Dari Efesus Paulus
melanjutkan perjalanan misionaris berikutnya, selama waktu mana ia mengharap
untuk mengunjungi lebih dulu tempat pekerjaannya yang dulu di Eropa. Tinggal
untuk sementara waktu di Troas, "untuk mengkhotbahkan Injil Kristus,"
ia mendapati beberapa orang yang sedia untuk mendengar pekabarannya. "Aku
dapati; bahwa Tuhan telah membuka jalan untuk pekerjaan di sana," ia
kemudian menerangkan pekerjaannya di tempat ini. Tetapi berhasil sebagaimana
usaha‑usahanya di Troas, ia tidak dapat tinggal terlalu lama. "Memelihara
semua jemaat‑jemaat," dan terutama sidang di Korintus, tergantung berat di
hatinya. Ia telah mengharapkan untuk menemui Titus di Troas dan untuk belajar
daripadanya bagaimana perkataan nasihat dan teguran yang dikirim kepada saudara‑saudara
di Korintus diterima, tetapi dalam hal ini ia sangat kecewa. "Tetapi
hatiku tidak merasa tenang, karena aku tidak menjumpai saudaraku Titus."
Sebab itu ia meninggalkan Troas dan menyeberang ke Makedonia, di mana Filipi ia
bertemu dengan Timotius.
Selama masa kecemasannya
terhadap sidang di Korintus, Paulus mengharapkan untuk yang terbaik; namun
kadang‑kadang perasaan kecewa yang berat menjalar kepada jiwanya, kalau-kalau
nasihat‑nasihat dan teguran‑tegurannya boleh disalahpahami. "Kami tidak
beroleh ketenangan bagi tubuh kami." Ia selanjutnya menulis. "Di mana‑mana
kami mengalami kesusahan: dari luar pertengkaran dan dari dalam ketakutan.
Tetapi Allah, yang menghiburkan orang yang susah hati, telah menghiburkan kami
dengan kedatangan Titus."
(Bab ini berdasarkan Surat
kedua ke Korintus)
Pembawa kabar yang setia
ini membawa kabar yang menggembirakan sehingga suatu perubahan yang ajaib telah
terjadi di antara orang‑orang percaya di Korintus. Banyak yang telah menerima
petunjuk yang ada dalam surat Paulus dan telah bertobat dari dosa‑dosa mereka.
Kehidupan mereka tidak lagi menjadi celaan kepada hidup Kekristenan, tetapi
memberikan suatu pengaruh yang berkuasa untuk kepentingan kesalehan yang
praktis.
Dipenuhi dengan kesukaan,
rasul itu mengirimkan surat yang lain kepada orang‑orang percaya di Korintus,
menyatakan kegembiraan hatinya sebab pekerjaan yang baik yang dikerjakan di
dalam mereka: "Meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu
namun aku tidak menyesalkannya." Bila dianiaya oleh ketakutan bahwa
perkataannya akan dihinakan, ia kadang‑kadang menyesal bahwa ia telah menulis
begitu nyata dan kejam. "Namun sekarang aku bersukacita", ia
meneruskan, "bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena
dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu adalah menurut kehendak
Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan." Bahwa pertobatan
yang dihasilkan oleh pengaruh rahmat Ilahi ke atas hati akan memimpin kepada
pertobatan dan meninggalkan dosa. Begitulah buah‑buah yang rasul itu nyatakan
telah kelihatan dalam kehidupan orang‑orang percaya di Korintus. "Sebab
perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut kehendak Allah itu
mengerjakan pada kamu kesungguhan yang besar, bahkan pembelaan diri,
kejengkelan, ketakutan, kegiatan, penghukuman."
Untuk beberapa lama Paulus
telah membawa suatu beban jiwa untuk sidang‑sidang suatu beban yang begitu
berat sehingga ia hampir tidak dapat menanggungnya. Guru‑guru yang palsu telah
berusaha untuk membinasakan pengaruhnya di antara orang‑orang percaya dan
mendesakkan doktrin mereka sendiri gantinya kebenaran Injil. Kebimbangan dan
putus asa dengan mana Paulus telah dikelilingi dinyatakan dalam perkataan,
"Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat,
sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami."
Tetapi sekarang satu sebab
kecemasan telah dihilangkan. Ketika kabar penerimaan suratnya kepada orang
Korintus, Paulus bersorak dalam kegembiraan: "Terpujilah Allah, Bapa Tuhan
kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala
penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami
sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam‑macam penderitaan dengan
penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. Sebab sama seperti kami
mendapatkan bagian berlimpah‑limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula
oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah‑limpah. Jika kami menderita,
hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal
itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan
sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga. Dan
pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti
kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil
bagian dalam penghiburan kami."
Dalam menyatakan
kesukaannya atas pertobatan mereka kembali dan pertumbuhan mereka dalam rahmat,
Paulus memberikan segala puji bagi Allah untuk perubahan hati dan kehidupan. "Tetapi
syukur kepada Allah," ia berseru "yang dalam Kristus selalu membawa
kami di jalan kemenangan‑Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman
pengenalan akan Dia di mana‑mana. Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum
dari Kristus di tengah‑tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka
yang binasa." Adalah kebiasaan pada hari itu untuk orang yang menang dalam
pertempuran membawa dengan dia pada waktu ia kembali bersama iring‑iringan
orang tawanan. Pada kesempatan seperti itu pembawa‑pembawa kemenyan telah
ditentukan, dan sementara tentara maju dengan kemenangan ke rumah, bau yang
harum, yang kepada orang‑orang tawanan yang ditentukan hukuman mati, suatu bau
kematian, menunjukkan bahwa mereka sedang menghampiri waktu pehukuman mereka;
tetapi kepada mereka dari orang‑orang hukuman yang telah memperoleh anugerah
dengan orang yang menahan mereka, dan yang hidup mereka akan diselamatkan, hal
itu adalah bau kehidupan, dalam mana ditunjukkannya kepada mereka bahwa
kemerdekaan mereka sudahlah hampir.
Sekarang Paulus penuh
dengan iman dan pengharapan. Ia merasa bahwa setan tidak akan menang pada
pekerjaan Allah di Korintus, dan dalam perkataan puji‑pujian ia mencurahkan
pengucapan syukur hatinya. Ia dan teman‑teman sekerjanya akan merayakan
kemenangan mereka atas musuh‑musuh Kristus dan kebenaran, oleh keluar dengan
semangat yang baru untuk melebarkan pengetahuan akan Juruselamat. Seperti
kemenyan keharuman Injil harus disebarkan ke seluruh dunia. Kepada mereka yang
akan menerima Kristus, pekabaran itu akan menjadi bau harum kehidupan kepada
kehidupan; tetapi kepada mereka yang terus‑menerus dalam keadaan tidak percaya,
suatu bau kematian kepada kematian.
Menyadari akan kebesaran
pekerjaan itu, Paulus berseru, "Siapakah yang sanggup menunaikan tugas
yang demikian?" Tetapi siapa yang sanggup untuk mengkhotbahkan Kristus
dalam cara seperti itu sehingga musuh‑musuhnya tidak mempunyai alasan yang
benar untuk menghinakan pesuruh itu atau pekabaran yang dibawanya. Paulus ingin
menekankan kepada orang‑orang percaya tanggung jawab yang penuh khidmat dari
pelayanan Injil. Kesetiaan dalam mengkhotbahkan firman itu, disatukan dengan
kehidupan yang suci dan tetap, dapat menjadikan usaha pendeta‑pendeta berkenan
kepada Allah dan menguntungkan jiwa‑jiwa. Pendeta‑pendeta pada zaman kita ini,
dibebani dengan perasaan kebesaran pekerjaan itu, boleh berseru dengan rasul
itu, "Siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian?"
Di antara mereka ada yang
telah menuduh Paulus dengan memuji diri sendiri dalam menulis suratnya yang
dulu. Rasul itu sekarang menunjuk kepada hal ini oleh menanyakan kepada anggota‑anggota
sidang kalau mereka menghakimkan motifnya sedemikian. "Adakah kami mulai
lagi memujikan diri kami?" ia bertanya. "Atau perlukah kami seperti orang‑orang
lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu?" Orang‑orang
percaya yang berpindah kepada suatu tempat yang baru sering membawa dengan
mereka surat pujian dari sidang dengan mana mereka telah pernah disatukan dulu;
tetapi pekerja‑pekerja yang terkenal, pendiri‑pendiri dari gereja‑gereja ini,
tidak perlu pujian seperti itu. Orang‑orang percaya di Korintus, yang telah
dipimpin dari perbaktian ilah‑ilah kepada iman akan Injil, adalah segala pujian
yang diperlukan oleh Paulus. Penerimaan mereka akan kebenaran, dan perubahan
yang dikerjakan dalam kehidupan mereka, memberikan kesaksian yang penuh
perasaan kepada pekerja‑pekerja yang setia dan kepada kewibawaannya untuk
memberikan nasihat, memperbaiki, dan menegur sebagai seorang pekerja Kristus.
Paulus menganggap saudara‑saudara
di Korintus sebagai tanda kesaksiannya "Kamu adalah surat pujian
kami," ia berkata, "yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal
dan yang dapat dibaca oleh semua orang. Karena telah ternyata, bahwa kamu
adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukannya dengan
tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh‑loh batu,
melainkan pada loh‑loh daging, yaitu di dalam hati manusia."
Pertobatan orang‑orang
berdosa dan penyucian mereka melalui kebenaran adalah bukti yang paling kuat
yang dapat dimiliki oleh seorang pendeta bahwa Allah telah memanggil dia kepada
kependetaan. Bukti bahwa ia seorang rasul tertulis pada hati dari mereka yang
bertobat dan disaksikan oleh kehidupan mereka yang baru. Kristus dibentuk di
dalam, pengharapan akan kemuliaan. Seorang pendeta sangatlah dikuatkan oleh
meterai kependetaannya ini.
Pada dewasa ini para
pendeta Kristus harus mempunyai saksi yang sama seperti yang dibawa oleh sidang
Korintus kepada pekerjaan Paulus. Tetapi meskipun dewasa ini banyak
pengkhotbah, masih banyak kekurangan pendeta yang cakap dan suci orang‑orang
yang penuh dengan kasih yang tinggal dalam hati Kristus. Kesombongan,
kepercayaan diri sendiri, cinta akan dunia, mencari‑cari kesalahan, kepahitan,
cemburu adalah buah‑buah yang dipikul oleh banyak orang yang mengakui agama
Kristus. Kehidupan mereka, dalam perbedaan yang nyata kepada Juruselamat,
sering membawa kesaksian yang menyedihkan kepada tabiat pekerjaan pendeta di
bawah mana mereka telah bertobat.
Seorang tidak dapat
mempunyai kehormatan yang lebih besar daripada yang diterima oleh Allah sebagai
seorang pendeta Injil yang cakap. Tetapi mereka yang diberkati Allah dengan
kuasa dan kemajuan dalam pekerjaan‑Nya janganlah sombong. Mereka mengakui
ketergantungan mereka sepenuhnya kepada‑Nya, menyadari bahwa dalam diri mereka
sendiri tidak mempunyai kuasa. Dengan Paulus mereka berkata, "Dengan diri
kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah‑olah pekerjaan
kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat
kami juga sanggup menjadi pelayan‑pelayannya dari suatu perjanjian baru."
Seorang pendeta yang benar
melakukan pekerjaan Tuhannya. Ia merasa pentingnya pekerjaannya, menyadari
bahwa ia menyokong kepada sidang dan kepada dunia suatu hubungan yang sama
seperti yang disokong oleh Kristus. Ia bekerja dengan tidak mengenal jerih
lelah untuk memimpin orang‑orang berdosa kepada kehidupan yang lebih mulia dan
lebih tinggi, supaya mereka boleh mendapat pahala orang‑orang yang menang.
Bibirnya dijamah dengan suatu bara yang hidup dari mezbah, dan ia mengangkat
Yesus sebagai pengharapan yang satu‑satunya bagi orang berdosa. Mereka yang
mendengar dia mengetahui bahwa ia telah tertarik dekat kepada Allah di dalam
doa yang sungguh‑sungguh dan berhasil. Roh Kudus tinggal di dalam dia, jiwanya
telah merasakan api yang penting dari surga, dan ia sanggup membandingkan
perkara‑perkara rohani dengan rohani. Kuasa diberikan kepadanya untuk meruntuhkan
benteng setan. Hati diremukkan oleh pemberitaannya akan kasih Allah, dan banyak
yang terpimpin untuk bertanya, "Apakah yang harus saya perbuat supaya
diselamatkan?"
"Oleh kemurahan Allah
kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. Tetapi
kami menolak segala perbuatan tersembunyi dan memalukan; kami tidak berlaku
licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran
dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua
orang di hadapan Allah. Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga,
maka ia tertutup untuk mereka yang akan binasa, yaitu orang‑orang yang tidak
percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka
tidak melihat cahaya Injil kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. Sebab
bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan
diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. Sebab Allah telah berfirman:
Dari dalam gelap akan terbit terang. Ia juga yang membuat terang‑Nya bercahaya
di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang
kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus."
Jadi rasul itu membesarkan
anugerah dan rahmat Allah, yang ditunjukkan dalam kepercayaan yang suci yang
dipercayakan kepadanya sebagai seorang pelayan Kristus. Oleh kemurahan Tuhan ia
dan saudara‑saudaranya telah dibantu dalam kesulitan, penderitaan, dan bahaya.
Mereka tidak memperagakan iman dan ajaran mereka untuk mencocokkan kehendak
pandangan‑pandangan pendengar mereka, atau menahan kebenaran yang penting untuk
keselamatan supaya menjadikan ajaran mereka lebih menarik. Mereka telah
memaparkan kebenaran dengan kesederhanaan dan dengan jelasnya, berdoa untuk
keyakinan dan pertobatan jiwa‑jiwa. Dan mereka telah berusaha membawa tabiat
mereka selaras dengan ajaran mereka, supaya kebenaran yang dipaparkan boleh
serasi kepada kata hati setiap orang.
"Tetapi harta
ini," rasul itu meneruskan, "kami punyai dalam bejana tanah liat,
supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah‑limpah itu berasal dari Allah, bukan
dari diri kami." Tuhan dapat memasyhurkan kebenaran‑Nya melalui malaikat‑malaikat
yang tidak berdosa, tetapi ini bukanlah rencana‑Nya. Ia memilih umat manusia,
manusia yang dikelilingi dengan kelemahan, sebagai alat‑alat dalam mengerjakan
rencana‑Nya. Harta yang tak ternilai ditaruh dalam bejana‑bejana yang dari
tanah liat itu. Melalui manusia berkat‑berkat harus disampaikan kepada dunia.
Melalui mereka kemuliaan‑Nya harus bercahaya ke dalam kegelapan dosa. Dalam
pelayanan yang penuh kasih mereka harus menemui orang‑orang yang berdosa dan
berkekurangan dan memimpin mereka kepada salib. Dan di dalam segala pekerjaan
mereka, mereka harus memberikan kemuliaan, kehormatan, dan puji‑pujian kepada‑Nya
yang melebihi semuanya dan di atas segala perkara.
Bertitik tolak dari
pengalamannya sendiri, Paulus menunjukkan bahwa dalam memilih pelayanan Kristus
ia tidak didorong oleh motif mementingkan diri; karena jalannya telah ditimpa
dengan ujian dan pencobaan. "Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak
terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak
ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa
membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kemuliaan Yesus juga menjadi
nyata di dalam tubuh kami."
Paulus mengingatkan kepada
saudara‑saudaranya bahwa sebagai pesuruh‑pesuruh Kristus ia dan teman
sekerjanya selalu dalam bahaya. Kesukaran yang telah mereka derita telah menguras
kekuatan mereka. "Sebab kami," ia menulis, "yang masih hidup
ini, terus‑menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya hidup Yesus juga
menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di
dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu." Menderita secara jasmani
melalui kekurangan dan kerja keras, pelayan‑pelayan Kristus ini sedang
menyesuaikan diri kepada kematian‑Nya. Tetapi sesuatu yang mengerjakan kematian
bagi mereka sedang membawa kehidupan rohani dan kesehatan kepada orang‑orang
Korintus, yang oleh percaya akan kebenaran turut mengambil bagian dalam hidup
yang kekal. Mengingat akan hal ini, pengikut‑pengikut Kristus haruslah berhati‑hati
supaya jangan menambah beban dan ujian para pekerja oleh kelalaian dan
ketidakpuasan.
"Namun karena kami
memiliki roh iman yang sama," Paulus meneruskan, "seperti ada
tertulis: Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata, maka kami juga percaya dan
sebab itu kami juga berkata‑kata." Yakin benar‑benar akan kesungguh‑sungguhan
kebenaran yang dipercayakan kepadanya, tak ada sesuatu yang akan menyebabkan
Paulus menangani perkataan Allah dengan menipu atau menyembunyikan keyakinan
jiwanya. Ia tidak akan membeli kekayaan, kehormatan, atau kepelesiran oleh
menyesuaikan diri dengan pendapat dunia. Meskipun dalam bahaya yang terus‑menerus
untuk mati syahid oleh iman sebab ia telah berkhotbah kepada orang Korintus, ia
tidak khawatir, sebab ia mengetahui bahwa Ia yang sudah mati dan bangkit lagi
akan membangkitkan dia dari dalam kubur dan mempersembahkannya kepada Bapa.
"Sebab semuanya itu
terjadi oleh sebab kamu," ia berkata, "supaya kasih karunia, yang
semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya
ucapan syukur bagi kemuliaan Allah." Bukannya karena membesarkan diri rasul
itu mengabarkan Injil. Adalah karena pengharapan untuk menyelamatkan jiwa‑jiwa
yang memimpin mereka untuk menyerahkan diri mereka kepada pekerjaan ini. Dan
ini adalah pengharapan yang menahan mereka dari menghentikan usaha‑usaha mereka
sebab ancaman bahaya atau penderitaan yang sebenarnya.
"Sebab itu, Paulus
menjelaskan, 'kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami
semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibarui dari sehari ke
sehari.'" Paulus merasai kuasa musuh; tetapi meskipun kekuatan tubuhnya
sedang menurun, tetapi dengan iman yang tetap tabah ia menyatakan Injil
Kristus. Dengan mengenakan segenap senjata Allah, pahlawan salib ini maju di
dalam pertempuran. Suara kegembiraannya menyatakan dia menang dalam pertempuran.
Mengarahkan pandangannya pada pahala orang setia, ia berseru dalam nada
kemenangan, "sebab penderitaan ringan yang sekarang ini mengerjakan bagi
kami kemuliaan kekal yang melebihi segala‑galanya, jauh lebih besar daripada
penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang
tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak
kelihatan adalah kekal."
Amatlah sungguh‑sungguh dan
mengharukan panggilan rasul itu sehingga saudara‑saudaranya di Korintus baru memandang
kasih yang tak ada taranya dari Penebus mereka. "Kamu telah mengenal kasih
karunia Tuhan kita Yesus Kristus," ia menulis, "bahwa Ia, yang oleh
kamu telah menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh
karena kemiskinannya." Engkau mengetahui ketinggian dari mana Ia
membungkuk, kedalaman kerendahan kepada mana Ia merendahkan dirinya. Setelah
memasuki jalan penyangkalan diri dan pengorbanan, Ia tidak mengesampingkan diri
sampai Ia telah menyerahkan hidup‑Nya. Tidak ada perhentian bagi‑Nya antara
mahkota dan salib.
Selangkah demi selangkah
Paulus berlambat‑lambat, supaya mereka yang membaca tulisannya boleh mengerti
dengan sepenuhnya sikap merendahkan diri yang ajaib dari Juruselamat untuk
kepentingan mereka. Mengemukakan Kristus sebagaimana Ia sama dengan Allah dan
dengan Dia menerima penghormatan dari malaikat‑malaikat, rasul itu mengikuti
jalan-Nya sampai Ia telah mencapai kedalaman kerendahan hati yang paling
rendah. Paulus menyadari bahwa kalau mereka dapat dibawa untuk mengerti akan
pengorbanan yang ajaib yang diadakan oleh Yang Mahatinggi di surga, segala
kepentingan diri sendiri akan dibuang dari kehidupan mereka. Ia menunjukkan
bagaimana Anak Allah mengesampingkan kemuliaan‑Nya, dengan suka rela
menyerahkan diri‑Nya sendiri kepada keadaan sifat manusia, dan kemudian telah
merendahkan diri‑Nya sebagai seorang hamba, menurut sampai kepada mati
"bahkan sampai mati di kayu salib" (Filipi 2:8), sehingga Ia dapat
mengangkat manusia yang sudah jatuh dari kebejatan kepada pengharapan dan
kesukaan dan surga.
Bila kita mempelajari
tabiat Ilahi dalam terang salib kita melihat kemurahan, lemah lembut, dan
pengampunan yang bercampur dengan keadilan. Kita melihat di tengah‑tengah
takhta Seorang yang membawa pada tangan dan kaki dan di samping tanda‑tanda
penderitaan yang ditanggung untuk memperdamaikan manusia kepada Allah. Kita
melihat seorang Bapa, yang tak terbatas, tinggal dalam terang yang tak
terhampiri, namun menerima kita kepada diri‑Nya sendiri melalui kebaikan Anak‑Nya.
Awan dari pembalasan dendam yang mencamkan kesengsaraan dan keputusasaan, dalam
terang yang dipantulkan dari kayu salib menyatakan tulisan Allah: Hiduplah,
orang berdosa, hiduplah! Saya telah membayar suatu tebusan.
Dalam merenung‑renungkan
Kristus kita berada di pantai kasih yang tak terukur. Kita berusaha
menceritakan kasih ini, dan bahasa tidak akan menolong kita. Kita
mempertimbangkan kehidupan‑Nya di dunia ini, pengorbanannya untuk kita,
pekerjaan‑Nya dalam surga sebagai pengacara kita, dan dalam tempat tinggal yang
sedang disediakan‑Nya bagi mereka yang mengasihi Dia, dan kita hanya dapat
berseru, tingginya dan dalamnya kasih Kristus! "Inilah kasih itu: Bukan
kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan
yang telah mengutus Anak‑Nya sebagai perdamaian bagi dosa‑dosa kita."
"Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita,
sehingga kita disebut anak‑anak Allah." 1 Yohanes 4:10; 3:1.
Pada tiap‑tiap murid yang
benar kasih ini, seperti api yang suci, menyala pada mezbah hati. Di dunia
inilah kasih Allah dinyatakan melalui Kristus. Di dunia inilah anak‑anak‑Nya
harus membiaskan kasih ini melalui hidup yang tak bercacat. Dengan demikian
orang‑orang berdosa akan dipimpin kepada salib untuk memandang Anak Domba Allah.
No comments:
Post a Comment