Pada zaman rasul‑rasul
orang‑orang Kristen yang percaya dipenuhi dengan kesungguh‑sungguhan dan
kegairahan. Begitu giat mereka bekerja bagi Tuhannya sehingga dalam waktu yang
sangat singkat, meskipun menghadapi pertentangan yang hebat, Injil kerajaan itu
dikumandangkan ke seluruh bagian dunia yang didiami. Semangat yang dinyatakan
pada waktu ini oleh pengikut‑pengikut Yesus telah dicatat oleh pena ilham untuk
memberanikan orang‑orang percaya pada segala zaman. Tentang sidang di Efesus
yang digunakan oleh Tuhan Yesus sebagai lambang segenap gereja Kristen pada
zaman rasul‑rasul, Saksi yang setia dan benar mengatakan:
"Aku tahu segala
pekerjaanmu: baik jerih payah maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak
dapat sabar terhadap orang‑orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka,
yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa
engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita
oleh karena nama‑Ku; dan engkau tidak mengenal lelah." Wahyu 2:2, 3.
Pada mulanya pengalaman
sidang di Efesus ditandai dengan kesederhanaan dan semangat seperti anak‑anak.
Orang‑orang percaya berusaha dengan sungguh‑sungguh untuk mentaati setiap sabda
Allah, dan kehidupan mereka menyatakan kasih yang sungguh‑sungguh dan tulus
hati kepada Kristus. Mereka bersuka melakukan kehendak Allah sebab Juruselamat
ada dalam hati mereka sebagai tempat tinggal yang tetap. Dipenuhi dengan kasih
untuk Juruselamat mereka, tujuan mereka yang tertinggi ialah memenangkan jiwa‑jiwa
kepada‑Nya. Mereka tidak berpikir untuk menimbun harta yang berharga dari
anugerah Kristus. Mereka merasa pentingnya panggilan mereka; dan dipenuhi
dengan pekabaran itu, "Damai sejahtera di bumi di antara manusia yang
berkenan kepada‑Nya," mereka terbakar dengan kerinduan untuk membawa kabar
kesukaan dari keselamatan sampai kepada dunia yang paling jauh. Dan dunia
mengetahui bahwa mereka telah bersama‑sama dengan Yesus. Orang‑orang yang
berdosa, bertobat, diampuni, dibersihkan, dan disucikan, dibawa ke dalam
persekutuan dengan Allah melalui Anak‑Nya.
Anggota‑anggota sidang
bersatu dalam perasaan dan perbuatan. Kasih akan Allah adalah mata rantai
keemasan yang mengikat mereka bersama‑sama. Mereka mengikuti terus untuk
mengenal Tuhan lebih dan lebih sempurna lagi, dan dalam kehidupan mereka
dinyatakan kesukaan dan damai Kristus. Mereka mengunjungi orang‑orang yang tak
berayah dan janda‑janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga diri sendiri tidak
ternoda dengan dunia, menyadari bahwa kegagalan untuk melakukan hal ini akan
menjadi suatu pertentangan kepada pengakuan mereka dan suatu penyangkalan akan
Penebus mereka.
Di setiap kota pekerjaan
berjalan terus. Jiwa‑jiwa ditobatkan, yang sebaliknya merasa bahwa mereka harus
menceritakan tentang harta yang tak ternilai yang telah mereka terima itu.
Mereka tidak dapat berhenti sampai terang yang menerangi pikiran mereka
bercahaya kepada orang‑orang lain. Orang banyak yang tidak percaya dijadikan
berkenalan dengan alasan‑alasan pengharapan Kristen. Seruan‑seruan pribadi yang
hangat dan diilhamkan dijadikan kepada orang yang bersalah, orang buangan, dan
kepada mereka yang, meskipun mengaku mengetahui kebenaran, adalah penggemar
akan kepelesiran lebih dari penggemar akan Allah.
Tetapi sesudah suatu waktu
semangat orang‑orang percaya mulai berkurang, dan kasih mereka akan Allah dan
untuk satu kepada yang lain berkurang‑kurang. Kesejukan mulai masuk ke dalam
sidang. Beberapa orang melupakan cara yang ajaib dalam mana mereka telah
menerima kebenaran. Satu persatu pembawa‑bawa panji yang tua itu jatuh pada
tempat tugas mereka. Beberapa dari pekerja‑pekerja yang lebih muda, yang dapat
sama‑sama menanggung beban dari perintis‑perintis ini, yang telah disediakan
untuk kepemimpinan yang bijaksana dengan demikian, telah menjadi lelah karena
kebenaran yang sering diulang‑ulangi. Dalam keinginan mereka untuk sesuatu yang
baru dan menarik hati, mereka mencoba mengusulkan doktrin yang baru, lebih
menyenangkan kepada banyak pikiran, tetapi tidak sesuai dengan prinsip dasar
Injil. Dalam kepercayaan mereka kepada diri sendiri dan kebutaan rohani mereka
tidak melihat bahwa cara berpikir yang menyesatkan ini akan menyebabkan banyak
orang menanyakan pengalaman‑pengalaman pada masa yang lampau, dan dengan
demikian akan memimpin kepada kekacauan dan kurang percaya.
Sedangkan doktrin‑doktrin
yang palsu ini dianjurkan, perbedaan‑perbedaan timbul, dan mata banyak orang
dibalikkan dari memandang kepada Yesus yang mengadakan dan menyempurnakan iman
mereka. Perbincangan tentang doktrin yang kurang penting itu, dan renungan
tentang cerita‑cerita perumpamaan hasil ciptaan manusia, mengisi waktu yang
harus dipergunakan dalam mengabarkan Injil. Orang banyak yang harus diyakinkan
dan diubahkan oleh penyajian yang setia akan kebenaran ditinggalkan tanpa
amaran. Kesalehan dengan cepat menurun, dan Setan tampaknya hampir akan
mendapat kekuasaan atas mereka yang mengaku pengikut‑pengikut Kristus.
Adalah pada waktu yang
genting dalam sejarah gereja di mana Yohanes diputuskan untuk pembuangan. Tidak
pernah suaranya diperlukan oleh sidang seperti sekarang. Hampir semua teman
sekerjanya yang dulu dalam pelayanan telah menderita mati syahid. Orang‑orang
percaya yang lagi tinggal sedang menemui pertentangan yang hebat. Pada
pemandangan secara luar, hari itu tidak jauh lagi bila musuh‑musuh sidang
Kristus akan menang.
Tetapi tangan Tuhan sedang
bergerak dengan tidak kelihatan dalam kegelapan. Dalam pemeliharaan Allah,
Yohanes ditempatkan di mana Kristus dapat memberikan kepadanya suatu wahyu yang
mengherankan tentang diri‑Nya sendiri dan tentang kebenaran Ilahi untuk
menerangi sidang‑sidang.
Dalam mengasingkan Yohanes,
musuh‑musuh kebenaran telah mengharap untuk mendiamkan selama‑lamanya suara
saksi Allah yang setia; tetapi di pulau Patmos murid itu menerima pekabaran,
yang pengaruhnya diteruskan untuk menguatkan sidang sampai akhir zaman.
Meskipun tidak dibebaskan dari tanggung jawab perbuatan mereka yang salah,
mereka yang membuang Yohanes menjadi alat dalam tangan Allah untuk menjalankan
maksud surga; dan usaha yang sungguh‑sungguh untuk memusnahkan terang kebenaran
yang diletakkan dalam pertolongan yang berani.
Adalah pada hari Sabat
Tuhan kemuliaan kelihatan kepada rasul yang dibuang itu. Hari Sabat dipelihara
dengan sucinya oleh Yohanes di pulau Patmos seperti ketika ia berkhotbah kepada
orang banyak di kota‑kota Yudea. Ia menuntut sebagai miliknya sendiri janji‑janji
yang berharga yang telah diberikan mengenai hari itu. "Pada hari Tuhan aku
dikuasai oleh Roh," Yohanes menulis, "dan aku mendengar dari
belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala, katanya:
"Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah
kepada ketujuh jemaat ini.... Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang
berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki
dian dari emas. Dan di tengah‑tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak
Manusia." Wahyu 1:10‑13.
Murid yang kekasih ini
sangat disayangi. Ia telah melihat Tuhannya di Getsemani, wajah‑Nya ditandai
dengan tetesan darah penderitaan, "begitu buruk rupanya, bukan seperti
manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi." Yesaya
52:14. Ia telah melihat Dia di tangan serdadu‑serdadu Roma, dipakaikan dengan
jubah ungu yang tua dan dimahkotai dengan duri. Ia telah melihat Dia tergantung
di salib di Kalvari, menjadi sasaran penghinaan dan siksaan yang kejam.
Sekarang Yohanes sekali lagi diizinkan untuk melihat Tuhannya. Tetapi betapa
berbeda rupa wajah‑Nya. Ia bukan lagi Manusia yang menanggung kesusahan, dihina
dan direndahkan oleh manusia. Ia berjubahkan kemuliaan surga. "Kepala dan
rambut‑Nya" adalah "bagaikan bulu yang putih metah, dan mata‑Nya
bagaikan nyala api. Dan kaki‑Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam
perapian." Wahyu 1:14, 15. Suara‑Nya adalah bagaikan musik dari banyak
air. Wajah‑Nya bercahaya seperti matahari. Dalam tangan‑Nya ada tujuh bintang,
dan dari mulut‑Nya keluarlah suatu pedang bermata dua yang tajam, suatu lambang
dari kuasa firman‑Nya. Patmos dijadikan gilang‑gemilang dengan kemuliaan Tuhan
yang telah bangkit.
"Ketika aku melihat
Dia," Yohanes menulis, "tersungkurlah aku di depan kaki‑Nya sama
seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan‑Nya di atasku, lalu
berkata, Jangan takut." Ayat 17.
Yohanes dikuatkan untuk
hidup di hadapan Tuhannya yang dipermuliakan. Kemudian di hadapan
pemandangannya yang ajaib terbukalah kemuliaan surga. Ia diizinkan melihat
takhta Allah dan, memandang di seberang pertentangan dunia, memandang orang
banyak yang berjubah putih dari orang‑orang tebusan. Ia mendengar musik dari
malaikat‑malaikat surga dan nyanyian kemenangan dari mereka yang telah menang
oleh darah Anak Domba dan perkataan kesaksian mereka. Dalam wahyu yang
diberikan kepadanya sudah dipaparkan pemandangan berturut-turut dari minat yang
mengharukan dalam pengalaman umat Allah, dan sejarah sidang yang telah
diramalkan sampai kepada berakhirnya waktu. Dalam gambaran‑gambaran dan simbol‑simbol,
mata pelajaran yang sangat penting dikemukakan kepada Yohanes, yang ia harus
catat, supaya umat Allah yang hidup pada zaman ini dan pada abad‑abad yang akan
datang boleh mempunyai pengertian yang cerdas tentang bahaya dan pertentangan
di hadapan mereka.
Wahyu ini diberikan untuk
petunjuk dan penghiburan sidang sepanjang babak Kristen. Tetapi guru‑guru agama
telah menyatakan bahwa itu adalah suatu buku yang disegel dan rahasianya tidak
dapat diterangkan. Sebab itu banyak orang telah berbalik dari catatan nubuatan,
enggan untuk mencurahkan waktu dan pelajaran pada rahasia‑rahasianya. Tetapi
Allah tidak mengingini umat‑Nya untuk menganggap buku itu demikian. Inilah
"wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada‑Nya, supaya
ditunjukkan‑Nya kepada hamba‑hamba‑Nya apa yang harus segera terjadi."
"Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata‑kata
nubuat ini dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya
sudah dekat." Ayat 1, 3. "Aku bersaksi kepada setiap orang yang
mendengar perkataan‑perkataan nubuat dari kitab ini: Jika seorang menambahkan
sesuatu kepada perkataan‑perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya
malapetaka‑malapetaka yang tertulis dalam kitab ini. Dan jika seorang
mengurangkan sesuatu dari perkataan‑perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah
akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang
tertulis dalam kitab ini. Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini,
berfirman: Ya, Aku datang segera." Wahyu 22:18‑20.
Dalam Wahyu digambarkan
perkara‑perkara Allah yang dalam. Nama yang sama yang diberikan kepada halaman‑halamannya
yang diilhamkan, "Wahyu," bertentangan dengan sebutan bahwa inilah
buku yang disegel. Suatu wahyu adalah sesuatu yang dinyatakan. Tuhan Sendiri
menyatakannya kepada hamba‑Nya rahasia‑rahasia yang terdapat dalam buku ini,
dan Ia merencanakan bahwa hal itu akan terbuka kepada pelajaran semua orang.
Kebenaran‑kebenarannya dialamatkan kepada mereka yang hidup pada hari‑hari yang
terakhir dari sejarah dunia, sama seperti mereka yang hidup pada hari‑hari
Yohanes. Beberapa dari pemandangan yang digambarkan dalam nubuatan ini adalah
pada masa yang silam, beberapa sedang berlaku sekarang; beberapa membawa kepada
pemandangan berakhirnya pertentangan yang besar antara kuasa kegelapan dan
Putra Surga, dan beberapa menyatakan kemenangan dan kesukaan dari orang‑orang
tebusan dalam dunia yang dijadikan baru.
Jangan seorang pun memikirkan,
sebab mereka tak dapat menerangkan arti tiap‑tiap simbol dalam buku Wahyu,
bahwa hal itu tidak bermanfaat bagi mereka untuk menyelidiki buku ini dalam
suatu usaha untuk mengetahui arti kebenaran yang terdapat di dalamnya. Seorang
yang menyatakan rahasia‑rahasia ini kepada Yohanes akan memberikan kepada
penyelidik yang rajin suatu kenikmatan atas kebenaran perkara‑perkara surga.
Mereka yang hatinya terbuka kepada penerimaan akan kebenaran disanggupkan untuk
mengerti pengajarannya, dan akan diberi berkat yang dijanjikan kepada mereka
yang "mendengarkan kata‑kata nubuat ini dan yang menuruti apa yang ada
tertulis di dalamnya."
Dalam buku Wahyu segala
buku Kitab Suci bertemu dan berakhir. Di sinilah promosi tentang buku Daniel.
Yang satu adalah suatu nubuatan; yang lain adalah suatu wahyu. Buku yang
disegel bukannya buku Wahyu, tetapi sebagian dari nubuatan Daniel yang
menceritakan hari yang terakhir. Malaikat itu memberikan perintah "Tetapi
engkau, Daniel, sembunyikanlah segala firman itu, dan meteraikanlah kitab itu
sampai akhir zaman." Daniel 12:4.
Adalah Kristus yang
memerintahkan kepadanya untuk mencatat suatu yang harus dibukakan di
hadapannya. "Apa yang engkau lihat, tuliskanlah dalam sebuah kitab,"
Ia memerintahkan, "dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus,
ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia, dan ke
Laodikia." "Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama‑lamanya....
Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang
maupun yang akan terjadi sesudah ini. Dan rahasia ketujuh bintang yang telah
kaulihat pada tangan kanan‑Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang
itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh
jemaat." Wahyu 1:11, 18‑20.
Nama ketujuh sidang itu
adalah simbol sidang dalam jangka waktu yang berbeda‑beda dari Mazhab Kristen.
Angka 7 menyatakan kesempurnaan, dan adalah lambang dari kenyataan bahwa
pekabaran meluas sampai kepada akhir zaman, sedangkan simbol yang digunakan
menyatakan keadaan sidang pada jangka waktu yang berbeda‑beda dari sejarah
dunia ini.
Kristus dikatakan seperti
berjalan-jalan di tengah‑tengah kaki dian emas. Dengan demikian perhubungan‑Nya
dengan sidang‑Nya dilambangkan. Ialah perhubungan yang tetap dengan umat‑Nya.
Ia mengetahui keadaan mereka yang sebenarnya. Ia mengamat‑amati peraturan
mereka, kesalahan mereka, pengabdian mereka. Meskipun Ia adalah iman besar dan
pengantara dalam bait suci di atas, namun Ia digambarkan sebagai berjalan‑jalan
kian ke mari di tengah‑tengah sidang‑sidang‑Nya di dunia ini. Dengan kebangunan
yang tak mengenal jerih lelah dan kewaspadaan yang tak kunjung padam, Ia
memperhatikan untuk melihat apakah terang penjaga‑Nya menyala atau sedang
padam. Jika kandil itu ditinggalkan kepada pemeliharaan manusia saja, nyala api
yang berkelip‑kelip itu akan redup dan mati; tetapi Ia adalah Penjaga yang
benar dalam rumah Tuhan, kepala yang benar dari istana‑istana surga. Penjagaan‑Nya
yang terus‑menerus dan rahmat‑Nya yang memelihara adalah sumber kehidupan dan
terang.
Kristus dilambangkan
sebagai memegang ketujuh bintang pada tangan kanan‑Nya. Ini memastikan kepada
kita bahwa tak ada sidang yang setia kepada kepercayaannya perlu takut akan sia‑sia,
karena tidak ada suatu bintang yang mempunyai penjagaan Yang Mahakuasa dapat
dipetik dari tangan Kristus.
"Inilah firman dari
Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan‑Nya." Wahyu 2:1.
Perkataan ini diucapkan kepada guru‑guru di dalam sidang--mereka yang
dipercayakan oleh Allah dengan tanggung jawab yang berat. Pengaruh‑pengaruh
yang manis yang harus berlimpah‑limpah dalam sidang dihubungkan dengan pendeta‑pendeta
Allah, yang harus menyatakan kasih Kristus. Bintang‑bintang di langit adalah di
bawah pengendalian‑Nya. Ia memenuhi mereka dengan terang. Ia menuntun dan
mengendalikan pergerakan‑pergerakan mereka. Jika Ia tidak melakukan hal ini,
mereka akan menjadi bintang‑bintang yang jatuh. Demikianlah dengan pendeta‑pendeta‑Nya.
Mereka adalah alat-alat pada tangan‑Nya, dan segala kebaikan yang mereka
lakukan dikerjakan oleh kuasa‑Nya. Melalui mereka terang‑Nya harus bersinar.
Juruselamat menjadi efisiensi mereka. Jika mereka memandang kepada‑Nya
sebagaimana mereka memandang kepada Bapa, mereka akan disanggupkan melakukan
pekerjaan‑Nya. Sementara mereka menjadikan Allah tempat bergantung mereka, Ia
akan memberikan kepada mereka kecemerlangan‑Nya untuk membiaskan kepada dunia.
Mula‑mula dalam sejarah
gereja rahasia kejahatan yang memulai pekerjaannya yang jahat diramalkan oleh
rasul Paulus; dan sementara guru‑guru palsu tentang siapa Petrus telah
mengamarkan orang‑orang percaya, mendesakkan kemurtadan mereka, banyak yang
terjerat oleh ajaran‑ajaran palsu. Beberapa orang terserandung di bawah ujian
dan dicobai untuk mengorbankan iman itu. Pada saat Yohanes diberi wahyu ini,
banyak orang yang telah kehilangan kasih mereka yang mula‑mula akan Injil
kebenaran. Tetapi dalam kemurahan‑Nya Allah tidak membiarkan sidang untuk terus‑menerus
dalam keadaan yang murtad. Dalam suatu pekabaran kelemahlembutan yang tak
terbatas Ia mengatakan kasih‑Nya bagi mereka dan kehendak‑Nya bahwa mereka
harus mengadakan pekerjaan yang pasti untuk kekekalan. "Sebab itu
ingatlah," Ia memohon, "berapa dalamnya engkau‑telah jatuh!
Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan." Ayat 5.
Sidang itu berkekurangan
dan perlu teguran dan hukuman yang keras, dan Yohanes diilhamkan untuk mencatat
pekabaran amaran tentang teguran dan permohonan kepada mereka yang, kehilangan
pandangan akan prinsip dasar dari Injil, harus membahayakan pengharapan mereka
akan keselamatan. Tetapi selama perkataan‑perkataan omelan yang Allah anggap
perlu dikirimkan, diucapkan dalam kasih yang lemah lembut dan dengan janji
damai kepada setiap orang yang bertobat. "Lihat, Aku berdiri di muka pintu
dan mengetuk," Tuhan menjelaskan, "jika ada orang mendengar suara‑Ku
dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku akan makan bersama‑sama
dengan dia, dan ia bersama‑sama dengan Aku." Wahyu 3:20.
Dan dengan mereka yang di
tengah‑tengah pergumulan harus mempertahankan iman mereka kepada Allah, nabi
itu diberi perkataan pujian dan perjanjian: "Aku tahu segala pekerjaanmu:
lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang
pun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman‑Ku
dan engkau tidak menyangkal nama‑Ku." "Karena engkau menuruti firman‑Ku,
untuk tekun menantikan Aku, maka Aku pun akan melindungi engkau dari hari
pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam
di bumi. " "Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang
sudah hampir mati." "Aku datang segera. Peganglah apa yang ada
padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu." Ayat 8, 10, 2, 11.
Adalah melalui seorang yang
menyatakan diri sendiri sebagai "saudara dan sekutumu dalam
kesusahan" (Wahyu 1:9), Kristus menyatakan kepada sidang‑Nya perkara‑perkara
yang harus mereka derita karena nama‑Nya. Melihat melalui abad‑abad kegelapan
dan takhyul yang berkepanjangan, orang buangan yang sudah tua itu melihat orang
banyak menderita mati syahid karena kasih mereka akan kebenaran. Tetapi ia
melihat juga bahwa Ia yang menolong saksi‑saksi‑Nya yang mula‑mula tidak akan
meninggalkan pengikut‑pengikut‑Nya yang setia selama abad‑abad penganiayaan
yang mereka harus lalui sebelum berakhirnya masa. "Jangan takut terhadap
apa yang harus engkau derita!" Tuhan menjelaskan, "Sesungguhnya Iblis
akan melemparkan beberapa orang dari antaramu
ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan: .
. . Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu
mahkota kehidupan." Wahyu 2:10.
Dan kepada semua orang yang
setia yang sedang bergumul melawan kejahatan, Yohanes mendengar janji‑janji
yang diadakan: "Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon
kehidupan yang ada dalam Taman Firdaus Allah." "Barang siapa menang,
ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya
dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa‑Ku dan
di hadapan para malaikat‑Nya." "Barangsiapa menang, ia akan
Kududukkan bersama‑sama dengan Aku di atas takhta‑Ku, sebagaimana Aku pun telah
menang dan duduk bersama‑sama dengan Bapa‑Ku di atas takhta‑Nya," Ayat 7;
3:5, 21.
Yohanes melihat kemurahan,
kelemahlembutan dan kasih Allah bercampur dengan kesucian, keadilan dan kuasa‑Nya.
Ia melihat orang‑orang berdosa mendapatkan seorang Bapa yang kepada‑Nya dosa
mereka telah menakutkan mereka. Dan memandang kepada memuncaknya pergumulan
yang besar, ia memandang ke atas Sion "orang‑orang yang telah mengalahkan
binatang itu.... Pada mereka adalah kecapi Allah," dan menyanyikan,
"nyanyian Musa" dan Anak Domba. Wahyu 15:2, 3.
Juruselamat digambarkan di
bawah simbol "singa dari suku Yehuda" dan "Anak Domba seperti
yang disembelih" di hadapan Yohanes." Wahyu 5:5, 6. Simbol‑simbol itu
menggambarkan persatuan kuasa yang mahakuasa dan kasih yang mengorbankan diri
sendiri. Singa dari Yehuda, begitu ngeri kepada penolak‑penolak kemurahan-Nya,
akan menjadi Domba Allah kepada orang‑orang yang menurut dan setia. Tiang api
yang mengungkapkan kengerian dan kemarahan kepada pelanggar hukum Allah adalah
tanda terang dan kemurahan dan kelepasan kepada mereka yang telah menurut hukum‑hukum‑Nya.
Lengan yang kuat untuk memukul orang yang memberontak akan kuat juga untuk
melepaskan orang yang setia. Setiap orang yang percaya akan diselamatkan,
"Dan Ia akan menyuruh ke luar malaikat‑malaikat‑Nya dengan meniup sangkakala
yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang‑orang pilihan‑Nya dari
keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu kepada ujung langit yang
lain." Matius 24:31.
Dalam perbandingan dengan
orang yang berjuta‑juta di bumi ini, umat Allah akan jadi, sebagaimana mereka
telah jadi, sekawan domba yang kecil; tetapi bila mereka berdiri di atas
kebenaran sebagaimana yang dinyatakan dalam firman‑Nya, Allah akan menjadi
perlindungan mereka. Mereka berdiri di bawah perisai yang luas dari Yang Mahakuasa.
Allah selamanya menjadi bagian yang terbesar. Bila bunyi terompet yang terakhir
akan menembus rumah penjara dari orang‑orang mati, dan orang‑orang benar akan
ke luar dengan kemenangan, seraya berseru, "Hai maut di manakah
kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" (1 Korintus 15:55)--berdiri
kemudian dengan Allah, dengan Kristus, dengan malaikat‑malaikat‑Nya, dan dengan
semuanya yang setia dan benar pada segala zaman, anak‑anak Allah akan bergabung
dalam kelompok terbesar itu.
Murid‑murid Kristus yang
benar mengikuti Dia melalui pertentangan yang berat, tahan menderita
pengorbanan diri dan mengalami kekecewaan yang pahit; tetapi hal ini
mengajarkan kepada mereka kesalahan dan bencana dosa, dan mereka terpimpin
untuk memandang hal itu dengan kejijikan. Mengambil bagian dari penderitaan
Kristus, mereka ditentukan untuk mengambil bagian dari kemuliaan‑Nya. Dalam
penglihatan yang suci nabi itu melihat kemenangan terakhir dari sidang Allah
yang sisa. Ia menulis:
"Dan aku melihat
sesuatu bagaikan lautan kaca bercampur api, dan di tepi laut kaca itu berdiri
orang‑orang yang telah mengalahkan binatang itu.... Pada mereka ada kecapi
Allah. Dan mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak
Domba, bunyinya: Besar dan ajaib segala pekerjaan‑Mu, ya Tuhan, Allah Yang
Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan‑Mu, ya Raja segala bangsa!" Wahyu
15:2, 3.
"Dan aku melihat:
sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama‑sama dengan Dia
seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama‑Nya dan
nama Bapa‑Nya." Wahyu 14:1. Dalam dunia ini pikiran mereka dipusatkan
kepada Allah; mereka melayani Dia dengan kecerdasan dan dengan hati mereka; dan
sekarang ia dapat menempatkan nama‑Nya "pada dahi mereka." "Dan
mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama‑lamanya." Wahyu 22:5.
Mereka tidak masuk dan ke luar seperti mereka yang memohonkan suatu tempat.
Mereka adalah dari bilangan itu kepada siapa Kristus mengatakan, "Mari,
hai kamu yang diberkati oleh Bapa‑Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan
bagimu, sejak dunia dijadikan." Ia menyambut mereka sebagai anak‑anak‑Nya,
sambil mengatakan, "Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam
perkara yang besar." Matius 25:34, 21.
"Mereka adalah orang‑orang
yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara
manusia sebagai korban‑korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu."
Wahyu 14:4. Khayal nabi itu menggambarkan mereka seperti berdiri pada bukit
Sion, berikatkan untuk pelayanan yang suci, mengenakan kain linen yang putih,
yang menjadi kebenaran orang‑orang suci. Tetapi semua orang yang mengikuti Anak
Domba di surga harus lebih dulu mengikuti Dia di dunia ini, bukan dengan
bertingkah atau berubah‑ubah, melainkan dalam penurutan yang setia dan
mengasihi sebagai kawanan domba mengikuti gembala itu.
"Dan suara yang
kudengar itu seperti bunyi pemain‑pemain kecapi yang memetik kecapinya. Mereka
menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta: . . . dan tidak seorang pun
yang dapat mempelajari nyanyian itu selain daripada seratus empat puluh empat
ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu.... Dan di dalam mulut mereka tidak
terdapat dusta; mereka tidak bercela." Ayat 2‑5.
"Dan aku melihat kota
yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias
bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya." "Dan
cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis,
jernih seperti kristal. Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya
dua belas buah; dan di atas pintu‑pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan
di atasnya tertulis nama keduabelas suku Israel." "Dan keduabelas
pintu, gerbang itu adalah dua belas mutiara; setiap pintu gerbang terdiri dari
satu mutiara dan jalan‑jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening.
Maka aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang
Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu." Wahyu 21:2,
11. 12, 21, 22.
"Dan tidak akan ada
lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba‑hamba‑Nya
akan beribadah kepada‑Nya dan mereka akan melihat wajah‑Nya dan nama‑Nya akan
tertulis di dahi mereka. Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka
tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan
menerangi mereka." Wahyu 22:3‑5.
"Lalu ia menunjukkan
kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal dan mengalir ke
luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Di tengah‑tengah jalan kota
itu, yaitu di seberang‑menyeberang sungai itu ada pohon‑pohon kehidupan yang
berbuah dua belas kali, tiap‑tiap bulan sekali; dan daun pohon‑pohon itu
dipakai untuk menyembuhkan bangsa‑bangsa." "Berbahagialah mereka yang
membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon‑pohon kehidupan dan
masuk melalui pintu‑pintu gerbang ke dalam kota itu." Ayat l, 2, 14.
"Lalu aku mendengar
suara yang nyaring dari takhta itu berkata, Lihatlah, kemah Allah ada
di tengah‑tengah manusia
dan Ia akan diam
bersama-sama
dengan mereka.
Mereka akan menjadi umat‑Nya
dan Ia akan menjadi Allah
mereka."
No comments:
Post a Comment