Dalam kehidupan dan pelajaran‑pelajaran‑Nya Kristus telah memberikan
contoh yang sempurna tentang pelayanan yang tidak mementingkan diri yang
bersumber dari Allah. Dengan menciptakan dunia, dan oleh menjunjung tinggi
segala perkara, Ia tetap melayani orang lain. "Karena dengan demikianlah
kamu menjadi anak‑anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi
orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar
dan orang yang tidak benar." Matius 5:45. Pelayanan yang ideal kepada Bapa
ini diamanatkan kepada Anak‑Nya. Yesus telah dikaruniakan untuk berdiri di atas
seluruh umat manusia, oleh teladan‑Nya mengajarkan apa arti menjadi seorang
pelayan. Seluruh hidup‑Nya berada di bawah hukum pelayanan. Ia melayani semua,
pelayanan untuk semua.
Berkali‑kali Yesus berusaha mendirikan prinsip ini di antara murid‑murid‑Nya.
Bila Yakobus dan Yohanes memohon untuk keunggulan mereka, Ia berkata:
"Barangsiapa yang ingin besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi
pelayanmu, dan barangsiapa yang ingin menjadi terkemuka di antara kamu,
hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk
dilayani dan untuk memberikan nyawa‑Nya menjadi tebusan bagi banyak
orang." Matius 20:26‑28 .
Sejak kenaikan‑Nya Kristus telah menyerahkan pekerjaan‑Nya di atas
dunia kepada duta besar, duta besar yang terpilih, melalui siapa Ia berbicara
kepada anak‑anak manusia dan melayani keperluan mereka. Kepala dari sidang‑Nya
yang besar itu mengawasi pekerjaan‑Nya yang dikerjakan oleh orang‑orang yang
diurapi Allah untuk bertindak sebagai wakil‑wakil‑Nya.
Kedudukan mereka yang telah dipanggil Allah untuk bekerja dalam
perkataan dan doktrin dalam membangun sidang‑Nya, adalah salah satu tanggung
jawab yang penting. Sebagai ganti Kristus mereka harus memohon pria dan wanita
untuk diperdamaikan dengan Allah; dan mereka dapat menggenapi misi mereka
sementara mereka menerima hikmat dan kuasa dari atas.
Pelayan‑pelayan Kristus adalah pengawal‑pengawal rohani dari orang‑orang
yang dipercayakan penjagaannya. Pekerjaan mereka disamakan dengan penjaga. Di
zaman dulu kala para penjaga sering ditempatkan di atas dinding kota, dari
tempat yang strategis mereka dapat mengamati tempat‑tempat penting yang harus
dijaga, dan memberi amaran tentang dekatnya musuh. Atas kesetiaan mereka
bergantung seluruh keamanan orang‑orang di dalamnya. Setiap saat mereka
dituntut untuk memanggil satu sama lain, guna memastikan apakah mereka siaga
dan tak ada bahaya yang menimpa mereka. Seruan kegembiraan atau pun amaran
dibawa dari seorang kepada lainnya, masing‑masing mengulangi panggilan itu
sampai menggema ke seluruh kota.
Kepada setiap pelayan Tuhan berkata: "Dan engkau anak manusia,
Aku akan menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bila engkau
mendengar suatu firman daripada‑Ku, peringatkanlah mereka demi nama‑Ku. Kalau
Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati, dan
engkau tidak berkata apa‑apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya
bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi
Aku menuntut pertanggunganjawab atas nyawanya daripadamu. Tetapi jika engkau
memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, . . . engkau
telah menyelamatkan nyawamu." Yehezkiel 33:7‑9.
Perkataan nabi itu menyatakan tanggung jawab yang sungguh‑sungguh dari
mereka yang telah ditentukan sebagai penjaga‑penjaga sidang Allah, juru kunci
rahasia Allah. Mereka harus berdiri sebagai penjaga‑penjaga pada dinding Sion,
membunyikan tanda bahaya pada waktu musuh sedang menghampiri. Jiwa‑jiwa ada
dalam bahaya untuk jatuh ke dalam penggodaan, dan mereka akan binasa kecuali
pelayan‑pelayan Allah setia kepada tugas mereka. Jika oleh suatu sebab perasaan
rohani mereka menjadi begitu beku sehingga mereka tidak dapat membedakan
bahaya, dan mereka lalai untuk memberi amaran kepada orang‑orang yang akan
binasa, Allah akan menuntut dari tangan mereka darah orang‑orang yang hilang
itu.
Adalah hak penjaga‑penjaga di tembok Sion itu untuk hidup begitu
dekat kepada Allah, dan mudah terbujuk oleh pengaruh Roh‑Nya, supaya Ia dapat bekerja
melalui mereka untuk memberitahukan kepada pria dan wanita tentang bahaya
mereka dan menunjukkan tempat yang aman kepada mereka. Dengan setia mereka
harus mengamarkan orang banyak tentang akibat pelanggaran, dan dengan setia
mereka harus memelihara kepentingan‑kepentingan sidang. Tidak ada waktu untuk
lega tanpa waspada sedikit pun. Pekerjaan mereka adalah suatu pekerjaan yang
menuntut kemampuan yang ada. Dalam bunyi sangkakala suara mereka harus lebih
nyaring, dan tidak pernah mereka menyuarakan keragu‑raguan dan tidak menentu.
Mereka bekerja bukan untuk upah, karena mereka menyadari bahwa merupakan
bencana jika mereka gagal untuk menyampaikan Injil, dan bukan karena pekerjaan
yang lain. Dipilih oleh Allah, dan dimeteraikan oleh darah penyerahan, mereka
harus membebaskan pria dan wanita dari kebinasaan yang mengancam.
Pendeta yang menjadi kawan sekerja Kristus akan mempunyai perasaan
yang mendalam tentang kerja keras dan pengorbanan yang dituntut untuk
melaksanakan dengan berhasil. Ia tidak belajar untuk kesenangan diri sendiri.
Ia melupakan dirinya sendiri. Dalam usaha mencari domba yang hilang ia tidak
menyadari bahwa ia sendiri lelah, dingin, dan lapar. Ia mempunyai hanya satu
tujuan menyelamatkan yang hilang.
Ia yang melayani di bawah panji‑panji Imanuel yang berlumuran darah,
harus melakukan apa yang menuntut usaha kepahlawanan dan tahan sabar. Tetapi
serdadu‑serdadu salib tanpa segan berdiri di garis pertempuran terdepan.
Sementara serangan musuh menekan dia, ia berbalik ke benteng untuk pertolongan,
dan sementara ia membawa kepada Tuhan janji‑janji Firman itu, ia dikuatkan bagi
tugas‑tugas saat itu. Ia menyadari pentingnya kekuatan dari atas. Kemenangan‑kemenangan
yang diperolehnya tidak menuntun kepada hal meninggikan diri sendiri, tetapi
membuat ia lebih bergantung pada Yang Mahakuasa. Bergantung kepada Kuasa itu,
ia disanggupkan untuk menyampaikan kabar selamat dengan teguh sehingga kabar
selamat itu dapat menggetarkan pikiran orang lain.
Ia yang mengajar sabda itu harus hidup berhubungan sendiri setiap
saat dengan Allah melalui doa dan mempelajari perkataan‑Nya, karena di sinilah
sumber kekuatan. Hubungan dengan Allah akan memberikan kepada usaha pendeta itu
suatu kekuatan yang lebih besar daripada pengaruh khotbahnya. Ia sendiri tidak
akan membiarkan dirinya kehilangan kuasa ini. Dengan kesungguhan yang tak dapat
disangkal, ia harus memohon kepada Allah untuk kekuatan dan melayakkan dia
menghadapi tugas dan ujian, dan untuk menjamah bibirnya dengan api suci. Begitu
longgar pegangan oleh duta‑duta Kristus terhadap kenyataan‑kenyataan abadi.
Jika manusia mau berjalan dengan Allah, Ia akan menyembunyikan mereka di celah‑celah
Batu Karang. Disembunyikan demikian rupa, sehingga mereka dapat memandang
Allah, sama seperti Musa memandang Dia. Oleh kuasa dan terang yang diberikan‑Nya
mereka dapat lebih mengerti dan menyelesaikan lebih daripada dari pertimbangan
yang terbatas yang mungkin akan terjadi.
Tipu muslihat Setan yang paling berhasil digunakan adalah terhadap
mereka yang sedih. Bila kekecewaan mengancam untuk mengalahkan pekerja Tuhan,
biarlah ia membentangkan di hadapan Allah keperluan‑keperluannya. Adalah
perlindungan surga atas Paulus sehingga ia mempercayai sepenuhnya terhadap
Allah. Lebih dari semua orang ia mengerti maksud kesusahan; tetapi mendengar
tangisan sebagai kemenangan, diserang dengan pencobaan dan pertentangan,
kakinya terus melangkah ke surga: "Sebab penderitaan ringan yang sekarang
ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala‑galanya, jauh
lebih besar daripada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang
kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah
sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." 2 Korintus 4:17,
18. Mata Paulus selalu tertuju kepada yang tiada kelihatan dan yang kekal.
Menyadari bahwa ia sedang berperang melawan kuasa gaib, ia meletakkan
ketergantungannya kepada Allah, dan dalamnya ia memperoleh kekuatan. Adalah
oleh melihat Dia yang tiada tampak, kekuatan jiwa diperoleh dan kuasa dunia
atas pikiran dan tabiat dipecahkan.
Seorang pendeta hendaknya bergaul bebas dengan orang banyak untuk
siapa ia bekerja, supaya dengan bersekutu dengan mereka ia boleh mengetahui
bagaimana menyesuaikan pengajarannya dengan kebutuhan mereka. Bila seorang
pendeta telah menyampaikan suatu khotbah, pekerjaannya baru saja dimulai.
Adalah pekerjaan perorangan untuk dikerjakan. Ia harus mendatangi rumah‑rumah
mereka, berbincang dan berdoa dengan mereka dalam kesungguh‑sungguhan dan
dengan kerendahan hati. Ada keluarga‑keluarga yang tak bisa dijangkau dengan
kebenaran Sabda Allah kecuali penatalayan‑penatalayan rahmat‑Nya mernasuki
rumah‑rumah mereka dan menunjukkan kepada mereka jalan yang lebih tinggi.
Tetapi hati mereka yang melakukan pekerjaan ini harus seirama dengan hati
Kristus.
Banyak yang dimaksudkan dalam perintah itu, "Pergilah ke semua
jalan dan lintasan dan paksalah orang‑orang yang ada di situ, masuk, karena
rumahku harus penuh." Lukas 14:23. Biarlah pendeta‑pendeta mengajarkan
kebenaran kepada keluarga‑keluarga, menyatu dengan mereka di mana ia bekerja,
dan sementara mereka bekerja sama dengan Allah, Ia akan membungkus mereka
dengan kuasa rohani. Kristus akan menuntun mereka di dalam pekerjaan mereka,
akan memberikan kata‑kata yang patut diucapkan sehingga merasuk sangat dalam di
hati para pendengarnya. Adalah hak bagi setiap pekerja untuk dapat berkata
bersama Paulus, "Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah
kepadamu." "Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka
umum maupun dalam perkumpulan‑perkumpulan di rumah kamu; . . . mereka bertobat
kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus." Kisah 20:27,
20, 21.
Juruselamat pergi dari rumah ke rumah, menyembuhkan orang sakit,
memberikan penghiburan kepada yang berduka, menenangkan orang yang dirundung
malang, membicarakan damai kepada orang yang putus asa. Ia meletakkan anak‑anak
kecil ke lengan‑Nya dan memberkati mereka, dan menyampaikan kata‑kata damai
kepada ibu‑ibu yang lelah. Dengan kelembutan yang tidak pernah gagal Ia menemui
setiap bentuk kesusahan dan penderitaan manusia. Ia melakukan bukan untuk diri‑Nya
sendiri melainkan untuk orang lain. Ia adalah hamba semua orang. Adalah makanan
dan minuman‑Nya untuk memberi pengharapan dan kekuatan kepada semua orang
kepada siapa Ia berhubungan. Dan sementara pria dan wanita mendengar kebenaran
yang keluar dari bibir‑Nya, sangat berbeda dengan dogma dan tradisi yang
diajarkan oleh para rabi, pengharapan terpancar dari hati mereka. Dalam ajaran‑Nya
ada suatu kesungguh‑sungguhan yang membawa pulang sabda‑Nya dengan kuasa yang
meyakinkan.
Pekerja‑pekerja Allah harus belajar cara kerja Kristus, supaya
mereka boleh membawa dari perbendaharaan sabda‑Nya yang akan mencukupkan
keperluan rohani mereka untuk siapa ia bekerja. Hanya dengan demikian mereka
dapat memenuhi kepercayaan mereka. Roh yang sama yang tinggal dalam Kristus
sementara Ia memberikan petunjuk yang secara terus‑menerus Ia terima, akan
menjadi sumber dari pengetahuan mereka dan rahasia dari kuasa di dalam membawa
pekerjaan Juruselamat di atas dunia.
Beberapa orang yang bekerja di dalam
bidang kependetaan telah gagal untuk mencapai kemajuan karena mereka tidak
menyerahkan perhatian mereka yang tidak terbagi kepada pekerjaan Tuhan. Pendeta‑pendeta
seharusnya tidak memperbesar keinginan selain daripada pekerjaan besar untuk
menuntun jiwa‑jiwa kepada Kristus. Nelayan‑nelayan yang dipanggil oleh Kristus,
saat itu juga meninggalkan pukat mereka lalu mengikut Dia. Pendeta‑pendeta
tidak dapat melakukan pekerjaan yang berkenan kepada Allah dan pada saat yang
sama melakukan perusahaan dagang yang besar. Perhatian yang terbagi seperti itu
akan mengaburkan arti rohani mereka. Pikiran‑pikiran dan hati dipenuhi dengan
perkara‑perkara duniawi, dan pekerjaan Kristus menduduki tempat yang kedua.
Oleh pengaruh‑pengaruh lingkungan sekitarnya mereka berusaha menyesuaikan
pekerjaan mereka kepada pekerjaan Allah gantinya menyesuaikan pengaruh‑pengaruh
lingkungan untuk dipersatukan dalam tuntutan‑tuntutan Allah.
Tenaga para pendeta seluruhnya dibutuhkan untuk panggilan yang mulia
dan agung. Kuasa‑kuasanya yang terbaik adalah milik Allah. Ia tidak boleh
terlibat dalam spekulasi, atau usaha‑usaha yang lain yang bisa memalingkan dia,
dari tugasnya yang besar. "Seorang prajurit yang sedang berjuang"
kata Paulus, "tidak memusingkan dirinya dengan soal‑soal penghidupannya,
supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya." 2 Timotius 2:4.
Dengan demikian rasul itu menekankan penyerahan tanpa syarat sebagai kebutuhan
pendeta di dalam pelayanan Allah. Pendeta yang sepenuhnya berserah kepada Allah
enggan ikut ambil bagian dalam usaha yang menghindarkan dia dari penyerahan
sepenuhnya kepada panggilan yang suci. Ia bukan bekerja keras untuk kehormatan
duniawi atau kekayaan; tujuan satu‑satunya ialah untuk menyampaikan kepada
orang lain tentang Juruselamat, yang menyerahkan diri‑Nya sendiri untuk
menyadarkan umat manusia kekayaan dari hidup yang kekal. Kerinduannya yang
tertinggi bukanlah menimbun harta di dunia ini, tetapi menarik perhatian dari orang‑orang
yang bersikap acuh tak acuh dan tidak setia kepada kenyataan‑kenyataan abadi.
Ia boleh diminta untuk mengambil bagian dalam perusahaan yang menjanjikan
keuntungan dunia yang besar tetapi kepada ujian seperti itu ia menjawab,
"Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan
nyawanya?" Markus 8:36.
Setan menghadapkan bujukan ini kepada Kristus, mengetahui bahwa jika
Ia menerimanya, dunia tidak pernah dapat ditebus. Dan di bawah samaran yang
berbeda‑beda ia menghadapkan ujian‑ujian yang sama kepada para pekerja Allah
dewasa ini, mengetahui bahwa mereka akan tertipu olehnya dan tidak setia kepada
kepercayaan mereka.
Bukan kehendak Allah agar para pekerja‑Nya harus menjadi kaya.
Mengenai hal itu, Paulus menuliskan kepada Timotius: "Karena akar segala
kejahatan ialah cinta akan uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang
telah menyimpang dari iman dan menyiksa diri sendiri dan berbagai‑bagai duka.
Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan,
ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan." Oleh teladan
sebagaimana yang diajarkan, duta‑duta Kristus haruslah memperingatkan
"orang‑orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan
berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan kepada Allah
yang dalam kekayaan‑Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.
Perhatikanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka
memberi dan membagi dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang
baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang
sebenarnya." 1 Timotius 6:10, 11, 17‑19.
Pengalaman‑pengalaman dan petunjuk rasul Paulus mengenai kesucian
pekerjaan pendeta adalah suatu sumber pertolongan dan inspirasi bagi mereka
yang giat dalam pekerjaan Injil. Hati Paulus terbakar oleh kasih terhadap orang
berdosa, dan memberikan segala tenaga bagi pekerjaan penarikan jiwa. Belum
pernah ada seorang pekerja yang hidup menyangkal diri dan sabar. Berkat‑berkat
yang diterimanya dibagikan dalam berbagai kesempatan untuk menjadi berkat
kepada orang lain. Ia tidak pernah kehilangan kesempatan untuk berbicara
mengenai Juruselamat atau menolong mereka yang di dalam kesusahan. Ia pergi
dari satu tempat ke tempat yang lain, mengkhotbahkan Injil Kristus dan
mendirikan sidang‑sidang. Bila ia mendapati kesalahan dari pendengarannya
sendiri ia menentang yang salah dan berusaha membalikkan jejak pria dan wanita
kepada jalan yang benar.
Paulus tidak pernah melupakan sidang‑sidang yang telah didirikannya.
Setelah mengadakan perjalanan misionaris, ia dan Barnabas mengunjungi kembali
sidang‑sidang yang telah didirikannya, memilih di antara pria dan wanita yang
dapat mereka latih untuk menggabungkan diri dalam pekerjaan penginjilan.
Gambaran pekerjaan Paulus memberi suatu pelajaran penting bagi para
pendeta dewasa ini. Rasul itu menjadikan sebagian pekerjaannya mendidik orang‑orang
muda untuk pekerjaan kependetaan. Ia membawa serta mereka dalam perjalanan
misionarisnya, dengan demikian mereka memperoleh suatu pengalaman yang kemudian
menyanggupkan mereka untuk menduduki jabatan yang dipercayakan. Jika berpisah
dengan mereka ia selalu berhubungan baik dengan pekerjaan mereka, dan dalam
suratnya kepada Timotius dan kepada Titus hal itu menjadi bukti betapa dalamnya
kerinduan untuk kemajuan mereka.
Pekerja‑pekerja yang berpengalaman dewasa ini melakukan suatu
pekerjaan yang mulia bila melatih pekerja‑pekerja yang lebih muda dan
meletakkan beban itu ke pundak mereka, gantinya berusaha menjalankan segala
beban itu dengan kekuatan sendiri.
Paulus tidak pernah melupakan tanggung jawab yang diletakkan
kepadanya sebagai pekerja Kristus, atau jika jiwa‑jiwa itu hilang karena kurang
setia pada pihaknya, Allah akan menganggap sebagai tanggung jawabnya. "Aku
telah menjadi pelayan jemaat itu," ia menyatakan tentang Injil,
"sesuai tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman‑Nya
dengan sepenuhnya kepada kamu, yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad
dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang‑orang
kudus‑Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya
rahasia itu di antara bangsa‑bangsa yang lain, yaitu: Kristus ada di tengah‑tengah
kamu, Kristus yang adalah pengharapan kemuliaan! Dialah yang kami beritakan,
apabila tiap‑tiap orang kami nasihati dan tiap‑tiap orang kami ajari dalam
segala hikmat, untuk memimpin tiap‑tiap orang kepada kesempurnaan dalam
Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai
dengan kuasa‑Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku." Kolose 1:25‑29.
Perkataan‑perkataan ini muncul di hadapan pekerja Kristus suatu
pencapaian yang tinggi, pencapaian yang dapat dijangkau oleh semua orang,
menempatkan diri sendiri di bawah pengendalian Guru Besar yang belajar setiap
saat dari sekolah Kristus. Kuasa perintah Allah adalah tak terbatas, dan
pelayan yang dalam kebutuhannya yang besar tidak menutup diri sendiri dengan
Tuhan dapat dipastikan bahwa ia akan menerima sesuatu yang akan menjadi bagi
para pendengarnya suatu kesedapan hidup kepada hidup.
Tulisan‑tulisan Paulus menunjukkan bahwa pelayan Injil harus menjadi
suatu teladan kebenaran yang diajarkannya, "tidak memberi sebab orang
tersandung, supaya pelayanan kami jangan dicela." Tetapi perkataannya
sendiri ia telah tinggalkan kepada kita suatu gambaran dalam suratnya kepada
orang‑orang percaya di Korintus: "Sebaliknya, dalam segala hal kami
menunjukkan bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh
kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera,
dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga‑jaga dan
berpuasa; dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati;
dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik; dalam pemberitaan kebenaran dan
kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata‑senjata keadilan untuk menyerang
atau pun untuk membela ketika dihormati dan ketika dihina ketika diumpat atau
dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai, sebagai orang yang
tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami
hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang yang
berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang yang miskin, namun
memperkaya banyak orang; sebagai orang tidak bermilik, sekalipun kami memiliki
segala sesuatu." 2 Korintus 6:3, 4‑10.
Kepada Titus ia menulis: "Demikian juga dengan orang‑orang
muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal dan
jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau
jujur dan bersungguh‑sungguh dalam pengajaranmu, sehat tidak bercela dalam
pemberitaanmu, sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal‑hal buruk yang
dapat mereka sebarkan tentang kita." Titus 2:6‑8.
Tidak ada sesuatu yang lebih mulia pada pemandangan Allah daripada
pelayan‑pelayan‑Nya, yang keluar ke tempat‑tempat gersang di dunia ini untuk
menaburkan benih kebenaran, sambil menantikan penuaian. Tidak ada lain hanyalah
Kristus yang dapat mengukur kekuatiran hamba‑hamba‑Nya sementara mereka mencari
yang hilang. Ia memberikan Roh‑Nya kepada mereka, dan oleh usaha mereka jiwa‑jiwa
dituntun untuk berbalik dari dosa kepada kebenaran.
Allah sedang memanggil orang‑orang yang rela meninggalkan ladang
mereka, perusahaan mereka, kalau perlu keluarga mereka, untuk menjadi
misionaris bagi‑Nya. Dan panggilan itu akan disambut. Pada waktu dulu ada orang
yang digerakkan oleh kasih Kristus telah meninggalkan kesenangan rumah dan
sanak saudara, bahkan istri dan anak‑anak, untuk pergi ke negeri‑negeri asing
bagi orang‑orang yang hilang, di antara penyembah‑penyembah berhala dan orang‑orang
biadab, guna memasyhurkan kabar kemurahan. Banyak orang dalam usaha ini telah
kehilangan hidup mereka, tetapi orang‑orang telah didorong untuk menjalankan
pekerjaan itu. Dengan demikian langkah demi langkah pekerjaan Kristus terus
maju, dan benih yang ditaburkan dalam kesusahan telah menghasilkan tuaian yang
berlimpah. Pengetahuan tentang Allah telah meluas ke mana‑mana dan panji salib
itu telah ditegakkan di negeri‑negeri kafir.
Untuk pertobatan seorang berdosa seorang pelayan harus mengerahkan
segala sumber dan tenaganya. Jiwa yang telah dijadikan Allah dan telah ditebus
oleh Kristus, besar nilainya karena kemungkinan‑kemungkinan di depannya,
keuntungan rohani yang telah diberikan kepadanya, kesanggupan‑kesanggupan yang
dapat dimiliki jika dikuatkan oleh sabda Allah dan sifat tidak binasa yang
boleh dimiliki melalui pengharapan yang ada di dalam Injil. Dan jika Kristus
meninggalkan sembilan puluh sembilan supaya Ia dapat mencari dan menyelamatkan
satu domba yang hilang, dapatkah kita dibenarkan oleh berbuat yang sedikit itu?
Bukankah suatu penolakan untuk bekerja sebagaimana Kristus bekerja, berkorban
sebagaimana Ia berkorban, suatu pengkhianatan kepada kepercayaan yang murni,
bahkan suatu penghinaan kepada Allah?
Hati pelayan yang besar dipenuhi oleh suatu kerinduan yang sungguh‑sungguh
untuk menyelamatkan jiwa‑jiwa. Waktu dan kekuatan digunakan, usaha yang tidak
mengenal lelah tak dielakkan; karena orang‑orang lain harus mendengar kebenaran
yang dibawa kepada jiwanya sendiri seperti kegembiraan, damai dan kesukaan. Roh
Kristus ada padanya. Ia memperhatikan jiwa‑jiwa sebagai sesuatu yang patut
diperhitungkan. Dengan mata yang tertuju kepada salib Kalvari, memandang
Juruselamat yang ditinggikan, bergantung kepada rahmat‑Nya, percaya bahwa Ia
akan menyertai dia sampai kesudahan alam, sebagai perisai, kekuatan, dan
berdaya guna, ia bekerja bagi Allah. Dengan undangan dan permohonan kepada
Yesus, dan di surga ia terhitung di antara mereka yang "terpanggil, yang
telah dipilih dan yang setia." Wahyu 17:14.
No comments:
Post a Comment