Tuesday, July 17, 2012

55 - Diubahkan Oleh Anugerah

 
Dalam kehidupan murid Yohanes penyucian yang benar menjadi teladan. Selama tahun‑tahun pergaulannya yang erat dengan Kristus, sudah sering ia diamarkan dan diberi peringatan oleh Juruselamat; dan amaran ini diterimanya. Sementara tabiat guru Ilahi itu dinyatakan kepadanya, Yohanes melihat kekurangan‑kekurangannya sendiri, dan merendahkan diri oleh wahyu itu. Dari hari ke hari, berlawanan dengan rohnya sendiri yang keras, ia melihat kelemahlembutan dan kesabaran Yesus, dan mendengar pelajaran‑pelajarannya tentang kerendahan hati dan kesabaran. Dari hari ke hari hatinya tertarik kepada Kristus, sampai ia melupakan dirinya sendiri karena kasih akan Tuhannya. Kuasa dan kelemahlembutan, keagungan dan kerendahan, kekuatan dan kesabaran, yang dilihatnya dalam kehidupan sehari‑hari dari Anak Allah, memenuhi jiwanya dengan kekaguman. Ia menyerahkan perangainya yang pemarah dan bercita‑cita itu kepada kuasa Kristus yang mengubahkan, dan kasih Ilahi mengerjakan di dalamnya suatu perubahan tabiat.
Dalam perbedaan yang mencolok kepada penyucian yang dikerjakan dalam kehidupan Yohanes adalah pengalaman teman sesama murid, Yudas. Sebagai rekannya, Yudas mengaku sebagai seorang murid Kristus, tetapi ia hanya memiliki suatu bentuk peribadatan. Ia merasakan keindahan tabiat Kristus; dan sering, sedang ia mendengarkan perkataan Juruselamat, keyakinan datang kepadanya, tetapi ia tidak mau merendahkan hatinya atau mengaku dosa‑dosanya. Oleh menolak pengaruh Ilahi ia tidak menghormati Tuhannya yang pura‑pura dikasihinya. Yohanes memerangi dengan sungguh‑sungguh terhadap kesalahan‑kesalahannya; tetapi Yudas melanggar kata hatinya dan menyerah kepada pencobaan, mengikatkan lebih ketat pada dirinya sendiri kebiasaan‑kebiasaannya yang jahat. Kebiasaan kebenaran yang diajarkan oleh Kristus berbeda dengan keinginan dan maksudnya, dan ia tidak dapat membawa dirinya sendiri untuk menyerah kepada buah pikirannya supaya menerima akal budi dari surga. Gantinya berjalan di dalam terang, ia memilih berjalan di dalam kegelapan. Keinginan yang jahat, loba, keinginan untuk membalas dendam, pikiran‑pikiran yang gelap dan bersungut, dipelihara dalam hati sampai Setan mengendalikan dia sepenuhnya.
Yohanes dan Yudas adalah wakil dari mereka yang mengaku pengikut‑pengikut Kristus. Kedua murid ini mempunyai kesempatan yang sama untuk mempelajari dan mengikuti contoh Ilahi. Keduanya berhubungan erat dengan Yesus dan mendapat kesempatan untuk mendengarkan ajaran‑Nya. Masing‑masing mempunyai kekurangan tabiat yang serius; dan masing‑masing mempunyai jalan masuk kepada rahmat Ilahi yang mengubahkan tabiat. Tetapi sementara seorang dalam kerendahan hati sedang belajar tentang Yesus, yang lain menyatakan bahwa ia bukannya pelaku perkataan itu, tetapi pendengar saja. Seorang, yang mati bagi dirinya sendiri setiap hari dan mengalahkan dosa, disucikan oleh kebenaran; yang lain, menolak kuasa anugerah yang mengubahkan dan mengikuti kehendaknya sendiri, terbawa ke dalam perhambaan Setan.

Perubahan tabiat seperti itu sebagaimana yang kelihatan dalam kehidupan Yohanes adalah selamanya sebagai hasil persekutuan dengan Kristus. Boleh jadi ada kekurangan‑kekurangan yang nyata dalam tabiat seseorang, tetapi bila ia menjadi murid Kristus yang sejati, kuasa anugerah Ilahi mengubahkan dan menyucikan dia. Memandang seperti dalam kaca kemuliaan Tuhan, ia diubahkan dari kemuliaan kepada kemuliaan, sampai ia menjadi seperti Dia yang disembahnya.
Yohanes adalah guru kesucian, dan dalam suratnya kepada sidang ia membentangkan peraturan‑peraturan yang tidak salah untuk tingkah laku orang‑orang Kristen. "Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada‑Nya," ia menulis, "menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci." "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." 1 Yohanes 3:3; 2:6. Ia mengajarkan bahwa orang Kristen harus suci dalam hati dan kehidupan. Ia tidak pernah merasa puas dengan pekerjaan yang kosong. Sebagaimana Allah suci pada lingkungan‑Nya, demikian juga manusia yang sudah jatuh, oleh iman kepada Kristus, harus menjadi suci pada lingkungannya.
"Karena inilah kehendak Allah," rasul Paulus menulis, "pengudusanmu." 1 Tesalonika 4:3. Pengudusan sidang adalah tujuan Allah dalam segala perlakuan‑Nya terhadap umat‑Nya. Ia telah memilih mereka dari kekekalan, supaya mereka boleh menjadi suci. Ia telah mengaruniakan Anak‑Nya untuk mati bagi mereka, supaya mereka boleh disucikan melalui penurutan kepada hukum, terlepas dari segala kehampaan diri sendiri. Dari mereka ia menuntut suatu pekerjaan pribadi, suatu penyerahan pribadi. Allah dapat dihormati oleh mereka yang mengaku percaya kepada‑Nya, hanya bila mereka disesuaikan dengan peta‑Nya dan dikendalikan oleh Roh‑Nya. Dengan demikian, sebagaimana saksi‑saksi bagi Juruselamat, mereka boleh memberitahukan apa yang dapat diperbuat oleh anugerah Ilahi bagi mereka.
Penyucian yang benar datang oleh bekerjanya prinsip kasih. "Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia." 1 Yohanes 4:16. Kehidupan daripadanya dalam hati siapa Kristus tinggal, akan menyatakan kesalehan yang praktis. Tabiat akan disucikan, diangkat, dimuliakan, dan diagungkan. Doktrin yang murni akan bercampur dengan pekerjaan kebenaran; ajaran‑ajaran surga akan bercampur dengan kebiasaan‑kebiasaan yang suci.
Mereka yang akan mendapat berkat penyucian harus lebih dulu mempelajari arti pengorbanan diri. Salib Kristus adalah sokoguru di atas mana bergantung "jauh lebih besar daripada penderitaan kami." "Setiap orang yang mau mengikut Aku," Kristus berkata, "ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku," 2 Korintus 4:17; Matius 16:24. Adalah keharuman kasih kita untuk sesama manusia kita yang menyatakan kasih untuk Allah. Adalah kesabaran dalam pelayanan yang membawa perhentian kepada jiwa. Adalah dengan kerendahan hati, rajin, setia, kerja keras di mana kesejahteraan Israel dipromosikan. Allah mengangkat dan menguatkan seseorang yang ingin mengikuti jejak Kristus.

Penyucian bukanlah pekerjaan sesaat, sejam, sehari, melainkan seumur hidup. Hal itu bukannya didapat oleh perasaan yang berbahagia, melainkan adalah akibat terus‑menerus mati dalam dosa, dan terus‑menerus hidup bagi Kristus. Kesalahan‑kesalahan tak dapat dibenarkan atau reformasi tak dapat dikerjakan dalam tabiat oleh usaha‑usaha yang lemah dan asal‑asal saja. Hanyalah oleh usaha yang lama dan tabah, disiplin yang ketat, dan pergumulan yang keras, kita akan menang. Kita tidak mengetahui suatu hari berapa keras pergumulan kita berikutnya. Selama Setan memerintah, kita akan mempunyai diri sendiri untuk ditaklukkan, dosa‑dosa yang menyerang untuk diatasi; selama hidup itu akan bertahan, tidak akan ada tempat berhenti, tidak ada tempat yang dapat kita capai dan mengatakan, saya telah memperoleh dengan sepenuhnya. Penyucian adalah akibat penurutan seumur hidup.
Tidak ada satu dari rasul‑rasul dan nabi‑nabi yang pernah dinyatakan tanpa dosa. Manusia yang telah hidup paling dekat kepada Allah, manusia yang mau mengorbankan diri sendiri daripada melakukan dengan sengaja perbuatan yang salah, manusia yang telah dihormati oleh Allah dengan terang dan kuasa Ilahi, telah mengakui keadaan mereka yang berdosa. Mereka tidak mempunyai kepercayaan kepada daging, tidak menuntut kebenaran untuk mereka sendiri, tetapi telah percaya sepenuhnya kepada kebenaran Kristus.
Demikianlah dengan semua orang yang memandang Kristus. Lebih dekat kita datang kepada Yesus, dan lebih jelas kita melihat kesucian tabiat‑Nya, lebih jelas pula kita akan melihat kebobrokan dosa, dan makin berkuranglah kita untuk meninggikan diri sendiri. Akan ada pencapaian yang terus‑menerus akan jiwa di hadapan Allah, suatu pengakuan yang terus‑menerus, sungguh‑sungguh, dan menyayat hati akan dosa dan merendahkan hati di hadapan‑Nya. Pada setiap langkah maju dalam pengalaman Kristen pertobatan kita akan mendalam. Kita akan mengetahui bahwa kecukupan kita adalah dalam Kristus saja dan kita akan menjadikan pengakuan rasul itu sebagai pengakuan kita sendiri: "Sebab itu aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik." "Tetapi aku sekali‑kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia." Roma 7:18; Galatia 6:14.
Biarlah malaikat‑malaikat yang suci menulis sejarah pergumulan dan pertentangan yang suci dari umat Allah; biarlah mereka mencatat doa dan air mata mereka; tetapi biarlah Allah jangan dihinakan oleh pernyataan dari bibir manusia, "Saya tidak berdosa; saya suci." Bibir yang disucikan tidak pernah akan mengeluarkan perkataan sombong seperti itu.
Rasul Paulus telah dibawa ke langit yang ketiga dan telah melihat dan mendengar perkara‑perkara yang tidak dapat diucapkan, dan namun sebutannya yang sederhana ialah: "Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal itu atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya." Filipi 3:12. Biarlah malaikat‑malaikat di surga menulis kemenangan Paulus dalam memerangi pergumulan iman yang baik. Biarlah surga bersuka dalam langkahnya yang tetap menuju ke surga, dan bahwa memelihara hadiah dalam penglihatan, ia menganggap setiap pertimbangan hampa adanya. Malaikat‑malaikat bersuka‑suka menceritakan pengalamannya, tetapi Paulus tidak membanggakan hasil yang dicapainya. Sikap Paulus adalah sikap yang setiap pengikut Kristus harus miliki sementara ia mendesakkan jalannya ke muka dalam pergumulan untuk mahkota yang abadi.

Biarlah masing‑masing yang merasa cenderung untuk menjadikan pernyataan yang tinggi dari kesucian melihat ke dalam cermin hukum Allah. Sementara mereka melihat tuntutan‑tuntutannya yang jauh menjangkau, dan mengerti pekerjaannya sebagai ketajaman pikiran dan isi hati, mereka tidak akan membanggakan hal tidak berdosa. "Jika kita," kata Yohanes, tidak memisahkan dirinya dari saudara‑saudaranya, "berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita." "Jika kita berkata, bahwa kita ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman‑Nya tidak ada di dalam kita." "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga ia mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." 1 Yohanes 1:8, 10, 9.
Mereka yang pura‑pura suci, yang menyatakan bahwa mereka sepenuhnya adalah milik Tuhan, yang menuntut hak kepada janji‑janji Allah, sementara menolak untuk memberikan penurutan kepada hukum‑hukum‑Nya. Pelanggar‑pelanggar hukum ini menuntut segala sesuatu yang dijanjikan kepada anak‑anak Allah; tetapi prasangka ini adalah pada bagian mereka, karena Yohanes menceritakan kepada kita bahwa kasih yang benar bagi Allah akan dinyatakan dalam penurutan kepada segala hukum‑Nya. Tidaklah cukup untuk percaya teori kebenaran, untuk menyatakan iman kepada Kristus, untuk percaya bahwa Yesus bukanlah penipu, dan bahwa agama dari Kitab Suci bukanlah reka‑rekaan yang licik. "Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia tetapi tidak menuruti perintah‑Nya," Yohanes menulis, "ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman‑Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah. Dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia." "Barangsiapa menuruti segala perintah‑Nya, ia diam di dalam Allah, dan Allah di dalam Dia." 1 Yohanes 2:4, 5; 3:24.
Yohanes tidak mengajarkan bahwa keselamatan itu harus didapat oleh penurutan; tetapi bahwa penurutan itu adalah buah iman dan kasih. "Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri‑Nya supaya Ia menghapuskan segala dosa," ia berkata, "dan di dalam Dia tidak ada dosa. Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia." 1 Yohanes 3:5, 6. Jika kita tinggal di dalam Kristus, dan kasih Allah tinggal dalam hati, perasaan kita, pikiran kita, perbuatan kita, akan selaras dengan kemauan Allah. Hati yang disucikan adalah sesuai dengan ajaran hukum Allah.
Ada banyak orang yang berusaha menurut hukum‑hukum Allah, mempunyai sedikit damai dan kesukaan. Kekurangan dalam pengalaman mereka ini adalah akibat suatu kegagalan untuk menggunakan iman. Mereka berjalan sebagaimana adanya di tanah yang bergaram, di suatu padang pasir yang kering. Mereka menuntut sedikit, bila mereka boleh menuntut banyak; karena janji‑janji Allah tidak terbatas. Orang yang demikian salah menggambarkan penyucian yang datang melalui penurutan akan kebenaran. Tuhan menghendaki semua anak‑anak‑Nya laki‑laki dan anak‑anak‑Nya perempuan gembira, damai, dan menurut. Dengan penggunaan iman orang percaya memiliki berkat‑berkat ini. Melalui iman, setiap cacat tabiat dapat dipenuhi, setiap kenajisan dibersihkan, setiap kesalahan diperbaiki, setiap keunggulan diperkembangkan.
Doa adalah alat kemajuan yang ditentukan oleh surga dalam pertentangan dengan dosa dan perkembangan tabiat Kristus. Pengaruh Ilahi sebagai jawab kepada doa iman akan melaksanakan dalam jiwa pemohon segala sesuatu yang dimintanya. Untuk keampunan dosa, untuk Roh Kudus, untuk tabiat yang menyerupai Kristus, untuk akal budi dan kekuatan untuk melakukan pekerjaan‑Nya, untuk sesuatu pemberian yang telah dijanjikan‑Nya, kita boleh minta; dan janjinya adalah, "Kamu akan menerima."

Adalah di atas gunung dengan Allah, Musa melihat contoh bangunan yang ajaib yang akan menjadi tempat kediaman kemuliaan‑Nya. Adalah di atas gunung dengan Allah--di tempat persekutuan yang tersembunyi--kita harus merenung‑renungkan cita‑cita‑Nya yang mulia bagi manusia. Dalam segala zaman, dengan perantaraan perhubungan dengan surga, Allah telah menyusun maksud‑Nya dengan anak‑anak‑Nya, oleh membukakan berangsur‑angsur kepada pikiran mereka doktrin‑doktrin tentang anugerah. Cara‑Nya memberikan kebenaran dilukiskan dalam perkataan, "Ia pasti muncul seperti fajar." Hosea 6:3. Ia yang menempatkan diri sendiri di mana Allah dalam menerangi dia, maju dari fajar yang samar‑samar kepada cahaya tengah hari yang sempurna.
Penyucian yang benar berarti kasih yang sempurna, penurutan yang sempurna, penyesuaian yang sempurna kepada kehendak Allah. Kita harus disucikan kepada Allah melalui penurutan kepada kebenaran. Kata hati kita harus dibersihkan dari pekerjaan‑pekerjaan yang mati untuk melayani Allah yang hidup. Kita belum sempurna; tetapi adalah kesempatan bagi kita untuk memutuskan keterlibatan diri sendiri dan dosa, dan untuk maju kepada kesempurnaan. Kemungkinan‑kemungkinan yang besar, pencapaian yang tinggi dan suci, diletakkan dalam jangkauan semua orang.
Alasan mengapa banyak orang di dalam dunia pada dewasa ini tidak mencapai kemajuan dalam kehidupan rohani adalah sebab mereka menginterpretasi kemauan Allah justru seperti apa yang mereka kehendaki. Sementara mengikuti kemauan mereka sendiri, mereka membanggakan diri sendiri bahwa mereka menyesuaikan diri dengan kehendak Allah. Hal ini tidak mempunyai pertentangan dengan dirinya sendiri. Ada orang‑orang lain yang untuk sementara waktu berhasil dalam pergumulan terhadap keinginan diri sendiri untuk kepelesiran dan kesenangan. Mereka tulus hati dan sungguh‑sungguh, tetapi menjadi lelah oleh usaha yang berlarut‑larut, dari kematian setiap hari, dari huru‑hara yang tak henti‑hentinya. Kelambanan tampaknya menarik, kematian bagi diri sendiri menjijikkan; dan mereka menutup mata mereka yang mengantuk dan jatuh ke dalam pencobaan gantinya menentangnya.
Petunjuk‑petunjuk yang diberikan dalam firman Allah tidak memberi tempat bagi kompromi dengan kejahatan. Anak Allah dinyatakan supaya Ia dapat menarik semua orang datang kepada‑Nya. Ia datang bukannya untuk menidurkan dunia ini, tetapi untuk menunjukkan jalan yang sempit dalam mana semua orang harus bepergian akhirnya mencapai pintu gerbang Kota Allah. Anak‑anak‑Nya harus mengikuti ke mana Ia telah memimpin jalan itu; pada pengorbanan kesenangan dan penurutan hawa nafsu apa pun, pada kerugian pekerjaan atau penderitaan apa pun, mereka harus mempertahankan suatu pertempuran yang tetap dengan diri sendiri.
Pujian yang paling besar yang manusia dapat bawa kepada Allah adalah untuk menjadi saluran yang berserah melalui siapa Ia dapat bekerja. Waktu dengan cepat berlalu menuju kekekalan. Biarlah kita jangan menahan dari Allah sesuatu yang menjadi milik‑Nya sendiri. Biarlah kita jangan menolak Dia, meskipun tak dapat diberikan dengan jasa, tidak dapat disangkal tanpa kehancuran. Ia meminta dengan segenap hati; berikanlah itu kepada‑Nya; itulah kepunyaan‑Nya, oleh penciptaan dan oleh penebusan. Ia meminta kecerdasanmu; berikanlah itu kepada‑Nya; itu adalah milik‑Nya. Ia meminta uangmu; berikanlah itu kepada‑Nya; itu adalah milik‑Nya. "Bahwa kamu bukan milik kamu sendiri. Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar." 1 Korintus 6:19, 20, Allah menuntut penghormatan dari jiwa yang disucikan, yang telah menyediakan dirinya sendiri, oleh penggunaan iman yang bekerja oleh kasih, untuk melayani Dia. Ia mengangkat di hadapan kita cita‑cita yang paling tinggi, sedangkan kesempurnaan. Ia meminta dari kita untuk sepenuhnya dan dengan sempurnanya bagi Dia di dunia ini sebagaimana Ia ada bagi kita di hadirat Allah.

"Karena inilah kehendak Allah" untuk engkau, "pengudusanmu." 1 Tesalonika 4:3. Adakah itu kehendakmu juga? Dosa‑dosamu boleh menjadi seperti gunung di hadapanmu; tetapi bila engkau merendahkan hatimu dan mengaku dosa‑dosamu, percaya atas jasa Juruselamat yang sudah disalibkan dan sudah bangkit, Ia akan mengampuni dan akan membersihkan kamu dari segala kejahatan. Allah menuntut dari padamu seluruh penyesuaian kepada hukum‑Nya. Hukum ini adalah gema dari suara‑Nya yang mengatakan kepadamu, lebih suci, ya masih lebih suci. Merindukan kepenuhan anugerah Kristus. Biarlah hatimu dipenuhi dengan kerinduan yang hebat untuk kebenaran‑Nya, pekerjaan mana firman Allah jelaskan adalah damai, dan pengaruh ketenangannya dan jaminan untuk selama‑lamanya.
Sementara jiwamu merindukan Allah, engkau akan dapati lebih dan lebih lagi dari kekayaan anugerah‑Nya yang tak terselidiki itu. Sementara engkau merenung‑renungkan kekayaan ini engkau akan memilikinya dan akan menyatakan jasa‑jasa dari pengorbanan Kristus, perlindungan kebenaran‑Nya, kepenuhan akal budi‑Nya, dan kuasa‑Nya untuk memperkenalkan engkau di hadapan Bapa "tak bercela, dan tak bernoda." 2 Petrus 3:14.

No comments:

Post a Comment