Dengan terbukanya pelayaran
itu, perwira dan orang‑orang tahanannya memulai perjalanan mereka ke Roma.
Sebuah kapal Aleksandria memakai lambang Dioskuri telah berlabuh selama musim
dingin di Malta dalam perjalanannya ke sebelah barat, dan penumpang‑penumpang
itu naik di kapal ini. Meskipun agak terlambat sebab angin sakal, pelayaran itu
dilaksanakan dengan aman dan kapal itu membuang sauh di pelabuhan Putioli, di
pantai Italia.
Di tempat ini ada beberapa
orang Kristen, dan mereka memohon kepada rasul itu untuk tinggal dengan mereka
selama tujuh hari, suatu kesempatan yang diperkenankan dengan ramahnya oleh
perwira itu. Sejak menerima surat kiriman Paulus kepada orang‑orang Roma, orang‑orang
Kristen di Italia telah menanti dengan penuh pengharapan atas kunjungan rasul
itu. Mereka tidak memikirkan untuk melihat dia datang sebagai seorang tahanan,
tetapi penderitaannya saja menjadikan dia lebih banyak disayangi mereka. Jarak
antara Putioli dan Roma hanya seratus empat puluh mil, dan kota pelabuhan itu
selalu ada hubungan yang tetap dengan kota besar itu, lalu orang‑orang Kristen
di Roma diberitahukan tentang kedatangan Paulus, dan beberapa dari mereka mulai
menyongsong dan mengucapkan selamat datang kepadanya.
Pada hari yang kedelapan
sesudah mendarat, perwira dan orang‑orang itu pun berangkatlah ke Roma. Yulius yang
rela menganugerahkan kepada rasul itu setiap pertolongan yang ada dalam
kuasanya; tetapi ia tidak dapat mengubah keadaannya sebagai seorang tahanan,
atau melepaskan dia dari rantai yang mengikat dia kepada serdadu pengawalnya.
Adalah dengan berat hati Paulus pergi dalam kunjungannya yang sudah lama
dinanti‑nantikannya ke kota besar dunia.
Alangkah besar bedanya
keadaan mereka yang sudah lama dinanti‑nantikan! Bagaimanakah ia, dibelenggu
dan dinodai, untuk memasyhurkan Injil? Pengharapannya untuk memenangkan banyak
jiwa ke dalam kebenaran di Roma, rupanya ditakdirkan mengecewakan.
Akhirnya orang‑orang yang
bepergian itu tiba di Forum Apius, empat puluh mil dari Roma. Sementara mereka
berjalan melewati orang banyak yang mengerumuni jalan besar itu, seorang tua
berambut putih, dirantai bersama penjahat‑penjahat yang nampaknya kejam,
menerima pandangan yang menghina dan menjadikan sasaran senda gurau yang kasar
dan mengejek.
Tiba‑tiba suatu tangisan
kesukaan kedengaran, dan seorang melompat dari antara orang banyak yang sedang
berlalu, dan mendekap leher orang tahanan itu, seraya memeluknya dengan air
mata dan kesukaan, sebagai seorang anak memberi sambutan kepada ayahnya yang
sudah lama tidak hadir. Berkali‑kali pemandangan itu diulangi, sementara dengan
mata yang tajam oleh pengharapan yang disertai kasih sayang, banyak orang
melihat dalam tawanan‑tawanan yang dirantai itu seseorang yang di Korintus, di
Filipi, di Efesus, telah menyampaikan kepada mereka perkataan kehidupan.
Sementara murid‑murid yang
berhati ramah mengerumuni bapa mereka dalam Injil, seluruh rombongan terhenti.
Prajurit‑prajurit itu merasa kurang sabar karena penangguhan itu, namun mereka
tidak sampai hati mengganggu pertemuan yang berbahagia ini; karena mereka juga
telah belajar menghormati dan menghargai tahanan mereka. Dalam wajah yang lelah
dan menderita sakit, murid‑murid itu melihat wajah Kristus yang dipantulkan.
Mereka memastikan kepada Paulus bahwa mereka tidak melupakan dia atau berhenti
mengasihi dia; bahwa mereka berutang budi kepadanya untuk pengharapan yang
menyenangkan yang menggelorakan hidup mereka dan memberikan kepada mereka damai
daripada Allah. Dalam kasih mereka yang meluap‑luap mereka mau memikul dia di
atas pundak mereka sepanjang jalan ke kota, sekiranya mereka diberi kesempatan.
Hanya sedikit yang
menyadari arti perkataan Lukas, bahwa bila Paulus melihat saudara‑saudaranya,
"ia mengucap syukur kepada Allah lalu kuatlah hatinya. " Di tengah‑tengah
tangisan itu, teman‑teman orang percaya yang menaruh simpati yang tidak merasa
malu karena dia diikat, rasul itu memuji Allah dengan nyaringnya. Awan kedukaan
yang telah tinggal di dalam jiwanya telah disapu bersih. Hidup Kekristenannya
telah mengalami ujian, penderitaan, dan kekecewaan berkali‑kali, tetapi pada saat
itu ia merasa dibalas dengan limpahnya. Dengan langkah yang lebih teguh dan
hati yang bergembira ia meneruskan perjalanannya. Ia tidak mengeluh untuk masa
lampau, atau takut akan masa depan. Perbudakan dan kesusahan menanti dia, ia
tahu itu; tetapi ia mengetahui juga bahwa adalah menjadi tugasnya melepaskan
jiwa‑jiwa dari perhambaan yang lebih mengerikan, dan bersuka dalam
penderitaannya untuk nama Kristus.
Di Roma perwira Yulius
menyerahkan tahanannya kepada kapten pengawal kaisar. Laporan baik yang diberikannya
tentang Paulus, bersama‑sama dengan surat Festus, menyebabkan rasul itu
disambut dengan senang oleh kapten kepala, dan gantinya dibuang ke dalam
penjara, ia diizinkan tinggal dalam rumah yang disewanya sendiri. Meskipun
tetap dirantai kepada seorang prajurit, ia bebas menerima kawan‑kawannya dan
bekerja untuk kemajuan pekerjaan Kristus.
Banyak orang Yahudi yang
telah dibuang dari Roma beberapa tahun sebelumnya, telah diizinkan untuk
kembali, sehingga sejumlah besar kedapatan di sana sekarang. Kepada orang‑orang
ini, lebih dulu dari semuanya, Paulus memutuskan untuk mengemukakan fakta‑fakta
mengenai dirinya dan pekerjaannya, sebelum musuh‑musuhnya mempunyai kesempatan
yang menyakitkan hati terhadapnya. Sebab itu tiga hari setelah ia tiba di Roma,
ia memanggil orang‑orang terkemuka dan dengan cara sederhana dan langsung ia
menyatakan mengapa ia telah datang ke Roma sebagai seorang tahanan.
"Saudara‑saudara,"
katanya, "meskipun aku tidak berbuat kesalahan terhadap bangsa kita atau
terhadap adat istiadat nenek moyang kita, namun aku ditangkap di Yerusalem dan
diserahkan kepada orang‑orang Roma. Setelah aku diperiksa, mereka bermaksud
melepaskan aku, karena tidak terdapat sesuatu kesalahan padaku yang setimpal
dengan hukuman mati. Tetapi orang‑orang Yahudi menentangnya dan karena itu
terpaksalah aku naik banding kepada Kaisar, tetapi bukan dengan maksud untuk
mengadukan bangsaku. Itulah sebabnya aku meminta, supaya aku melihat kamu dan
berbicara dengan kamu, sebab justru karena pengharapan Israellah aku diikat
dengan belenggu ini."
Ia tidak berkata apa‑apa
tentang perlakuan kejam yang telah dideritanya di tangan orang‑orang Yahudi,
dan tentang usaha mereka yang berulang kali untuk membunuh dia. Perkataannya
ditandai dengan peringatan dan kelemahlembutan. Ia tidak berusaha mencari untuk
memenangkan simpati atau perhatian pribadi, melainkan untuk membela kebenaran
dan mempertahankan kemuliaan Injil.
Sebagai jawabnya, pendengar‑pendengarnya
menyatakan bahwa mereka tidak menerima tuduhan terhadap dia dengan surat secara
umum atau tersendiri, dan tak seorang pun dari orang‑orang Yahudi yang telah
datang ke Roma menuduh dia tentang suatu kejahatan. Mereka juga menyatakan
suatu keinginan yang benar untuk mendengar sendiri alasan untuk imannya dalam
Kristus. "Sebab tentang mazhab ini," mereka katakan, "kami tahu,
bahwa di mana‑mana ia mendapat perlawanan."
Sebab mereka sendiri
menginginkannya, di mana Paulus meminta kepada mereka untuk mengasingkan suatu
hari di mana ia dapat memberikan kepada mereka kebenaran‑kebenaran Injil. Pada
waktu yang ditentukan, banyak orang yang datang bersama‑sama. "Ia
menerangkan dan memberi kesaksian kepada mereka tentang Kerajaan Allah; dan
berdasarkan hukum Musa dan kitab para nabi ia berusaha meyakinkan mereka
tentang Yesus. Hal itu berlangsung dari pagi sampai sore." Ia menceritakan
pengalamannya sendiri, dan mengemukakan alasan dari kitab Perjanjian Lama dalam
kesederhanaan, kesungguh‑sungguhan dan kuasa.
Rasul itu menunjukkan bahwa
agama tidak bergantung pada tatacara dan upacara, kepercayaan dan teori. Jika
sekiranya demikian, sifat manusia dapat memahaminya oleh penyelidikan,
sebagaimana ia memahami perkara‑perkara duniawi. Paulus mengajarkan bahwa agama
adalah sesuatu yang praktis dan tenaga yang menyelamatkan, suatu prinsip yang
sepenuhnya dari Allah, suatu pengalaman pribadi tentang kuasa Allah yang
memperbarui jiwa.
Ia menyatakan bagaimana
Musa telah menunjukkan Israel kepada Kristus sebagai Nabi yang mereka harus
dengar; bagaimana segala nabi telah menyaksikan tentang Dia sebagai penawar
Allah yang besar, seorang yang tidak bersalah, yang telah memikul dosa orang‑orang
yang bersalah. Ia tidak menemukan kesalahan dengan pemeliharaan akan bentuk‑bentuk
dan upacara‑upacara, tetapi menunjukkan bahwa sementara mereka mempertahankan
upacara agama dengan ketelitian yang besar, mereka sedang menolak Dia yang
menjadi bayang‑bayang dari semua upacara itu.
Paulus menyatakan bahwa
dalam keadaan yang belum bertobat ia telah mengenal Kristus, bukan oleh karena
perkenalan pribadi, tetapi hanya oleh pengertian yang ia, sebagaimana juga
orang lain, menghargai tabiat dan pekerjaan Mesias yang akan datang. Ia telah
menolak Yesus orang Nazaret sebagai seorang penipu sebab Ia tidak memenuhi
gambaran ini. Tetapi sekarang pandangan Paulus tentang Kristus dan pekerjaan‑Nya
sudah jauh lebih rohani dan memuliakan, karena ia sudah bertobat. Rasul itu
menegaskan bahwa ia tidak mengemukakan kepada mereka Kristus menurut daging.
Herodes telah melihat Kristus pada hari‑hari kemanusiaan‑Nya; Hanas telah
melihat Dia; Pilatus dan imam‑imam dan penghulu‑penghulu telah melihat Dia;
serdadu‑serdadu Roma telah melihat Dia. Tetapi mereka tidak melihat Dia sebagai
Penebus yang dimuliakan. Melihat Kristus dengan iman, mempunyai pengetahuan
rohani tentang Dia, lebih dikehendaki daripada pengenalan pribadi dengan Dia
pada waktu Ia kelihatan di atas dunia. Kerukunan dengan Kristus yang dinikmati
oleh Paulus sekarang adalah lebih erat, lebih tahan lama, daripada hanya
persahabatan duniawi dan manusiawi.
Sementara Paulus berbicara
tentang apa yang telah diketahuinya dan menyaksikan apa yang telah dilihatnya,
mengenai Yesus orang Nazaret sebagai pengharapan bangsa Israel, mereka mencari
kebenaran dengan jujur akan mendapat keyakinan. Terhadap beberapa pemikiran,
sekurang‑kurangnya perkataannya memberi kesan yang tidak pernah akan sirna.
Tetapi yang lain dengan keras kepala menolak untuk menerima kesaksian yang
sederhana akan Kitab Suci, meskipun apabila dipersembahkan kepada mereka oleh
seorang yang mempunyai terang yang khusus dari Roh Suci. Mereka tidak
menyangkal alasannya, tetapi menolak untuk menerima kesimpulan‑kesimpulannya.
Berbulan‑bulan telah lewat
sesudah Paulus tiba di Roma, sebelum orang‑orang Yahudi di Yerusalem menghadap
secara pribadi untuk menyampaikan tuduhan mereka terhadap orang tahanan itu.
Mereka telah berkali‑kali dihalangi dalam rencana mereka; sekarang sebab Paulus
harus diadili di muka pengadilan Kerajaan Roma yang tertinggi, mereka tidak
mempunyai keinginan menyabung nyawa dalam kekalahan yang lain. Lisias, Feliks,
Festus, dan Agripa semuanya telah menyatakan kepercayaan mereka dalam keadaan
yang tidak bersalah. Musuh‑musuhnya dapat mengharapkan kemajuan dengan berusaha
dengan tipu daya untuk mempengaruhi Kaisar untuk kepentingan mereka.
Penangguhan agar memperpanjang waktu adalah tujuan mereka, sebagaimana hal itu
akan memberikan kepada mereka waktu untuk menyempurnakan dan menjalankan
rencana mereka secara pribadi terhadap rasul itu.
Dalam kebijaksanaan Allah
penundaan ini mengakibatkan kemajuan pekerjaan Injil. Dengan kebaikan mereka
yang menjaga Paulus, ia diizinkan tinggal dalam rumah yang luas, di mana ia
dengan leluasa dapat bertemu dengan kawan‑kawannya dan juga menyampaikan
kebenaran setiap hari kepada mereka yang datang untuk mendengar. Jadi selama
dua tahun ia meneruskan pekerjaannya, "dengan terus terang tanpa rintangan
apa‑apa ia memberitahukan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus
Kristus."
Selama waktu itu sidang‑sidang
yang telah didirikannya di berbagai negeri tidak dilupakan. Menyadari bahaya‑bahaya
yang mengancam orang‑orang bertobat kepada iman mereka yang baru, rasul itu
berusaha sedapat‑dapatnya untuk memenuhi keperluan mereka dengan surat amaran
dan nasihat praktis. Dan dari Roma ia mengirim pekerja‑pekerja yang berserah
untuk bekerja bukan saja kepada sidang‑sidang ini, tetapi dalam ladang‑ladang
yang ia sendiri tidak sempat kunjungi. Pekerja‑pekerja ini, sebagai gembala‑gembala
yang bijaksana, memperkuat pekerjaan yang dimulai oleh Paulus dengan sangat
baik; dan rasul itu, yang selalu diberitahukan tentang keadaan dan bahaya‑bahaya
oleh tetap berhubungan dengan mereka, disanggupkan untuk menjalankan pengawasan
yang bijaksana atas semuanya.
Dengan demikian, meskipun
tampaknya terpisah dari pekerjaan yang giat, Paulus memberikan pengaruh yang
lebih luas dan lebih tahan lama daripada kalau ia bebas mengadakan perjalanan
di antara sidang‑sidang sebagaimana pada tahun‑tahun sebelumnya. Sebagaimana
seorang tahanan Tuhan, ia mempunyai pegangan yang lebih teguh kepada kasih
saudara‑saudaranya; perkataannya, yang ditulis oleh seorang yang terikat untuk
nama Kristus, mempunyai perhatian dan kehormatan yang besar daripada yang
mereka punyai bila ia berada dengan mereka secara pribadi. Orang‑orang percaya menyadari
betapa beratnya beban yang ditanggungnya untuk kepentingan mereka sampai Paulus
tidak diangkat dari mereka. Sampai saat ini mereka telah memaafkan diri mereka
sendiri dari tanggung jawab dan memikul beban sebab mereka kekurangan
kebijaksanaan, akal budi, dan tenaga; tetapi sekarang, ditinggalkan dalam hal
kurang pengalaman untuk mempelajari pelajaran‑pelajaran yang tidak ditolak
mereka, mereka menghargai amaran‑amarannya, nasihat‑nasihatnya, dan petunjuk‑petunjuknya
sebagaimana mereka belum menghargai pekerjaan pribadinya. Dan sementara mereka
mempelajari keberanian dan imannya selama ia dipenjarakan untuk waktu yang
lama, mereka dirangsang kepada kesetiaan dan semangat yang lebih besar dalam
pekerjaan Kristus.
Di antara pembantu‑pembantu
Paulus di Roma banyak teman‑teman dan sahabat‑sahabat sekerjanya dulu. Lukas
"tabib yang kekasih~" yang telah mengunjungi dia dalam perjalanannya
ke Yerusalem, ketika dipenjarakan di Kaisarea, dan dalam perjalanan yang cukup
berbahaya ke Roma, masih dengan dia. Timotius juga memberikan penghiburan
kepadanya. Tikhikus, "saudara kita yang kekasih, hamba yang setia dan
kawan pelayanan dalam Tuhan," berdiri dengan mulia di samping rasul itu.
Demas dan Markus berada dengan dia. Aristarkhus dan Epafras adalah
"temanku sepenjara." Kolose 4:7‑14.
Sejak tahun‑tahun permulaan
dari pengakuan imannya, pengalaman Kristen Markus telah mendalam. Sementara ia
mempelajari lebih erat akan kehidupan dan kematian Kristus ia telah mendapat
pandangan yang lebih jelas tentang tugas Juruselamat, kesukaran dan tantangan‑tantangannya.
Mempelajari bekas luka pada tangan dan kaki Kristus, tanda pelayanan‑Nya kepada
manusia, dan lamanya di mana Ia menyerahkan diri sendiri telah menuntun untuk
menyelamatkan yang hilang dan yang binasa, Markus rela untuk mengikuti Tuhannya
pada jalan pengorbanan diri. Sekarang, bersama‑sama senasib sepenanggungan
dengan Paulus sebagai seorang tawanan, ia mengerti lebih baik dari sebelumnya
bahwa adalah keuntungan yang tak terkatakan untuk memperoleh Kristus, kerugian
yang tak terbatas untuk memperoleh dunia dan kehilangan jiwa untuk siapa
penebusan darah Kristus telah dicurahkan. Menghadapi ujian berat dan
kesengsaraan, Markus maju dengan tabah, pembantu rasul yang bijaksana dan
dikasihi itu.
Demas, tabah untuk
sementara waktu, kemudian meninggalkan pekerjaan Kristus. Berkenaan dengan ini,
Paulus menulis, "Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan
aku." 2 Timotius 4:10. Untuk keuntungan duniawi, Demas menukar dengan
setiap pertimbangan yang tinggi dan mulia. Betapa singkatnya penukaran itu!
Memiliki hanya harta dan kehormatan duniawi, Demas sungguh miskin, tetapi
banyak yang dapat disebutkan dengan sombongnya sebagai miliknya sendiri;
sementara Markus, memilih untuk menderita bersama Kristus, memiliki kekayaan
abadi, terhitung di dalam surga sebagai waris Allah sewaris dengan Anak‑Nya.
Di antara mereka yang
memberikan hati mereka kepada Allah oleh pekerjaan Paulus di Roma adalah
Onesimus, seorang budak kafir yang telah berbuat salah kepada tuannya, Filemon,
seorang Kristen yang percaya di Kolose, dan telah meluputkan diri ke Roma.
Dalam kebaikan hatinya, Paulus berusaha meringankan kemiskinan dan kedukaan
dari pelarian yang sedih dan kemudian berusaha menyebarkan terang kebenaran ke
dalam pikirannya yang gelap. Onesimus mendengar perkataan kehidupan, mengaku
dosa‑dosanya, dan dipertobatkan kepada iman Kristus.
Onesimus membuat dirinya
dikasihani oleh Paulus oleh kesalehan dan kesungguh‑sungguhannya, tidak kurang
daripada penjagaannya yang lembut untuk kesejahteraan rasul itu, dan
semangatnya dalam memajukan pekerjaan Injil. Paulus melihat di dalam dia sifat‑sifat
tabiat yang akan menjadikannya suatu penolong yang berguna dalam pekerjaan
misionaris, dan ia menasihatkan dia untuk kembali tanpa bertangguh kepada
Filemon, memohon keampunannya, dan merencanakan untuk masa depan. Rasul itu
berjanji untuk bertanggung jawab atas jumlah yang telah dirampoknya dari
Filemon. Ketika Tikhikus hampir menyampaikan surat‑surat resmi ke berbagai
sidang di Asia Kecil, ia mengutus Onesimus mendampinginya. Itu adalah suatu
ujian yang berat bagi hambanya untuk menyerahkan dirinya sendiri kepada tuannya
yang ia telah berbuat kesalahan tetapi ia telah benar‑benar bertobat dan ia
tidak mengesampingkannya dari kewajiban ini.
Paulus menjadikan Onesimus
pembawa surat kepada Filemon, dalam mana dengan kebijaksanaan dan keramah‑tamahannya
yang luar biasa, rasul itu memohon sebab dari budak yang bertobat dan
menyatakan suatu keinginan untuk memelihara pekerjaannya untuk masa yang akan
datang. Surat itu diawali dengan salam yang mengharukan kepada Filemon sebagai
sahabat dan teman sekerja:
"Kasih karunia dan
damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai
kamu. Aku mengucap syukur kepada Allahku, setiap kali aku mengingat engkau
dalam doaku, karena aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan
tentang imanmu kepada Tuhan Yesus. Dan aku berdoa, agar persekutuanmu di dalam
iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk
Kristus." Rasul itu teringat kepada Filemon bahwa tiap‑tiap maksud yang
baik dan sifat tabiat yang ia miliki adalah karena rahmat Kristus; hal ini saja
telah menjadikan dia berbeda dari sifat yang suka melawan dan yang berdosa.
Rahmat yang sama dapat menjadikan penjahat yang bejat menjadi seorang anak
Allah dan seorang pekerja yang berguna dalam Injil.
Paulus dapat mendesak
kepada Filemon kewajibannya sebagai seorang Kristen; tetapi ia lebih suka
memilih bahasa permohonan: "Aku Paulus, yang sudah menjadi tua, lebih lagi
sekarang di penjara karena Kristus Yesus, mengajukan permintaan kepadamu
mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yaitu Onesimus dulu
memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna bagimu dan bagiku."
Rasul itu meminta kepada
Filemon, mengingat akan pertobatan Onesimus, untuk menerima budak yang bertobat
sebagai anaknya sendiri, menunjukkan kepadanya kasih yang sedemikian itu
sehingga ia mau memilih tinggal dengan tuannya yang dulu, "bukan lagi sebagai
hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang
kekasih." Ia menyatakan keinginannya untuk menahan Onesimus sebagai
seorang yang dapat melayani kepadanya dalam tanggungannya sebagaimana Filemon
sendiri akan lakukan, meskipun ia tidak menginginkan pelayanannya, kecuali
Filemon oleh kemauannya sendiri membebaskan budak itu.
Rasul itu sungguh
mengetahui kekerasan yang dijalankan oleh tuan‑tuan terhadap hamba‑hamba
mereka, dan ia mengetahui juga bahwa Filemon sangat marah karena kelakuan hambanya.
Ia mencoba menulis kepadanya dalam suatu cara yang akan membangkitkan
perasaannya yang dalam dan halus sebagai seorang Kristen. Pertobatan Onesimus
telah menjadikan dia saudara seiman, dan setiap hukuman yang dibebankan kepada
orang yang baru bertobat ini akan dianggap oleh Paulus sebagai dibebankan
kepada dirinya sendiri.
Paulus dengan sukarela
bermaksud untuk menanggung semua utang Onesimus supaya seorang yang bersalah
dapat dihindarkan dari aib hukuman, dan menikmati hak‑hak yang telah dikorbankannya.
"Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman," ia menulis kepada
Filemon, "terimalah dia seperti aku sendiri. Dan kalau dia sudah merugikan
engkau atau pun berutang kepadamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku aku,
Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan
membayarnya."
Betapa tepatnya suatu
gambaran tentang kasih Kristus untuk orang berdosa yang bertobat! Hamba yang
telah menipu tuannya tidak mempunyai sesuatu untuk mengganti kerugian. Orang
berdosa yang telah merampok Allah dari tahun‑tahun pelayanan tidak mempunyai
cara untuk meniadakan utang itu. Yesus menjadi jembatan di antara orang berdosa
dengan Allah, seraya berkata, Saya akan membayar utang itu. Biarlah orang
berdosa dikasihani; Saya akan menderita gantinya.
Setelah menawarkan untuk
menanggung utang Onesimus, Paulus mengingatkan kepada Filemon betapa besar ia
sendiri telah berutang kepada rasul itu. Ia berutang kepada dirinya sendiri,
karena Allah telah menjadikan Paulus alat pertobatannya. Kemudian, dalam seruan
yang halus dan lemah lembut, ia memohon kepada Filemon bahwa sementara ia
dengan kedermawanannya menyegarkan orang‑orang suci, demikianlah ia menyegarkan
roh rasul itu oleh memberikan dia kegembiraan. "Dengan percaya
kepadamu," ia menambahkan, "kutuliskan ini kepadamu. Aku tahu, lebih
daripada permintaanku ini akan kau lakukan. "
Surat Paulus kepada Filemon
menunjukkan pengaruh Injil itu kepada hubungan antara tuan dan hamba. Memiliki
budak adalah suatu peraturan yang telah ditegakkan di seluruh Kerajaan Roma,
dan baik tuan‑tuan dan hamba‑hamba didapati pada kebanyakan gereja‑gereja di
mana Paulus bekerja. Di kota‑kota, di mana hamba‑hamba sering melebihi penduduk
yang bebas, undang‑undang yang kejam dianggap perlu untuk memelihara mereka
supaya takluk selalu. Seorang Roma yang kaya sering memiliki ratusan budak,
dari setiap tingkat, setiap bangsa, dan dari setiap tingkat kepandaian. Dengan
pengendalian penuh baik jiwa maupun raga makhluk yang tak berdaya ini, ia dapat
memberikan kepada mereka suatu penderitaan yang dipilihnya. Jika salah satu
dari antara mereka ingin membalas dendam, atau untuk mempertahankan diri berani
mengangkat tangan terhadap pemiliknya, seluruh keluarga dari orang yang
bersalah itu boleh dikorbankan dengan kejam. Kesalahan, kecelakaan, atau
kekurangtelitian yang terkecil sekalipun sering dihukum tanpa ampun.
Ada sebagian kecil yang
lebih menyayangi daripada yang lain, bahkan lebih ramah kepada hamba‑hamba
mereka; tetapi sebagian besar dari yang kaya dan mulia, mengorbankan kepada hawa
nafsu yang tak terkendalikan, keinginan, serta nafsu‑nafsu bejat, menjadikan
budak‑budak mereka korban‑korban yang paling celaka dari kekejaman dan
kelaliman mereka. Kecenderungan dari seluruh sistem ini merupakan derajat yang
merendahkan tanpa pengharapan.
Bukanlah pekerjaan rasul
itu untuk menggulingkan sewenang‑wenang atau mengubah dengan tiba‑tiba
peraturan yang berlaku dalam masyarakat. Mencoba hal ini berarti menghalangi
pekerjaan Injil. Tetapi ia mengajarkan prinsip‑prinsip yang menjadi pukulan yang
paling mendasar terhadap perbudakan, yang jika dijalankan dengan sebenarnya,
sungguh‑sungguh akan merusak seluruh sistem ini. "Di mana ada Roh Allah,
di situ ada kemerdekaan." 2 Korintus 3:17. Bila bertobat, budak itu
menjadi anggota tubuh Kristus, dan yang sedemikian ia harus dikasihani dan
diperlakukan sebagai seorang saudara, menjadi teman sewaris dengan tuannya
kepada berkat‑berkat Allah dan hak‑hak Injil. Sebaliknya, hamba‑hamba harus
melaksanakan kewajiban mereka, "jangan hanya di hadapan mereka saja untuk
menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba‑hamba Kristus yang dengan segenap
hati melakukan kehendak Allah." Efesus 6:6.
Kekristenan menjadikan
ikatan yang kuat dari persekutuan antara tuan dan hamba, raja dan warga
negaranya, pelayan Injil dan orang berdosa yang rendah yang telah mendapatkan
dalam Kristus penyucian dari dosa. Mereka telah dibasuh dalam darah yang sama,
dipercepat dengan Roh yang sama; dan mereka telah dipersatukan dalam darah Yesus Kristus.
No comments:
Post a Comment