Dalam pengharapan untuk
menekankan dengan jelas ke atas pikiran orang‑orang percaya di Korintus penting
pengendalian diri yang ketat, dan semangat yang tak kunjung padam dalam
pelayanan Kristus, Paulus di dalam suratnya kepada mereka mengadakan
perbandingan yang mencolok antara peperangan orang Kristen dan perlombaan lari yang
diadakan sewaktu‑waktu dekat Korintus. Dari segala permainan yang didirikan di
antara orang‑orang Yunani dan orang‑orang Roma, perlombaan lari adalah yang
paling kuno dan dianggap paling tinggi. Perlombaan itu disaksikan oleh raja‑raja,
bangsawan‑bangsawan, dan negarawan‑negarawan. Orang muda yang berpangkat dan
kaya mengambil bagian daripadanya dan tidak mundur dari segala usaha atau
disiplin yang perlu untuk memperoleh hadiah.
Perlombaan‑perlombaan
diatur dengan peraturan yang ketat, dari mana tidak ada naik banding. Mereka
yang menginginkan namanya dimasukkan sebagai peserta untuk mendapat hadiah
harus lebih dulu mengalami ujian pendahuluan yang ketat. Kegemaran dari nafsu
makan yang berbahaya atau pemanjaan yang lain yang akan menurunkan kuasa pikiran
dan fisik, dilarang keras. Seseorang yang mempunyai pengharapan kemajuan dalam
ujian kekuatan dan kecepatan ini, otot‑otot harus kuat dan luwes, dan urat
saraf harus dikontrol dengan baik. Setiap gerakan haruslah pasti, setiap
langkah cepat dan tidak menyimpang; kuasa‑kuasa badani harus mencapai tujuan
yang tertinggi.
(Bab ini berdasarkan surat
pertama ke Korintus.)
Sementara orang‑orang yang
bertanding dalam perlombaan mengadakan penampilan mereka di hadapan orang
banyak yang menyaksikan, nama mereka diumumkan, dan peraturan pertandingan
diberitahukan dengan jelas. Kemudian mereka semua berangkat bersama‑sama,
perhatian yang tertentu dari para penonton mengilhami mereka dengan suatu tekad
untuk menang. Wasit duduk dekat gawang, supaya mereka boleh memperhatikan
pertandingan itu dari permulaan sampai kepada akhirnya dan memberikan hadiah
kepada pemenang yang benar. Jika seorang mencapai tujuan lebih dulu dengan cara
yang tidak sah ia tidak diberi hadiah.
Dalam pertandingan ini
risiko yang besar dihadapi. Ada orang yang tidak pernah sembuh dari ketegangan
jasmani yang hebat. Tidaklah luar biasa bagi seorang untuk jatuh di jalan,
berdarah di mulut dan di hidung, dan kadang‑kadang seorang yang bertanding akan
jatuh mati bila hampir mendapat hadiah. Tetapi kemungkinan menderita seumur
hidup atau mati tidak dipandang sebagai suatu risiko terlalu besar untuk
kepentingan kehormatan yang dikaruniakan kepada seorang yang berhasil dalam
pertandingan.
Sementara pemenang mencapai
tujuan, tepuk tangan orang banyak yang menonton membelah angkasa dan
membangkitkan gema dari bukit‑bukit dan gunung‑gunung yang mengelilinginya.
Dalam pandangan penuh penonton‑penonton, wasit mempersembahkan kepadanya
lambang‑lambang kemenangan, suatu mahkota kemenangan dan suatu pelepah palem
untuk diserahkan ke tangan kanannya. Kepujiannya dinyanyikan di seluruh negeri
itu; orang tuanya menerima bagian kehormatan mereka; sedangkan kota di mana ia
tinggal sangat dihormati karena telah menghasilkan seorang olahragawan yang
begitu besar.
Dalam mengutip tentang
perlombaan‑perlombaan ini sebagai suatu lambang peperangan Kristen, Paulus
menekankan persiapan yang perlu untuk kemajuan orang‑orang yang bertanding
dalam perlombaan, disiplin pendahuluan, makanan yang bebas dari minuman keras, dan
perlunya pertarakan. "Tiap‑tiap orang yang turut mengambil bagian dalam
pertandingan," ia menyatakan, "menguasai dirinya dalam segala
hal." Orang‑orang yang berlari mengesampingkan setiap pemanjaan yang
cenderung melemahkan kuasa badani, dengan disiplin yang keras dan terus‑menerus
melatih otot‑otot mereka untuk menjadi kuat dan tahan lama, supaya bila hari
pertandingan akan tiba, mereka boleh dikenakan beban yang paling berat kepada
kekuatan mereka. Betapa lebih penting lagi orang Kristen, yang minatnya yang
kekal dipertaruhkan, membawa selera dan hawa nafsu kepada penaklukan
pertimbangan dan kehendak Allah! Tidak pernah ia mengizinkan perhatiannya
dipisahkan oleh kepelesiran, kemewahan atau kesenangan. Segala tabiat dan hawa
nafsunya harus dibawa ke dalam disiplin yang paling keras. Pertimbangan,
diterangi oleh ajaran sabda Allah, dan dipimpin oleh Roh Kudus, harus memegang
pengendalian hawa nafsu.
Dan sesudah hal ini
dilakukan, orang Kristen haruslah berusaha sedapat mungkin supaya memperoleh
kemenangan. Dalam perlombaan‑perlombaan orang Korintus langkah‑langkah terakhir
dari para peserta perlombaan diusahakan agar supaya mencapai kecepatan yang
tidak berkurang. Demikian juga dengan orang Kristen, sementara ia menghampiri
tujuan, akan maju terus dengan semangat dan tekad yang lebih besar lagi
daripada permulaan perjalanannya.
Paulus mengemukakan
perbandingan antara rangkaian bunga yang diterima oleh pemenang dalam
perlombaan lari, dan mahkota yang tidak akan mati yang akan diberikan kepadanya
yang berlari dengan kemenangan dalam perlombaan Kristen. "Mereka berbuat
demikian," ia menjelaskan, "untuk memperoleh suatu mahkota yang fana,
tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi." Untuk memenangkan
hadiah yang akan binasa, pelari‑pelari Yunani tidak menghindarkan kerja keras
atau disiplin. Kita bergumul untuk hadiah yang lebih berharga, yaitu mahkota
hidup yang kekal. Betapa lebih teliti lagi seharusnya usaha kita, berapa banyak
lagi kerinduan pengorbanan dan penyangkalan diri kita!
Dalam suratan kepada orang
Ibrani ditentukan maksud sepenuh hati yang harus menjadi ciri perlombaan orang
Kristen untuk hidup kekal: ". . . Marilah kita meninggalkan semua beban
dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam
perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata
yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman
kita kepada kesempurnaan.... " Ibrani 12:1, 2. Cemburu, kebencian, sangka‑sangka
jahat, berbicara yang jahat, loba, inilah beban yang orang Kristen harus
tinggalkan, kalau ia mau berlari dengan berhasil dalam perlombaan yang kekal.
Setiap kebiasaan yang memimpin kepada dosa dan membawa malu kepada Kristus
harus disingkirkan, apa pun pengorbanannya. Berkat surga tidak dapat menyertai
seseorang yang melanggar prinsip‑prinsip kebenaran yang kekal. Satu dosa yang
disimpan dalam hati sudah cukup untuk merendahkan tabiat dan menyesatkan orang
lain.
"Dan jika tanganmu
menyesatkan engkau," Juruselamat mengatakan, "penggallah, karena
lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung daripada dengan
utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tidak
terpadamkan. Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik
engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu
dicampakkan ke dalam neraka." Markus 9:43, 45. Jika hendak menyelamatkan
tubuh dari kematian, kaki dan tangan harus dipotong, atau mata bila perlu
dicungkil, betapa seharusnya kesungguhan orang Kristen membuang dosa, yang
membawa kematian kepada jiwa.
Para peserta pertandingan
pada zaman purba, telah tunduk kepada penyangkalan diri dan disiplin yang
keras, tidak mengetahui dengan pasti apakah beroleh kemenangan atau tidak:
Paulus berkata, "Tiadakah kamu mengetahui, bahwa mereka semua berlari
dalam perlombaan itu, tetapi hanya seorang yang menerima hadiah? Walaupun
keinginan mereka amat besar dan para pelari sungguh‑sungguh berjuang tetapi
hadiah hanya untuk seorang saja. Satu tangan hanya dapat menggenggam kalungan
bunga yang dirindukan. Beberapa orang boleh berusaha dengan segenap kuat
kuasanya untuk memperoleh hadiah, tetapi sementara mereka mengulurkan tangan
untuk mencapai hadiah itu, seketika itu juga orang lain telah mendahului
mereka, mungkin sudah menggenggam harta yang dirindukan itu.
Bukan demikian halnya
dengan orang Kristen. Tiada seorang pun yang menuruti syarat‑syarat itu akan
kecewa pada akhir perlombaan itu. Tidak ada seorang pun yang telah bersungguh‑sungguh
dan yang bertekun akan gagal untuk mencapai sukses. Perlombaan itu bukan hanya
untuk orang yang tangkas, atau cepat, atau bukan hanya peperangan untuk orang
kuat. Orang saleh yang lemah, demikian juga orang yang kuat, boleh memakai
mahkota kemuliaan yang kekal itu. Semua orang boleh mendapat kemenangan,
melalui kuasa karunia Ilahi, dengan membawa kehidupan mereka sesuai dengan
kehendak Kristus. Praktik dalam seluk‑beluk kehidupan meletakkan dasar dalam
prinsip‑prinsip firman Allah, terlalu sering dipandang tidak terlalu perlu,
suatu hal yang dianggap terlalu remeh untuk mendapat perhatian. Tetapi bila
dipandang dari segi persoalan itu, sebenarnya tidak ada sesuatu yang patut
dianggap remeh. Tiap‑tiap tingkah laku dapat menolong atau menghalangi dalam
skala yang menentukan pada kehidupan yang menang atau kalah. Upah diberikan
kepada mereka yang menang akan sebanding kepada kekuatan dan kesungguhan dalam
perjuangan yang mereka lakukan. Rasul
itu telah membandingkan dirinya dengan seorang yang sedang berlari dalam suatu
perlombaan, dikerahkan setiap urat saraf untuk memenangkan hadiah itu.
"Sebab itu aku bukan berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang
sembarangan saja memukul. Tetapi aku melihat tubuhku dan menguasainya
seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain jangan aku
sendiri ditolak." Bahwa dia bukan berlari tanpa tujuan atau secara
serampangan dalam perlombaan orang Kristen, Paulus menundukkan dirinya dalam
latihan yang keras. Kata‑kata itu berbunyi: "Aku melatih tubuhku,"
arti yang sesungguhnya ialah mengalahkan hawa nafsu, keinginan hati bahkan
disiplin yang kuat.
Paulus sendiri khawatir,
setelah memberitakan Injil kepada orang lain, kalau‑kalau dia sendiri harus
ditolak. Dia telah menyadari bahwa jika dia tidak mengamalkan dalam
kehidupannya prinsip‑prinsip apa yang dia percayai dan telah khotbahkan,
usahanya untuk menolong orang lain tidak membawa faedah bagi dia.
Percakapannya, pengaruhnya, penolakannya untuk tidak menyerah terhadap
memuaskan diri sendiri, harus pula ditunjukkan bahwa agamanya bukan sekadar
profesi, tetapi suatu hubungan yang hidup kepada Allah setiap hari. Satu tujuan
telah ditetapkan jauh sebelum di hadapannya, dan berusaha dengan sungguh‑sungguh
untuk mencapainya, "yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan
kepercayaan." Filipi 3:9.
Paulus menyadari bahwa
peperangan melawan kejahatan belumlah tamat selama kehidupan belum berakhir.
Sesungguhnya dia telah mengetahui perlunya menjaga diri dengan ketat, sehingga
jangan keinginan‑keinginan duniawi ini menaklukkan semangat kerohanian. Dengan
segala kuat kuasanya dia teruskan untuk mengalahkan kecenderungan bawaan....
Pernah ditentukan di hadapannya idaman yang harus dicapai, dan dia berusaha
dengan sekuat tenaganya untuk mencapai idaman itu dengan rela menurut hukum
Allah. Kata‑katanya, praktik kehidupannya, hawa nafsunya, kesemuanya ini telah
diserahkan di bawah pengendalian Roh Allah.
Paulus rindu melihat
kenyataan dalam hidup orang‑orang Kristen yang beriman akan kemenangan dalam
perlombaan mencapai tujuan tunggal ialah kehidupan yang kekal. Dia telah
mengetahui bahwa untuk mencapai idaman itu bagi mereka, terbentang di hadapan
mereka pergumulan yang mana seorang pun tidak akan luput daripadanya. Paulus
memohon dengan sangat supaya mereka berusaha sesuai dengan hukum, mencari
pengasihan dan kebijaksanaan moral hari demi hari. Dia telah meminta untuk
mengesampingkan tiap‑tiap beban dan maju terus untuk mencapai tujuan
kesempurnaan di dalam Kristus.
Paulus menunjukkan kepada
orang‑orang Korintus akan pengalaman‑pengalaman orang Israel dulu kala, atas
berkat‑berkat sebagai upah penurutan mereka, dan pehukuman sebagai akibat
pelanggaran‑pelanggaran mereka. Dia mengingatkan mereka cara yang menakjubkan
dalam mana orang‑orang Ibrani telah dipimpin keluar dari Mesir di bawah pemeliharaan
awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari. Dengan demikian mereka
telah dipimpin menyeberang Laut Merah dengan selamat, sementara orang‑orang
Mesir mencoba untuk menyeberang dengan cara yang sama, mereka semuanya hanyut
tenggelam. Oleh pemeliharaan atau perbuatan ini Allah telah mengakui bangsa
Israel sebagai sidang‑Nya. Mereka "semua telah memakan makanan rohani yang
sama, dan semua sudah meminum minuman rohani yang sama; karena mereka telah
meminum dari Batu Karang rohani yang mengikuti mereka, dan Batu Karang itu
ialah Kristus." Dalam semua perjalanan orang‑orang Ibrani ini Kristus
adalah pemimpin yang telah dilukai oleh karena pelanggaran‑pelanggaran manusia,
sebagai saluran agar keselamatan itu boleh dialirkan kepada semua orang.
Sungguhpun demikian, Allah
berkenan kepada semua bangsa Ibrani, namun karena keinginan mereka yang kuat
terhadap kemewahan yang telah ditinggalkan di Mesir, dan oleh karena dosa dan
pemberontakan mereka, sehingga pehukuman Allah menimpa mereka. Rasul itu
memerintahkan orang‑orang percaya di Korintus untuk mengindahkan pelajaran yang
telah dialami bangsa Israel. "Sekarang segala perkara ini telah menjadi
contoh bagi kita," dia menyatakan, "dengan maksud supaya kita tidak
bernafsu mengikuti perkara‑perkara yang jahat, sebagaimana mereka itu telah
bernafsu kuat." Dia menunjukkan bahwa cinta kesenangan dan kepelesiran itu
telah menyediakan jalan untuk dosa‑dosa, panggilan menjadi suatu tanda
penurutan kita yang sungguh‑sungguh kepada Allah. Maka duduklah bangsa Israel
untuk makan minum dan berpesta‑pora, kemudian bangunlah mereka dan bersukaria,
karena mereka telah melepaskan diri daripada takut akan Allah, demikian
perasaan mereka pada waktu pemberian Taurat itu; dan dibuatlah patung seekor
anak lembu melambangkan Allah, kemudian mereka menyembah patung itu. Setelah
menikmati pesta‑pora yang sangat mewah dalam hubungan menyembah dewa Baal,
sehingga banyak orang‑orang Ibrani yang telah terjerumus melalui sifat mereka
yang tak bermoral. Murka Allah bangkit, dan atas perintah‑Nya "dua puluh
tiga ribu" tewas kena bala dalam sehari.
Rasul meminta dengan sangat
kepada orang‑orang Korintus, "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa dia
teguh berdiri, hati‑hatilah supaya ia jangan jatuh!" Patutkah mereka
menjadi sombong dan bergantung atas pikiran sendiri, menolak untuk berjaga‑jaga
dan berdoa, mereka akan jatuh dalam dosa yang keji, menurunkan kutuk daripada
Allah kepada mereka. Paulus menghendaki agar mereka jangan menyerah kepada
kemurungan atau kekecewaan. Dia memberikan kepada mereka kepastian: "Sebab
Allah dan karena itulah Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui
kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan menjadi jalan keluar kepadamu,
sehingga kamu dapat menanggungnya."
Paulus mendorong saudara‑saudaranya
agar mereka bertanya kepada diri mereka sendiri apakah pengaruh kata‑kata dan
perbuatan mereka itu kepada orang lain tidak berarti apa‑apa, namun tidak
terdapat kesalahan di dalamnya, yang mungkin seolah‑olah menyetujui penyembahan
berhala atau melukai hati yang syak dan yang mungkin orang lemah iman."
Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu
yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Janganlah kamu
menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun
Jemaat Allah."
Kata‑kata amaran Rasul
kepada Jemaat Korintus dapat dipakai setiap waktu dan khususnya disesuaikan
kepada zaman kita ini. Oleh menyembah berhala, berarti bukan hanya sekadar
menyembah berhala‑berhala, tetapi melayani diri sendiri, cinta kepelesiran,
memanjakan selera dan hawa nafsu. Seorang yang nampaknya beriman dalam Kristus,
seorang yang menyombongkan kebenaran, bukanlah membuat seseorang menjadi
Kristen. Suatu agama yang hanya mencari kepuasan mata, telinga, dan selera,
atau mendukung pemanjaan diri sendiri bukanlah agama Kristus.
Oleh suatu perbandingan
jemaat dengan tubuh manusia, rasul itu memberi gambaran yang tepat, hubungan
yang erat dan serasi harus di antara semua anggota jemaat Kristus. Dia
menuliskan, "Sebab dalam satu Roh 'kita semua', baik orang Yahudi, maupun
orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu
tubuh dan kita semua diberi minuman dari satu Roh. Karena tubuh itu juga tidak
terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota." Andaikata kaki
berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh," jadi
benarlah bahwa dia tidak termasuk tubuh? Dan andaikata telinga berkata:
"Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh," jadi benarkah ia
tidak termasuk tubuh? Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah
pendengaran? Andaikata seluruhnya telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah
telah memberikan kepada anggota, masing‑masing secara khusus, suatu tempat pada
tubuh, seperti yang dikehendaki‑Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di
manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. Jadi mata
tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau."
Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan
engkau." . . . Allah telah‑menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga
anggota‑anggota yang tidak mulia diberikan penghargaan khusus, supaya jangan
terjadi perpecahan dalam tubuh tetapi supaya anggota‑anggota itu saling
memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut
menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu
semua adalah anggota tubuh Kristus dan kamu masing‑masing adalah
anggotanya."
Dan kemudian, dalam kata‑kata
yang ada pada zaman itu hingga sekarang menjadi suatu sumber inspirasi dan
dorongan kepada kaum pria dan wanita, Paulus menyatakan pentingnya kasih yang
harus dihormati oleh para pengikut Kristus: "Sekalipun aku dapat berkata‑kata
dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak
mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang
gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui
segala rahasia dan memiliki segala pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman
yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih,
aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi‑bagikan segala sesuatu
yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku
tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku."
Bagaimanapun tingginya
pekerjaan seseorang, yang hatinya tidak dipenuhi kasih kepada Allah dan
sesamanya manusia dia bukanlah murid Kristus yang benar. Walaupun dia mempunyai
iman yang besar dan mempunyai kuasa untuk melakukan tanda‑tanda ajaib, namun
tanpa kasih imannya akan menjadi sia‑sia. Dia mungkin menunjukkan kebaikan yang
besar; tetapi seandainya dia, dari beberapa alasan yang lain daripada kasih
sejati, menyerahkan seluruh hartanya untuk menjamu orang miskin, perbuatan yang
demikian tidak menjadi alasan untuk memperkenankan Allah. Dalam semangatnya,
dia mungkin menjadi seorang yang mati syahid, namun jika dia tidak digerakkan
oleh kasih, dia akan dianggap oleh Allah sebagai seorang yang suka memperdaya
diri sendiri atau seorang munafik yang berambisi.
"Kasih itu sabar;
kasih itu murah hati; ia tidak cemburu; ia tidak memegahkan diri dan tidak
sombong." Kesukaan yang murni terpancar dari orang yang sangat rendah
hati. Tabiat‑tabiat yang kuat dan agung dibentuk di atas dasar kesabaran,
kasih, dan penyerahan kepada kehendak Allah.
"Kasih itu tidak
melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak
pemarah dan ia tidak menyimpan kesalahan orang lain." Kasih seperti dimiliki
Kristus itu menempatkan tafsiran yang sangat baik pada motif dan tingkah laku
orang lain. Kasih itu tidak perlu membukakan kesalahan‑kesalahan orang lain; ia
tidak ingin mendengar laporan‑laporan yang tidak baik, tetapi malah membawa
kepada pikiran kualitas‑kualitas yang baik dari orang‑orang lain.
Kasih itu, "tidak
bersukacita karena ketidakadilan;" tetapi bersuka karena kebenaran; Ia
menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu,
sabar menanggung segala sesuatu." Kasih itu, "tidak pernah
gagal." Nilainya tidak pernah hilang; itu adalah suatu sifat perlengkapan
surgawi. Sebagai suatu harta yang berharga, kasih itu akan membawa pemiliknya
masuk melalui gerbang kota Allah.
"Demikianlah tinggal
ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di
antaranya ialah kasih."
Dalam merosotnya standar
moral di antara orang‑orang percaya di Korintus, banyak yang sudah undur dari
dasar kepercayaan mereka. Beberapa di antaranya telah menyimpang terlalu jauh
sehingga menyangkal doktrin tentang kebangkitan. Paulus menghadapi orang‑orang
yang mempunyai pengajaran yang tidak masuk akal itu dengan suatu kesaksian yang
jelas dari hal bukti kebangkitan Kristus yang tidak perlu diragukan. Dia
menyatakan bahwa Kristus setelah kematian‑Nya, "telah dibangkitkan, pada
hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;" Sesudah itu, Dia menampakkan
diri kepada Kefas, dan kemudian kepada keduabelas murid‑Nya. Sesudah itu Ia
menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan
dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah
meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus; kemudian kepada
semua rasul. Dan yang paling akhir semuanya Ia menampakkan diri kepadaku. "
Dengan kuasa yang
meyakinkan rasul itu menyatakan keagungan kebenaran tentang kebangkitan.
"Kalau tidak ada kebangkitan orang mati," ia mendesak "maka
Kristus juga tidak akan dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak
dibangkitkan, maka sia‑sialah juga kepercayaan kami. Lebih daripada itu kami
ternyata berdusta kepada Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah
membangkitkan Kristus, padahal Ia tidak membangkitkannya, kalau andaikata
benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Sebab jika benar orang mati tidak
dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak
dibangkitkan, maka sia‑sialah kepercayaan kamu. Lebih daripada itu kami
ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia
telah membangkitkan Kristus, padahal Ia tidak membangkitkan‑Nya. Kalau benar,
bahwa orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan
jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia‑sialah kepercayaan kamu dan kamu
masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang‑orang yang mati dalam
Kristus. Jika kita hanya ingin saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita
adalah orang‑orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar
ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang‑orang mati, sebagai
yang sulung dari orang‑orang yang telah meninggal."
Rasul itu telah membawa
pikiran saudara‑saudara di Korintus terhadap kemenangan‑kemenangan yang
diperoleh dalam persoalan kebangkitan, bila semua orang saleh telah
dibangkitkan, sejak dari waktu itu mereka akan hidup selama‑lamanya bersama
Allah. Rasul itu menyatakan, "Sesungguhnya, aku menyatakan kepadamu suatu
rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semua diubahkan, dalam
sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi
dan orang‑orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa
dan kita semua akan diubahkan. Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan
yang tidak dapat mati. Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak
dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka
akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam
kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut di manakah sengatmu?
.... Tetapi syukurlah kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita
kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita."
Kemenangan yang mulia
sedang menanti orang‑orang yang setia, Rasul itu menyadari, kemungkinan‑kemungkinan
yang ada di hadapan orang‑orang percaya di Korintus, ia harus mengangkat mereka
dari mementingkan diri sendiri dan mengangkat mereka dari kebiasaan hawa nafsu,
dan memuliakan kehidupan dengan pengharapan kehidupan kekal. Dengan sungguh‑sungguh
dia mendesak mereka supaya mereka setia terhadap panggilan yang mulia dalam
Kristus. "Karena itu, saudara‑saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh,
jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan. Sebab kamu tahu, bahwa
dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah tidak sia‑sia."
Oleh sebab itu, rasul
dengan cara yang sangat memastikan dan mengesankan berusaha untuk memperbaiki
pikiran yang salah dan berbahaya, dan praktik yang telah berlaku secara umum
dalam sidang Kristus. Dia berbicara dengan terus‑terang, namun dalam kasih
terhadap jiwa‑jiwa mereka. Dalam pernyataan dan tegurannya, terang dari hadirat
Allah sedang bersinar ke atas mereka, menyatakan dosa‑dosa yang telah menodai
kehidupan mereka. Bagaimanakah hal itu akan diterima?
Setelah surat itu
dikirimkan, Paulus merasa takut, jangan‑jangan apa yang telah dituliskannya
sangat melukai hati mereka yang dianggapnya beroleh keuntungan dari surat itu.
Secara teliti disertai rasa takut ia mengasingkan diri dan kadang‑kadang rindu
mengingat kembali kata‑katanya. Mereka sama seperti rasul yang telah merasakan
suatu tanggung jawab mengasihi sidang‑sidang atau lembaga‑lembaga, dapat
menghargai dengan sebaik‑baiknya dari hal perasaan tertekan dan mempersalahkan
diri sendiri. Hamba‑hamba Allah yang menanggung beban karena pekerjaan‑Nya pada
zaman ini mengetahui pengalaman yang sama di bidang pekerjaan, pertentangan,
dan kekhawatiran yang menimpa dengan berat kepada rasul yang agung itu.
Dibebankan oleh perpisahan di dalam sidang, menghadapi orang‑orang yang tidak
berterima kasih dan pengkhianatan dari beberapa orang yang mencari simpati dan
dukungan, menyadari bahaya yang mengancam sidang‑sidang yang menyimpan
kejahatan, dipaksakan membawa suatu kesaksian dan penyelidikan yang ketat untuk
menegur dosa. Pada waktu yang sama dia tertekan dengan ketakutan yang mungkin
ia telah memperlakukan terlalu keras. Dalam kegelisahan yang mencemaskan ini
dia telah menunggu untuk menerima berkat sebagai jawaban penerimaan dari
pekabarannya.
No comments:
Post a Comment