Sementara Paulus dengan
hati‑hati menaruh di hadapan orang‑orang yang bertobat ajaran yang jelas
tentang Alkitab mengenai tunjangan yang benar akan pekerjaan Allah, dan
sementara ia menuntut dirinya sendiri seorang pelayan Injil "mempunyai hak
untuk dibebaskan dari pekerjaan tangan" (1 Korintus 9:6) pada pekerjaan
duniawi sebagai alat untuk menyokong diri sendiri, namun pada beberapa waktu
selama pekerjaannya dalam pusat peradaban yang besar, ia melakukan pekerjaan
tangan untuk biayanya sendiri.
Di antara orang Yahudi
pekerjaan badani tidak dianggap aneh atau merendahkan derajat. Melalui Musa
orang‑orang Ibrani telah diajar untuk melatih anak‑anak mereka untuk kebiasaan‑kebiasaan
yang tekun, dan hal itu dianggap sebagai dosa untuk membiarkan orang‑orang muda
bertumbuh dalam keadaan tidak mengetahui akan pekerjaan badani. Meskipun
seorang anak harus dididik untuk jabatan yang suci, suatu pengetahuan tentang
kehidupan yang praktis dianggap penting. Tiap‑tiap orang muda, apakah orang
tuanya kaya atau miskin, diajarkan beberapa kerajinan tangan. Orangtua yang
lalai menyediakan pendidikan seperti itu bagi anak‑anaknya mereka dipandang
sebagai menyimpang dari petunjuk Tuhan. Sesuai dengan kebiasaan ini, mula‑mula
Paulus telah mempelajari akan pekerjaan membuat tenda.
Sebelum menjadi murid
Kristus, Paulus telah menempati suatu kedudukan yang tinggi dan tidak
bergantung pada pekerjaan badani untuk mendapat sokongan. Tetapi sesudah itu,
bila ia telah menggunakan segala hartanya dalam memajukan pekerjaan Kristus, ia
kadang‑kadang mengusahakan kerajinannya untuk memperoleh nafkah. Terutama hal
ini bila ia bekerja di tempat‑tempat di mana motifnya mungkin disalahartikan.
Di Tesalonikalah kita
membaca Paulus mula‑mula bekerja dengan tangannya sendiri dalam pekerjaan
membantu diri sendiri sementara mengkhotbahkan sabda Allah. Menulis kepada
sidang tentang orang‑orang percaya di sana, ia mengingatkan kepada mereka bahwa
ia "dapat berbuat demikian" kepada mereka, dan menambahkan:
"Sebab kamu masih ingat, saudara‑saudara, akan usaha dan jerih lelah kami.
Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun
juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu." 1
Tesalonika 2:6, 9. Dan sekali lagi, dalam tulisannya yang kedua kepada mereka,
ia menyatakan bahwa ia dan teman sekerjanya sementara dengan mereka tidak makan
"roti orang dengan percuma." Siang dan malam ia bekerja, ia menulis,
"Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau
menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti." 2 Tesalonika
3:8, 9.
Di Tesalonika Paulus
bertemu dengan mereka yang enggan bekerja dengan tangan mereka. Tentang
golongan inilah ia menulis sesudah itu: "Kami katakan ini karena kami
dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan
sibuk dengan hal‑hal yang tidak berguna. Orang‑orang yang demikian kami
peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang
melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri."
Sementara bekerja di Tesalonika, Paulus berhati‑hati memberikan kepada orang
seperti itu suatu teladan yang benar. "Sebab, juga waktu kami berada di
antara kamu," ia menulis, "kami memberi peringatan ini kepada kamu:
jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." Ayat 11, 12, 10.
Dalam setiap zaman Setan berusaha
untuk merusakkan usaha hamba‑hamba Allah oleh memperkenalkan kepada sidang
suatu roh fanatik. Jadi pada zaman Paulus, dan demikian juga pada abad‑abad
kemudian selama zaman Reformasi. Wycliffe, Luther, dan banyak lagi yang lain
yang mendatangkan berkat kepada dunia oleh pengaruh dan iman mereka, mengalami
tipu muslihat oleh mana musuh mencari untuk memimpin ke dalam kefanatikan
pikiran‑pikiran yang terlalu bersemangat, tidak seimbang, dan tidak disucikan.
Jiwa‑jiwa yang sesat telah mengajarkan bahwa mencapai kesucian yang benar
membawa pikiran melebihi segala pikiran duniawi dan memimpin manusia untuk
menahan diri sepenuhnya dari pekerjaan. Orang‑orang yang lain, terlalu
memikirkan ayat‑ayat yang tertentu dari Kitab Suci, telah mengajarkan bahwa dosalah
untuk bekerja-- bahwa orang Kristen harus tidak memikirkan mengenai
kesejahteraan duniawi dari mereka sendiri atau keluarga mereka, tetapi harus
menyerahkan segenap kehidupan mereka kepada perkara‑perkara rohani. Ajaran dan
teladan rasul Paulus adalah tempelakan kepada pandangan yang keterlaluan itu.
Paulus tidak bergantung
sepenuhnya kepada pekerjaan tangannya untuk sokongan sementara ia berada di
Tesalonika. Berbicara kemudian mengenai pengalaman‑pengalamannya di kota itu,
ia menulis kepada orang‑orang percaya di Filipi sebagai pengakuan akan
pemberian yang telah diterimanya dari mereka pada saat ia berada di sana,
dengan mengatakan, "Karena di Tesalonika pun kamu telah satu dua kali
mengirimkan bantuan kepadaku." Filipi 4:16. Meskipun kenyataan bahwa ia
telah menerima pertolongan ini, ia berhati‑hati untuk memberikan kepada orang
Tesalonika suatu teladan kerajinan, sehingga tidak ada orang dapat menuduh dia
tentang ketamakan, dan juga bahwa mereka yang memegang pandangan yang fanatik
mengenai pekerjaan tangan boleh diberikan amaran yang praktis.
Bila pertama kali Paulus
mengunjungi Korintus, ia mendapati dirinya di antara suatu umat yang curiga
mengenai motif orang‑orang asing. Orang‑orang Yunani pada tepi pantai adalah
pedagang‑pedagang yang gigih. Sebegitu jauh mereka telah melatih diri mereka
mengenai kebiasaan‑kebiasaan dagang yang jelas, dan mereka tiba pada keyakinan
bahwa keuntungan adalah bagaikan ilah dan bahwa hal itu adalah untuk mendapat
uang, dengan jalan yang benar atau curang, akan mendapat restu. Paulus kenal
baik akan sifat mereka, dan ia tidak akan memberikan mereka kesempatan untuk
mengatakan bahwa ia mengkhotbahkan Injil untuk memperkaya dirinya sendiri. Ia
sebenarnya boleh menuntut sokongan dari pendengar‑pendengarnya orang Korintus;
tetapi ia rela untuk tidak melakukan hak ini, agar kegunaannya dan kemajuannya
sebagai seorang pendeta jangan dinodai oleh prasangka yang tidak adil bahwa ia
sedang mengkhotbahkan Injil untuk keuntungan. Ia berusaha menghilangkan segala
kesempatan untuk salah tafsir, supaya tenaga pekabarannya tidak akan hilang.
Segera sesudah ia tiba di
Korintus, Paulus mendapat "seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal
dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, istrinya." Mereka
melakukan "pekerjaan yang sama" dengan dirinya sendiri. Dibuang
dengan perintah Klaudius, yang memerintahkan segala orang Yahudi untuk
meninggalkan Roma, Akwila dan Priskila telah datang ke Korintus, di mana mereka
mendirikan suatu perusahaan sebagai pembuat tenda. Paulus menanyakan tentang
mereka, dan mempelajari bahwa mereka takut akan Allah dan berusaha untuk
menghindarkan pengaruh‑pengaruh dengan mana mereka dikelilingi, "ia
tinggal bersama‑sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama‑sama .... Dan setiap
hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang‑orang
Yahudi dan orang‑orang Yunani." Kisah 18:3‑4.
Kemudian, Silas dan
Timotius menggabungkan diri dengan Paulus di Korintus. Saudara‑saudara ini
membawa serta dana dari sidang‑sidang di Makedonia, untuk menyokong pekerjaan
Tuhan.
Dalam suratnya yang kedua
kepada orang‑orang percaya di Korintus, yang ditulis sesudah ia mendirikan
suatu sidang yang kuat di sana, Paulus mengulangi cara hidupnya di antara
mereka. "Apakah aku berbuat salah," ia bertanya, "jika aku
merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah
kepada kamu dengan cuma‑cuma? Jemaat‑jemaat lain telah kurampok dengan menerima
tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu! Dan ketika aku dalam kekurangan
di tengah‑tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorang pun, sebab apa yang kurang
padaku, dicukupkan oleh saudara‑saudara yang datang dari Makedonia. Dalam
segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku
akan tetap berbuat demikian. Demi kebenaran Kristus di dalam diriku, aku
tegaskan, bahwa kemegahanku itu tidak akan dirintangi oleh siapa pun di daerah‑daerah
Akhaya." 2 Korintus 11:7‑10.
Paulus mengatakan mengapa
ia telah mengikuti cara ini di Korintus. Adalah bahwa ia tidak memberikan dalih
untuk dicela dan dipersalahkan "bagi mereka, yang mau mengambil
gara-gara." 2 Korintus 11:12. Sementara ia bekerja membuat tenda ia
bekerja juga dengan setia dalam mengkhotbahkan Injil. Ia sendiri menyatakan
pekerjaannya, "Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang
rasul, telah dilakukan di tengah‑tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda‑tanda,
mukjizat‑mukjizat dan kuasa‑kuasa." Dan ia menambahkan, "Sebab dalam
hal manakah kamu lebih rendah dibandingkan dengan jemaat‑jemaat lain, selain
daripada dalam hal ini, yaitu bahwa aku sendiri tidak menjadi suatu beban
kepada kamu? Maafkanlah ketidakadilanku ini! Sesungguhnya sekarang sudah untuk
ketiga kalinya aku siap untuk mengunjungi kamu, dan aku tidak akan merupakan suatu
beban bagi kamu. Sebab bukan hartamu yang kucari, melainkan kamu . . . Karena
itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu."
2 Korintus 12:12‑15.
Selama masa yang panjang
dari pelayanannya di Efesus, di mana selama tiga tahun ia menjalankan usaha
evangelisasi yang giat di seluruh daerah itu, Paulus sekali lagi bekerja pada
kerajinannya. Di Efesus, sama seperti di Korintus, rasul itu digembirakan oleh
kehadiran Akwila dan Priskila, yang telah menemani dia pada waktu ia kembali ke
Asia pada akhir perjalanan misionarisnya yang kedua.
Ada beberapa orang yang
berkeberatan Paulus bekerja dengan tangannya, menyatakan bahwa hal itu tidak
konsekwen dengan pekerjaan seorang pelayan Injil. Mengapakah Paulus, seorang
pelayan dengan jabatan yang tertinggi, lalu menghubungkan pekerjaan tangan
dengan mengabarkan perkataan itu? Bukankah pekerja layak mendapat upahnya?
Mengapakah ia harus menggunakan waktu dalam membuat tenda yang pada segala
pemandangan dapat dimanfaatkan kepada nilai yang lebih baik?
Tetapi Paulus tidak
menganggap sebagai waktu yang hilang digunakan seperti itu. Sementara ia
bekerja dengan Akwila ia selalu berhubungan dengan Guru yang Besar, dengan
tidak menghilangkan kesempatan untuk bersaksi bagi Juruselamat, dan menolong
mereka yang memerlukan pertolongan. Pikirannya selalu mencapai pengetahuan
rohani. Ia memberikan kepada teman‑teman sekerjanya petunjuk dalam perkara‑perkara
rohani dan juga memberikan teladan kerajinan dan ketelitian. Ia adalah seorang
pekerja yang tangkas dan cekatan, rajin dalam pekerjaan, "rohmu menyala‑nyala
dan layanilah Tuhan." Roma 12:11. Sementara ia bekerja pada kerajinan
tangannya, rasul itu menghubungi golongan orang‑orang yang tidak dapat
dicapainya dengan jalan yang lain. Ia menunjukkan kepada teman‑temannya bahwa
kecakapan dalam seni yang biasa adalah pemberian dari Allah, yang menyediakan
baik pemberian dan akal budi untuk menggunakannya dengan benar. Ia mengajarkan
bahwa sedangkan dalam pekerjaan setiap hari Allah dihormati. Tangannya yang
bekerja keras tidak mengurangi kekuatan tenaga atau seruan yang sedih sebagai
seorang pelayan Kristen.
Kadang‑kadang Paulus
bekerja siang dan malam, bukan hanya untuk tunjangannya sendiri, tetapi supaya
ia dapat membantu teman‑teman sekerjanya. Ia membagikan pendapatannya dengan
Lukas, dan menolong Timotius. Malah ia suatu waktu menderita kelaparan, supaya
ia boleh meringankan keperluan orang‑orang lain. Kehidupannya adalah kehidupan
yang tidak mementingkan diri. Pada akhir pelayanannya, pada kesempatan ucapan
selamat jalan kepada tua‑tua Efesus, di Miletus, ia dapat mengangkat di hadapan
mereka tangannya yang bekerja keras, dan mengatakan, "Perak atau emas atau
pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu, bahwa
dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan
keperluan kawan‑kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan
contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang‑orang
yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah
mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima." Kisah
20:33‑35.
Jika pendeta‑pendeta merasa
bahwa mereka sedang menderita kesukaran dan kekurangan dalam pekerjaan Kristus,
biarlah mereka dalam angan‑angan mengunjungi tempat bekerja di mana Paulus
bekerja. Biarlah mereka ingat bahwa sementara orang‑orang yang terpilih oleh
Allah ini membuat kemah, ia sedang bekerja untuk roti yang baru saja ia dapat
dengan pekerjaannya sebagai seorang rasul.
Bekerja adalah suatu
berkat, bukanlah suatu kutuk. Suatu roh kelambanan merusakkan kesalehan dan
mendukacitakan Roh Allah. Suatu kolam yang mati mempunyai bau yang tidak enak,
tetapi sungai yang jernih dan mengalir memberikan kesehatan dan kesukaan di
seluruh tanah itu. Paulus mengetahui bahwa mereka yang melalaikan pekerjaan
badani segera menjadi lemah. Ia menginginkan untuk mengajarkan kepada pendeta‑pendeta
muda, bahwa oleh bekerja dengan tangan mereka, oleh melatih otot‑otot dan urat
mereka, mereka akan menjadi kuat untuk menahan kerja keras dan kekurangan yang
menunggu mereka dalam lapangan Injil. Dan ia menyadari pengajarannya sendiri
akan kurang kuat dan tak bertenaga jika mereka tidak menjaga segala bagian
tubuh bergerak dengan benar.
Karena kelengahan maka
hilanglah pengalaman yang tak terhingga nilainya hanya diperoleh oleh suatu
pelaksanaan yang setia akan kewajiban hidup yang sederhana. Bukannya hanya
sedikit, tetapi beribu‑ribu umat manusia yang ada hanya untuk menghabiskan
keuntungan yang Allah oleh kemurahan‑Nya memberikannya kepada mereka. Mereka
lupa untuk memberikan kepada Tuhan persembahan syukur untuk kekayaan yang telah
dipercayakan‑Nya kepada mereka. Mereka lupa bahwa oleh tukar‑menukar dengan
bijaksana talenta‑talenta yang dipinjamkan‑Nya kepada mereka, mereka akan
menjadi produsen sama seperti pemakai. Jika mereka mengerti pekerjaan yang
diinginkan Tuhan mereka perbuat sebagai tangan‑Nya yang menolong, mereka tidak
akan menghindarkan tanggung jawab.
Kegunaan orang‑orang muda
yang merasa bahwa mereka dipanggil oleh Allah untuk berkhotbah, bergantung
banyak pada cara dengan mana mereka memasuki pekerjaan mereka. Mereka yang
dipilih oleh Allah untuk pekerjaan pelayanan akan memberikan bukti tentang
panggilan mereka yang tinggi dan dengan setiap alat yang mungkin akan berusaha
untuk mengembangkan pekerja‑pekerja yang cakap. Mereka akan berusaha memperoleh
suatu pengalaman akan menyesuaikan mereka untuk merencanakan, mengorganisir dan
melakukan. Menghargai kesucian dari panggilan mereka, oleh mendisiplin diri
sendiri mereka akan berusaha menjadi seperti Tuhan mereka, menyatakan kebaikan,
kasih, dan kebenaran‑Nya. Dan sementara mereka menyatakan kesungguh‑sungguhan
dalam memperkembangkan talenta yang dipercayakan kepada mereka, sidang harus
menolong mereka dengan bijaksana.
Bukan semua yang merasa
bahwa mereka telah dipanggil untuk berkhotbah, harus dianjurkan untuk membebani
diri sendiri dan keluarga mereka dengan segera ke atas sidang untuk sokongan
keuangan yang kuat. Ada bahaya bahwa beberapa pengalaman yang terbatas boleh
dirusakkan oleh bujukan yang berlebih‑lebihan, dan oleh dorongan yang kurang
bijaksana untuk mengharapkan tunjangan yang sepenuhnya yang tidak bergantung
pada usaha yang serius di pihak mereka. Alat‑alat yang digunakan bagi perluasan
pekerjaan Allah tidak seharusnya digunakan oleh manusia yang merindukan untuk
berkhotbah saja supaya mereka boleh menerima tunjangan dan dengan demikian
memuaskan cita‑cita yang memuaskan diri sendiri untuk suatu kehidupan yang
mudah.
Orang‑orang muda yang rindu
untuk menggunakan pemberian mereka dalam pekerjaan pelayanan, akan mendapati
suatu pengalaman yang berguna dalam teladan Paulus di Tesalonika, Korintus,
Efesus, dan tempat‑tempat yang lain. Meskipun seorang pembicara yang fasih, dan
dipilih oleh Allah untuk melakukan pekerjaan yang istimewa, ia tidak pernah
lebih daripada pekerja, dan ia tidak pernah lelah dalam mengorbankan pekerjaan
yang dikasihinya. "Sampai pada saat ini," ia menulis kepada orang‑orang
Korintus, "kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami
melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati;
kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah kami tetap menjawab dengan
ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari
segala sesuatu, sampai pada saat ini." 1 Korintus 4:11, 12.
Seorang dari guru manusia
yang terbesar, Paulus dengan gembira melaksanakan kewajiban yang terendah
maupun yang paling tinggi. Bila dalam pelayanannya untuk Tuhan keadaan‑keadaan
nampaknya memerlukan dia, ia rela bekerja dengan tangannya. Namun demikian, ia
pernah menguasai dirinya sendiri sedia untuk mengesampingkan pekerjaan
duniawinya, supaya menemui pertentangan musuh‑musuh Injil, atau memperbaiki
kesempatan yang istimewa untuk memenangkan jiwa‑jiwa kepada Yesus. Semangat dan
kerajinannya adalah suatu tempelakan pada kemalasan dan keinginan yang remeh.
Paulus memberikan suatu
teladan melawan perasaan, kemudian memperoleh pengaruh dalam sidang, supaya
Injil dapat dimasyhurkan dengan berhasil oleh mereka yang sudah dibebaskan
sepenuhnya dari keperluan kerja keras badani. Ia melukiskan dalam cara yang
praktis apa yang dapat dilakukan oleh orang‑orang awam yang berserah di banyak
tempat di mana orang‑orang tidak berkenalan dengan kebenaran Injil. Jalannya
mengilhamkan banyak pekerja yang rendah hati untuk melakukan apa yang mereka
dapat untuk memajukan pekerjaan Allah, sementara pada waktu yang sama mereka
menyokong diri sendiri dalam pekerjaan sehari‑hari. Akwila dan Priskila tidak
dipanggil untuk memberikan segenap waktu mereka kepada pelayanan Injil, tetapi
pekerja‑pekerja yang rendah ini dipergunakan oleh Allah untuk menunjukkan
kepada Apolos jalan kebenaran dengan lebih sempurna. Tuhan mempergunakan alat
yang bermacam‑macam untuk melaksanakan maksud‑Nya, dan sementara beberapa orang
dengan talenta yang istimewa dipilih untuk mengabdikan segala tenaga mereka
kepada pekerjaan mengajar dan mengkhotbahkan Injil, banyak orang‑orang yang
lain, ke atas siapa tangan manusia tidak pernah diletakkan dalam pengurapan,
dipanggil melakukan bagian yang terpenting dalam menarik jiwa.
Ada ladang yang besar yang
terbuka di depan pekerja Injil yang menunjang diri sendiri. Banyak orang boleh
memperoleh pengalaman yang berfaedah dalam pelayanan sementara mengerjakan
sebagian dari waktu mereka dalam suatu bentuk pekerjaan tangan, dan dengan cara
inilah pekerja‑pekerja yang kuat boleh diperkembangkan untuk pekerjaan yang
penting di ladang‑ladang yang berkekurangan.
Seorang hamba Allah yang
mengorbankan diri yang bekerja dengan tidak kenal lelah dalam perkataan dan
doktrin, memikul suatu beban yang berat di hatinya. Ia tidak mengukur
pekerjaannya menurut jam. Upahnya tidak mempengaruhi dia dalam pekerjaan, pula
ia tidak berbalik dari kewajibannya sebab keadaan yang tidak menyenangkan. Dari
surga ia menerima perintahnya, dan dari surga ia memandang untuk upahnya bila
pekerjaan yang dipercayakan kepadanya telah dilakukan.
Adalah maksud Allah bahwa
pekerja‑pekerja seperti itu akan dibebaskan dari kecemasan yang tidak perlu,
supaya mereka boleh mempunyai kesempatan yang sempurna untuk mentaati perintah
Paulus kepada Timotius, "Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya
supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang," 1 Timotius 4:15. Meskipun
mereka harus berhati‑hati dalam menggunakan dengan secukupnya menjaga tenaga
pikiran dan tubuh dalam keadaan yang kuat, namun bukanlah rencana Allah bahwa
mereka harus dipaksa menggunakan sebagian besar daripada waktu mereka untuk
pekerjaan duniawi.
Pekerja‑pekerja yang setia
ini, meskipun rela untuk menggunakan dan digunakan bagi Injil, tidak bebas dari
pencobaan. Bila dihalangi dan dibebani dengan kecemasan sebab suatu kegagalan
di pihak sidang untuk memberikan kepada mereka tunjangan keuangan yang layak,
beberapa orang diserang dengan ganasnya oleh penggoda itu. Bila mereka melihat
pekerjaan mereka dihargai dengan sangat remehnya, mereka menjadi sedih. Benar
mereka memandang kepada waktu pehakiman untuk pahala mereka yang adil, dan hal
ini memberanikan mereka; tetapi dalam pada itu keluarga mereka harus mempunyai
makanan dan pakaian. Jika mereka dapat merasa bahwa mereka dibebaskan dari
perintah Ilahi mereka akan rela bekerja dengan tangannya. Tetapi mereka
menyadari bahwa waktu mereka kepunyaan Allah, meskipun pandangan yang singkat
dari mereka yang harus menyediakan bagi mereka dana yang cukup. Mereka bangkit
atas pencobaan untuk masuk ke dalam pencarian oleh mana dapat dengan segera
menempatkan diri sendiri melebihi jangkauan kekurangan, dan mereka meneruskan
untuk bekerja bagi kemajuan pekerjaan yang lebih mahal kepada mereka daripada
diri sendiri. Tetapi supaya melakukan hal ini, mereka boleh dipaksa untuk
mengikuti teladan Paulus dan sibuk untuk sementara waktu dalam pekerjaan jasmani
sementara meneruskan menjalankan pekerjaan kependetaan mereka. Hal ini mereka
lakukan untuk memajukan bukan saja minat mereka sendiri, melainkan minat
pekerjaan Allah di dunia ini.
Ada waktu‑waktu bila
tampaknya kepada hamba Allah mustahil untuk melakukan pekerjaan yang perlu
untuk dilaksanakan, sebab kurangnya alat untuk melaksanakan suatu pekerjaan
yang kuat dan teguh. Ada orang yang khawatir bahwa dengan alat‑alat yang dapat
mereka peroleh mereka tidak dapat melakukan segala perkara sehingga mereka merasa
itu kewajiban mereka untuk berbuat demikian. Tetapi jika mereka maju dalam
iman, keselamatan Allah akan dinyatakan, dan kemakmuran akan menyertai usaha‑usaha
mereka. Ia yang telah memerintahkan kepada pengikut‑pengikut‑Nya untuk pergi ke
segala pelosok dunia ini akan menahan tiap‑tiap pekerja yang setia kepada
perintah‑Nya untuk berusaha memasyhurkan pekabaran‑Nya.
Dalam melakukan pekerjaan‑Nya
Tuhan tidak selamanya menjadikan segala sesuatu nyata di hadapan hamba‑hamba‑Nya.
Ia kadang‑kadang mencoba kepercayaan umat‑Nya yang membawa keadaan‑keadaan yang
memaksa mereka maju di dalam iman. Sering Ia membawa mereka ke dalam tempat
yang sukar, dan meminta kepada mereka untuk maju bila nampaknya kaki mereka
menjamah air sungai Yordan. Adalah pada waktu seperti ini, bila doa hamba‑hamba‑Nya
naik kepada‑Nya dalam iman yang sungguh‑sungguh, Allah membuka jalan di hadapan
mereka dan membawa mereka keluar ke suatu tempat yang besar.
Bila pesuruh‑pesuruh Allah
mengenal tanggung jawab‑tanggung jawab mereka terhadap bagian‑bagian yang
berkekurangan dari kebun anggur Tuhan, dan dalam roh Pekerja yang Agung bekerja
dengan tidak kenal jerih lelah untuk pertobatan jiwa‑jiwa, malaikat‑malaikat
Allah akan menyediakan jalan bagi mereka, dan alat‑alat yang perlu untuk
menjalankan pekerjaan akan disediakan. Mereka yang diterangi akan memberikan
dengan limpah untuk menyokong pekerjaan yang dilakukan demi kepentingan mereka.
Mereka yang menyambut dengan leluasa kepada setiap panggilan untuk menolong,
dan Roh Allah akan menguasai hati mereka untuk menolong pekerjaan Allah bukan
saja di ladang‑ladang di dalam negeri, tetapi di daerah‑daerah seberang. Dengan
demikian kekuatan akan datang kepada kemajuan pekerjaan di tempat‑tempat lain,
dan pekerjaan Tuhan akan maju dalam cara yang ditentukan‑Nya
sendiri.
No comments:
Post a Comment