman dan keberaniannya, diperlukan oleh setiap jiwa yang akan
mempertahankan imannya "sampai kepada akhirnya." Ibrani 3:14. Rasul
itu berusaha mengajarkan kepada orang‑orang percaya betapa pentingnya
memelihara pikiran dari mengembara kepada pokok pikiran yang terlarang atau
oleh menghambur‑hambur tenaga pada persoalan yang tidak penting. Mereka yang
tidak mau jatuh ke dalam tipu muslihat Setan, harus menjaga baik‑baik jalan
masuk ke dalam jiwa; mereka harus menghindarkan membaca, melihat, atau
mendengar sesuatu yang mengusulkan buah pikiran yang tidak suci. Pikiran jangan
hendaknya dibiarkan memikirkan secara serampangan setiap persoalan yang
dianjurkan oleh musuh jiwa‑jiwa. Hati harus dijaga dengan setia, kalau tidak
kejahatan yang di luar akan membangkitkan kejahatan yang di dalam, dan jiwa itu
akan mengembara dalam kegelapan. "Sebab itu siapkanlah akal budimu,
waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang
dianugerahkan kepadamu pada waktu pernyataan Yesus Kristus . . . jangan turuti
hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah engkau
menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah
memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus."
"Hendaklah kamu hidup
dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu
telah ditebus dari cara hidupmu yang sia‑sia yang kamu warisi dari nenek
moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas,
melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, yang sama seperti darah
anak domba yang tidak bernoda dan tidak bercacat. Ia telah dipilih sebelum
dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri‑Nya pada zaman akhir.
Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara
orang mati dan yang telah memuliakan‑Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu
tertuju kepada Allah."
Sekiranya perak atau emas
telah cukup untuk membeli keselamatan manusia, betapa mudahnya hal itu
dilaksanakan bagi‑Nya yang mengatakan, "kepunyaan‑Kulah perak dan
kepunyaan‑Kulah emas." Hagai 2:8. Tetapi hanyalah oleh darah yang indah
dari Anak Allah orang yang berdosa dapat ditebus. Rencana keselamatan dilakukan
dalam pengorbanan. Rasul Paulus menulis, "Karena kamu telah mengenal kasih
karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh kamu menjadi miskin,
sekalipun ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinannya." 2
Korintus 8:9. Kristus memberikan diri‑Nya sendiri bagi kita supaya Ia dapat
menebus kita dari segala kejahatan. Dan sebagaimana berkat puncak dari
keselamatan, "karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus,
Tuhan kita." Roma 6:23.
"Karena kamu
menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehina kamu dapat mengamalkan
kasih persaudaraan yang tulus ikhlas," Petrus meneruskan, "hendaklah
kamu bersungguh‑sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu." Firman
Allah--kebenaran--adalah saluran dengan mana Tuhan menyatakan Roh dan kasih‑Nya.
Penurutan kepada sabda itu menghasilkan buah dari mutu yang dituntut
"kasih persaudaraan yang tulus ikhlas." Kasih ini dilahirkan dari
surga dan memimpin kepada motif yang tinggi dan perbuatan yang tidak
mementingkan diri.
Bila kebenaran menjadi
prinsip yang tinggal dalam kehidupan, jiwa itu "dilahirkan kembali, bukan
dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah,
yang hidup dan yang kekal." Kelahiran yang baru ini adalah akibat menerima
Kristus sebagai Sabda Allah. Bila oleh Roh Kudus kebenaran‑kebenaran Ilahi
mendapat kesan dalam hati, pengertian yang baru dibangunkan dan tenaga‑tenaga
yang sampai sekarang terbengkalai dibangkitkan untuk bekerja sama dengan Allah.
Demikianlah yang terjadi
dengan Petrus dan murid‑murid--sahabatnya. Kristus adalah yang menyatakan
kebenaran kepada dunia. Oleh Dia benih yang tidak akan binasa--sabda
Allah--ditabur dalam hati manusia. Tetapi banyak dari pelajaran‑pelajaran yang
paling berharga dari Guru yang Besar diucapkan kepada mereka pada waktu itu
tidak dapat memahaminya. Bila, sesudah kenaikan‑Nya, Roh Kudus mengingatkan
pelajaran‑pelajaran kepada murid‑murid‑Nya, pikiran yang tertidur bangkit. Arti
kebenaran ini terpancar ke atas pikiran mereka sebagai kenyataan yang baru, dan
kebenaran, suci dan tidak bercampur, menyediakan tempatnya sendiri. Kemudian pengalaman
yang ajaib dari kehidupan‑Nya menjadi bagian mereka. Sabda itu bersaksi melalui
mereka, orang‑orang yang ditentukan‑Nya, dan mereka memasyhurkan kebenaran yang
besar itu, "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, . .
. penuh kasih karunia dan kebenaran." "Karena dari kepenuhan‑Nya kita
semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia." Yohanes 1:14, 16.
Rasul itu menasihatkan
orang‑orang percaya untuk mempelajari Kitab Suci, yang melalui pengetahuan yang
pantas daripadanya mereka dapat mengadakan pekerjaan yang pasti untuk
kekekalan. Petrus menyadari bahwa dalam pengalaman tiap‑tiap jiwa yang akhirnya
memang akan ada kekacauan dan ujian; tetapi ia mengetahui juga bahwa suatu
pengertian akan Kitab Suci akan menyanggupkan yang tergoda untuk mengingat
perjanjian yang akan menghiburkan hati dan menguatkan iman dari Yang Mahakuasa.
"Semua yang hidup
adalah seperti rumput," ia menyatakan, "dan segala kemuliaannya
seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman
Tuhan tetap untuk selama‑lamanya. Inilah firman yang disampaikan Injil kepada
kamu. Karena itu buangkanlah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan macam
kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru
lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya
olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah
mengecap kebaikan Tuhan."
Banyak dari orang‑orang
percaya kepada siapa Petrus mengalamatkan surat‑suratnya, sedang hidup di
tengah‑tengah orang‑orang kafir, dan banyak yang bergantung agar tinggal benar
dalam panggilan yang tinggi dari pekerjaan mereka. Rasul itu mendesakkan kepada
mereka kesempatan mereka sebagai pengikut‑pengikut Kristus Yesus. "Tetapi
kamulah bangsa yang terpilih," ia menulis, "imamat yang rajani,
bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan
perbuatan‑perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari
kegelapan kepada terang‑Nya yang ajaib; kamu, yang dulu bukan umat Allah,
tetapi yang sekarang telah menjadi umat‑Nya, yang dulu tidak dikasihani tetapi
yang sekarang telah beroleh belas kasihan.
"Saudara‑saudaraku
yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu
menjauhkan diri dari keinginan‑keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.
Milikilah cara hidup yang baik di tengah‑tengah bangsa‑bangsa bukan Yahudi,
supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat
melihatnya dari perbuatan‑perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari
Ia melawat mereka."
Rasul itu dengan jelas
menggarisbawahi sikap yang harus dipertahankan oleh orang‑orang percaya terhadap
pemerintahan sipil; "Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga
manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun
kepada wali‑wali yang diutusnya untuk menghukum orang‑orang yang berbuat jahat
dan menghormati orang‑orang yang berbuat baik. Sebab inilah kehendak Allah;
yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang‑orang yang
bodoh. Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang
menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan‑kejahatan mereka,
tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara‑saudaramu,
takutlah akan Allah, hormatilah raja!"
Mereka yang menjadi hamba‑hamba
dinasihatkan untuk tinggal setia kepada tuannya "dengan penuh ketakutan
kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang
bengis. Sebab adalah kasih karunia," rasul itu menjelaskan, "jika
seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak
harus ia tanggung. Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan
karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu
harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah
kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah
meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak‑Nya. Ia tidak berbuat
dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut‑Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak
membalas dengan mencaci maki, ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi
Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah
memikul derita di dalam tubuh‑Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati
terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur‑bilur‑Nya kamu sembuh. Sebab
dulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada
gembala dan pemelihara jiwamu."
Rasul itu menasihati wanita‑wanita
dalam iman supaya suci dalam percakapan dan sederhana dalam berpakaian.
"Perhiasanmu," ia menasihatkan, "janganlah secara lahiriah,
yaitu dengan mengepang‑ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan
mengenakan pakaian yang indah‑indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah
yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang
lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah."
Pelajaran itu berlaku untuk
orang percaya pada segala umur. "Dari buahnyalah kamu akan mengenal
mereka." Matius 7:20. Perhiasan di dalam dari suatu roh yang lemah lembut
dan pendiam tidak ternilai harganya. Dalam kehidupan seorang Kristen yang benar
perhiasan secara luar selamanya sesuai dengan damai yang di dalam hati dan
kesucian. "Setiap orang yang mau mengikut Aku," Kristus berkata,
"ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."
Matius 16:24. Penyangkalan diri dan pengorbanan akan menandai kehidupan
Kristen. Bukti bahwa selera sudah diubahkan akan kelihatan pada pakaian semua
orang yang berjalan di lorong yang diarahkan untuk umat tebusan Tuhan.
Memang baik untuk mencintai
keindahan dan mengingininya; tetapi Allah menginginkan kita untuk mencintai dan
mencari lebih dulu keindahan yang tertinggi, yang tidak akan binasa. Tidak ada
perhiasan secara luar dapat dibandingkan dengan nilai dan keindahan "roh
yang lemah lembut dan tenteram," "lenan halus yang putih bersih"
(Wahyu 19:14), yang akan dipakai oleh segala orang suci di atas dunia ini.
Pakaian ini akan menjadikan mereka indah dan dicintai di dunia ini, dan sesudah
itu akan menjadi lencana yang memperbolehkan masuk ke dalam istana Raja.
Janjinya adalah, "mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih,
karena mereka adalah layak untuk itu." Wahyu 3:4.
Memandang kepada khayal
nubuatan dengan waktu yang berbahaya ke dalam mana sidang Kristus sedang
berada, rasul itu menasihati orang‑orang percaya untuk teguh menghadapi ujian
dan penderitaan, "Saudara‑saudara yang kekasih," ia menulis,
"janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu api
siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian."
Ujian adalah sebagian dari
pendidikan yang diberikan dalam sekolah Kristus, untuk menyucikan anak‑anak
Allah dari kotoran keduniawian. Adalah sebab Allah memimpin anak‑anak‑Nya
sehingga pengalaman‑pengalaman yang berat datang kepada mereka. Ujian dan
halangan adalah cara yang dipilih Allah untuk mendisiplin, dan cara yang
ditentukan‑Nya bagi kemajuan. Ia yang membaca hati manusia mengetahui kelemahan
mereka lebih baik daripada mereka sendiri mengetahuinya. Ia melihat bahwa
beberapa orang mempunyai kecakapan, yang jika dijalankan dengan betul, dapat
dipergunakan untuk memajukan pekerjaan‑Nya. Dalam kebijaksanaan‑Nya Ia membawa
jiwa‑jiwa ini ke dalam kedudukan yang berbeda‑beda dan kesempatan yang beraneka
ragam, supaya mereka boleh mengetahui kesalahan‑kesalahan yang tersembunyi dari
pengetahuan mereka sendiri. Ia memberikan kepada mereka kesempatan untuk
mengalahkan kesalahan‑kesalahan ini dan untuk melayakkan diri sendiri bagi
pekerjaan. Sering ia mengizinkan api kesusahan untuk menyala, supaya mereka
dapat disucikan.
Penjagaan Allah untuk
warisan‑Nya tidak pernah berhenti. Ia tidak membiarkan kesusahan menimpa anak‑anak‑Nya,
tetapi sebagai sesuatu yang berfaedah untuk masa sekarang mereka dan kebaikan
yang kekal. Ia akan menyucikan sidang‑Nya, sebagaimana Kristus menyucikan bait
suci selama pelayanan‑Nya di atas dunia. Segala perkara yang didatangkan‑Nya ke
atas umat‑Nya dalam ujian dan kesusahan datang supaya mereka dapat memperoleh
kesucian yang lebih mendalam dan kekuatan yang lebih besar untuk memajukan
kemenangan salib.
Ada suatu saat pada
pengalaman Petrus bila ia tidak rela melihat salib dalam pekerjaan Kristus.
Bila Juruselamat memberitahukan kepada murid‑murid‑Nya penderitaan dan kematian‑Nya
yang akan datang, Petrus berseru, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal
itu! Hal itu sekali‑kali takkan menimpa Engkau." Matius 16:22. Sayang akan
diri sendiri, yang mundur dari persahabatannya dengan Kristus dalam
penderitaan, mendorong Petrus untuk memberikan teguran. Hal itu menjadi suatu
pelajaran yang pahit kepada murid itu, dan sesuatu yang dipelajarinya tetapi
lambat, bahwa jalan Kristus di dunia ini terletak melalui siksaan dan
kerendahan. Tetapi dalam kehangatan api penyucian ia harus mempelajari
pelajaran itu. Sekarang, bila kegiatannya pada satu saat sekarang harus
terkulai karena beban tahun‑tahun dan pekerjaan, ia dapat menulis:
"Saudara‑saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan
yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah‑olah ada sesuatu yang luar biasa
terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu
dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan
bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan‑Nya."
Mengamanatkan tua‑tua
sidang mengenai tanggung jawab mereka sebagai pembantu gembala dari kawanan
domba Kristus, rasul itu menulis: "Gembalakanlah kawanan domba Allah yang
ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak
Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.
Janganlah kamu berbuat seolah‑olah kamu mau memerintah atas mereka yang
dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba
itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota
kemuliaan yang tidak dapat layu."
Mereka yang menempati
kedudukan sebagai pembantu gembala harus melakukan penjagaan yang setia kepada
kawanan domba Tuhan. Hal ini bukanlah kewaspadaan yang angkuh, tetapi sesuatu
yang cenderung untuk memberanikan dan menguatkan dan mengangkat derajat.
Kependetaan berarti lebih daripada berkhotbah; itu berarti pekerjaan yang
sungguh‑sungguh dan secara pribadi. Sidang Tuhan di dunia ini terdiri dari pria
dan wanita yang bersalah, yang memerlukan kesabaran dan usaha yang tidak
mengenal jerih lelah supaya mereka dapat dilatih dan didisiplin untuk pekerjaan
dengan penerimaan dalam hidup ini, dan dalam hidup yang akan datang untuk
dimahkotai dengan kemuliaan dan kebakaan. Pendeta‑pendeta diperlukan--gembala‑gembala
yang setia--yang tidak akan membujuk rayu umat Allah, atau memperlakukan mereka
dengan kasar, tetapi yang akan memberi makan kepada mereka dengan roti
kehidupan orang‑orang yang dalam kehidupan mereka merasa setiap hari kuasa yang
mengubahkan dari Roh Kudus dan kasih yang penuh pengharapan yang menguatkan dan
tidak mementingkan diri terhadap siapa mereka bekerja.
Ada pekerjaan yang
bijaksana untuk pembantu gembala ini lakukan sementara ia dipanggil untuk
menemui pengasingan, kepahitan, iri hati, dan kecemburuan di dalam sidang, dan
ia perlu bekerja dalam roh Kristus untuk membereskan persoalan‑persoalan. Amaran‑amaran
diberikan dengan setia, dosa‑dosa dipersalahkan, kesalahan‑kesalahan dijadikan
benar, bukan saja oleh pekerjaan pendeta di mimbar, tetapi oleh pekerjaan
pribadi. Hati yang suka melawan dapat mengecualikan pekabaran itu, dan hamba
Allah dapat diadili salah dan dikritik. Biarlah ia ingat bahwa "hikmat
yang dari atas adalah pertama‑tama murni, selanjutnya pendamai, peramah,
penurut, penuh belas kasihan dan buah‑buah yang baik, tidak memihak dan tidak
munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk
mereka yang mengadakan damai." Yakobus 3:17, 18.
Pekerjaan pelayan Injil
adalah untuk "menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang
telah berabad‑abad tersembunyi dalam Allah." Efesus 3:9. Jika seorang
memasuki pekerjaan ini memilih bagian yang paling kurang mengorbankan diri,
puas dengan berkhotbah saja, dan meninggalkan pekerjaan pelayanan pribadi untuk
orang lain, pekerjaannya tidak akan diterima oleh Allah. Jiwa‑jiwa untuk siapa
Kristus telah mati sedang binasa karena kekurangan pekerjaan pribadi yang
tertuntun baik; dan ia yang telah salah mengerti akan panggilannya sesudah
memasuki pekerjaan itu, tidak rela untuk melakukan pekerjaan pribadi yang
dituntut untuk menjaga kawanan dombanya.
Roh gembala yang benar
adalah melupakan diri sendiri. Ia melupakan dirinya sendiri supaya ia boleh
melakukan pekerjaan Allah. Oleh mengkhotbahkan sabda itu dan oleh pelayanan
pribadi di rumah orang banyak, ia mempelajari keperluan mereka, kesusahan
mereka, ujian mereka; dan, bekerja sama dengan Pembawa Beban yang besar itu, ia
sama‑sama memikul kesusahan mereka, menghiburkan malapetaka mereka, memuaskan
jiwa mereka yang lapar, dan memenangkan hati mereka kepada Allah dalam
pekerjaan ini pelayan ini disertai oleh malaikat‑malaikat surga, dan dia
sendiri dinasihati dan diterangi dalam kebenaran yang menjadikan bijak kepada
keselamatan.
Dalam hubungan dengan
petunjuknya kepada mereka yang mempunyai kedudukan yang bertanggung jawab dalam
sidang, rasul itu menggariskan beberapa prinsip umum yang akan diikuti oleh
mereka yang dihubungkan dalam persekutuan sidang. Anggota‑anggota yang muda
dari kawanan domba Tuhan dipaksa untuk mengikuti teladan pemimpin‑pemimpin
mereka dalam kebiasaan kerendahan hati seperti Kristus: "Demikian jugalah
kamu, hai orang‑orang muda, tunduklah kepada orang‑orang yang tua. Dan kamu
semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: Allah menentang
orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Karena itu
rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan‑Nya
pada waktunya; Serahkanlah kekhawatiranmu kepada‑Nya, sebab Ia yang memelihara
kamu. Sadarlah dan berjaga‑jagalah! Lawanmu si Iblis, berjalan keliling sama
seperti singa yang mengaum‑aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
Lawanlah dia dengan iman yang teguh."
Dengan demikian Petrus
menulis kepada orang‑orang percaya pada masa ujian yang khas untuk sidang.
Banyak orang telah mengambil bagian dari penderitaan Kristus, dan tidak lama
kemudian sidang mengalami masa ujian yang hebat. Dalam beberapa tahun yang
singkat kebanyakan dari mereka yang telah berdiri sebagai guru‑guru dan
pemimpin‑pemimpin dalam sidang menyerahkan kehidupan mereka untuk Injil. Tidak
lama kemudian serigala‑serigala yang menyedihkan masuk, tidak menyayangkan
kawanan domba. Tetapi tidak satu pun dari perkara‑perkara ini membawa putus asa
kepada mereka yang pengharapannya dipusatkan kepada Kristus. Dengan perkataan
keberanian dan sorak sorai Petrus mengalihkan pikiran orang‑orang percaya dari
ujian yang sekarang kepada penderitaan yang akan datang kepada "bagian
yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat
layu." "Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil
kamu dalam Kristus kepada kemuliaan‑Nya yang kekal, akan melengkapi,
meneguhkan, menguatkan dan mengukuhkan kamu, sesudah kamu menderita seketika
lamanya. Ialah yang empunya kuasa sampai selama‑lamanya! Amin."
No comments:
Post a Comment