Rasul Paulus dalam awal
pengalaman Kristennya diberikan kesempatan yang istimewa untuk mempelajari
kehendak Allah mengenai pengikut‑pengikut Kristus. Ia "diangkat ke tingkat
yang ketiga dari surga," "ke Firdaus dan ia mendengar kata‑kata yang
tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia." Ia sendiri mengakui
bahwa "penglihatan‑penglihatan dan pernyataan‑pernyataan" telah
diberikan kepadanya "dari Tuhan." Pengertiannya mengenai prinsip‑prinsip
kebenaran Injil sama dengan "rasul‑rasul yang luar biasa itu." 2
Korintus 12:2, 4, 1, 11. Ia mempunyai pengertian yang jelas dan penuh tentang
"betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih
Kristus," yang "melampaui segala pengetahuan." Efesus 3:18, 19.
Paulus tidak dapat menceritakan
semuanya yang telah dilihatnya dalam khayal; karena di antara para pendengarnya
ada beberapa orang yang menyalahgunakan perkataannya. Tetapi sesuatu yang
dinyatakan kepadanya menyanggupkan dia bekerja sebagai seorang pemimpin dan
guru yang bijaksana, dan juga membentuk pekabaran yang dikirimkan kepada sidang‑sidang
pada tahun‑tahun belakangan ini. Kesan yang diterimanya waktu dalam penglihatan
selalu dengan dia, menyanggupkan dia memberikan gambaran yang benar tentang
tabiat Kristen. Oleh perkataan mulutnya dan oleh surat ia membawa pekabaran
yang sejak waktu itu telah membawa pertolongan dan kekuatan kepada sidang
Allah. Kepada orang‑orang percaya masa kini pekabaran ini berbicara dengan
jelas tentang bahaya‑bahaya yang akan mengancam sidang, dan doktrin‑doktrin
yang palsu yang mereka akan temui.
Kerinduan rasul itu untuk
mereka kepada siapa ia mengalamatkan surat‑suratnya tentang nasihat dan amaran
adalah bahwa mereka "bukan lagi anak‑anak, yang diombang‑ambingkan oleh
rupa‑rupa angin pengajaran"; tetapi mereka harus semuanya,"mencapai
kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh,
dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus." Ia memohon
kepada mereka yang menjadi pengikut‑pengikut Yesus dalam masyarakat kafir
supaya jangan berjalan "sama seperti orang‑orang yang tidak mengenal Allah
dengan pikirannya yang sia‑sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup
persekutuan dengan Allah . . . karena kedegilan hati mereka," melainkan
"janganlah seperti orang bebal, tetapi sebagai orang arif, dan
pergunakanlah waktu yang ada." Efesus 4:14, 13, 17, 18; 5:15, 16. Ia
memberanikan orang‑orang percaya untuk memandang kepada waktu bila Kristus,
yang "mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri‑Nya baginya," akan
"menempatkan jemaat di hadapan diri‑Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau
kerut atau yang serupa itu" suatu sidang yang "kudus dan tidak
bercela!" Efesus 5:25, 27.
Pekabaran‑pekabaran ini,
yang ditulis dengan suatu kuasa bukannya dari manusia melainkan dari Allah,
mengandung pelajaran‑pelajaran yang harus dipelajari oleh semua orang dan yang
dapat menguntungkan jika sering diulang‑ulangi. Kepada mereka kesalehan yang
praktis diuraikan, prinsip‑prinsip yang harus diikuti dalam segala sidang
diletakkan, dan jalan yang memimpin kepada kehidupan yang kekal dijelaskan.
Dalam suratnya kepada
"saudara‑saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose"
yang ditulis sementara ia seorang tahanan di Roma, Paulus menyebutkan
kesukaannya tentang keteguhan mereka dalam iman, kabar mana telah dibawa
kepadanya oleh Epafras, yang rasul itu menulis "telah menyatakan kepada
kami kasihmu dalam Roh. Sebab itu," ia melanjutkan, "sejak waktu kami
mendengarnya, kami tidak berhenti‑henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya
kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui
kehendak Tuhan dengan sempurna, sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan‑Nya
serta berkenan kepada‑Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala
pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah,
dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan‑Nya untuk menanggung
segala sesuatu dengan tekun dan sabar."
Dengan demikian Paulus
mengatakan kerinduannya untuk orang‑orang percaya di Kolose. Betapa tinggi cita‑cita
dari perkataan ini di hadapan pengikut Kristus! Mereka menunjukkan kemungkinan‑kemungkinan
yang ajaib dari kehidupan Kristen dan menjelaskan bahwa tidak ada batas kepada
berkat‑berkat yang dapat diterima oleh anak‑anak Allah. Bertambah dengan tetap
dalam pengetahuan akan Allah, mereka meneruskan dari kekuatan kepada kekuatan,
dari ketinggian sampai kepada ketinggian dalam pengalaman Kristen, sampai oleh
"kuasa kemuliaan‑Nya" mereka dilayakkan "untuk mendapat bagian
dalam apa yang ditentukan untuk orang‑orang kudus di dalam kerajaan
terang."
Rasul itu meninggikan
Kristus di hadapan saudara‑saudaranya sebagai Seorang oleh siapa Allah telah
menciptakan segala perkara dan oleh siapa Ia telah mengerjakan penebusan mereka.
Ia menjelaskan bahwa tangan yang menopang dunia di angkasa, dan memegang
peraturan yang rapi dan kegiatan yang tidak mengenal lelah dalam segala perkara
di seluruh alam semesta, adalah tangan yang dipakukan di kayu salib untuk
mereka. "Di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu yang ada di surga
dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tiada kelihatan, baik singgasana,
maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan
oleh Dia dan untuk Dia. Ia adalah terlebih dulu dari segala sesuatu dan segala
sesuatu ada di dalam Dia." "Juga kamu yang dulu hidup jauh dari Allah
dan yang memusuhi‑Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari
perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan‑Nya, di dalam tubuh jasmani
Kristus oleh kematian‑Nya untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak
bercacat di hadapan‑Nya."
Anak Allah membungkuk untuk
mengangkat yang jatuh. Untuk hal ini Ia meninggalkan dunia yang tak berdosa di
atas, sembilan puluh sembilan yang mengasihi Dia, dan turun ke dunia ini untuk
"tertikam oleh karena pemberontakan kita" dan "diremukkan oleh
karena kejahatan kita." Yesaya 53:5. Dalam segala perkara Ia dijadikan
seperti saudara‑saudara‑Nya. Ia menjadi daging, sama seperti kita. Ia
mengetahui apa artinya menahan lapar dan haus dan dahaga. Ia disokong oleh
makanan dan disegarkan oleh istirahat. Ia seorang asing dan seorang yang
menumpang di dunia di dalam dunia, tetapi bukan daripada dunia; digoda dan
dicobai sebagaimana pria dan wanita pada dewasa ini digoda dan dicobai, namun
menghidupkan suatu kehidupan yang bebas dari dosa. Lemah‑lembut, berkasihan,
menaruh simpati, selalu memikirkan kepentingan orang lain, Ia menggambarkan
tabiat Allah. "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita,
. . . penuh kasih karunia dan kebenaran." Yohanes 1:14.
Dikelilingi dengan
kebiasaan‑kebiasaan dan pengaruh‑pengaruh kekafiran, orang‑orang percaya di
Kolose ada dalam bahaya ditarik dari kesederhanaan Injil, dan Paulus, dalam
mengamarkan kepada mereka terhadap hal ini, menunjukkan mereka kepada Kristus
sebagai satu‑satunya penuntun yang aman. "Karena aku mau, supaya kamu
tahu," ia menulis, "berapa beratnya perjuangan yang kulakukan untuk
kamu, dan untuk mereka yang di Laodikia dan untuk semuanya, yang belum mengenal
aku pribadi, supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih,
sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan
mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala
harta hikmat dan pengetahuan.
"Hal ini kukatakan,
supaya jangan ada yang memperdayakan kamu dengan kata‑kata yang indah .... Kamu
telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di
dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam
Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang
telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. Hati‑hatilah,
supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu
menurut ajaran turun‑temurun dan roh‑roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.
Sebab di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan Keallahan, dan
kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan
penguasa."
Kristus telah menubuatkan
bahwa penipu‑penipu akan bangkit, melalui pengaruh siapa
"kedurhakaan" akan "bertambah," dan "kasih kebanyakan
orang akan menjadi dingin." Matius 24:12. Ia telah mengamarkan kepada
murid‑murid bahwa sidang akan berada dalam bahaya yang lebih besar dari
kejahatan ini daripada penganiayaan musuh‑musuhnya. Berkali‑kali Paulus
mengamarkan kepada orang‑orang percaya terhadap guru‑guru palsu ini. Bahaya
ini, melebihi yang lain‑lain, mereka harus berhati‑hati; karena oleh menerima
guru‑guru palsu, mereka akan membuka pintu kepada kesalahan dengan mana musuh
akan menyuramkan pengertian rohani dan menggoyangkan kepercayaan mereka yang
baru‑baru datang kepada iman dari Injil. Kristus adalah ukuran oleh mana mereka
harus menguji ajaran‑ajaran yang dikemukakan. Semua yang tidak sesuai dengan
ajaran‑ajaran‑Nya mereka harus tolak. Kristus yang disalibkan karena dosa,
Kristus yang bangkit dari antara orang mati, Kristus yang naik ke tempat yang
tinggi inilah ilmu keselamatan yang mereka harus pelajari dan ajarkan.
Amaran‑amaran dari sabda
Allah mengenai bahaya‑bahaya yang mengelilingi gereja Kristen menjadi bagian
kita dewasa ini. Sebagaimana pada zaman rasul‑rasul manusia mencoba oleh
tradisi dan filsafat untuk merusakkan iman dalam Kitab Suci, demikian pula pada
dewasa ini, oleh menyenangkan perasaan suka "mengritik yang lebih
tinggi", evolusi, spiritisme, teosofi, dan panteisme, musuh kebenaran
sedang berusaha untuk memimpin jiwa‑jiwa ke dalam jalan‑jalan yang terlarang.
Kepada banyak orang Alkitab adalah lampu tanpa minyak, sebab mereka telah
membalikkan pikiran mereka ke dalam saluran kepercayaan secara untung‑untungan
yang membawa salah pengertian dan kekacauan. Pekerjaan kritik yang lebih
tinggi, dalam menganalisis, menerka, memulihkan kembali, adalah memusnahkan iman
dalam Kitab Suci sebagai kenyataan Ilahi. Hal itu adalah merampok sabda Allah
dari kuasa untuk mengendalikan, untuk meninggikan, dan mengilhamkan kehidupan
manusia. Oleh spiritisme, orang banyak diajar untuk percaya bahwa kemauan
adalah hukum yang tertinggi, bahwa surat izin adalah kemerdekaan, dan bahwa
manusia bertanggung jawab hanya kepada dirinya sendiri.
Pengikut‑pengikut Kristus
akan bertemu dengan "kata‑kata yang indah" terhadap mana rasul
mengamarkan orang‑orang percaya di Kolose. Ia akan bertemu dengan tafsiran‑tafsiran
spiritualisme akan Kitab Suci, tetapi ia tidak menerimanya. Suaranya akan
kedengaran dalam penegasan yang terang tentang kebenaran yang kekal akan Kitab
Suci. Menatap matanya tertuju kepada Kristus, ia harus bergerak dengan tetap
pada jalan yang ditentukan, dengan tidak menghiraukan segala buah pikiran yang
tidak sesuai dengan ajaran‑Nya. Kebenaran Allah harus menjadi mata pelajaran
untuk renungan dan meditasinya. Ia harus menganggap Kitab Suci sebagai suara
Allah yang berbicara langsung kepadanya. Dengan demikian ia akan mendapati akal
budi yang Ilahi.
Pengetahuan Allah yang
dinyatakan dalam Kristus adalah pengetahuan yang semua orang yang diselamatkan
harus miliki. Inilah pengetahuan yang mengerjakan perubahan tabiat. Diterima
dalam kehidupan, itu akan menciptakan kembali jiwa dalam peta Kristus. Inilah
pengetahuan yang Allah mengundang anak‑anak‑Nya untuk menerima, selain daripada
itu semua perkara yang lain adalah kesia‑siaan dan kekosongan.
Dalam setiap generasi dan
dalam setiap negeri dasar yang benar untuk pembangunan tabiat adalah sama
prinsip‑prinsip yang termuat dalam firman Allah. Satu‑satunya peraturan yang
aman dan pasti ialah untuk melakukan apa yang Allah katakan. "Taurat Tuhan
itu sempurna" dan "siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah
selama-lamanya." Mazmur 19:8; 15:5. Adalah dengan sabda Allah rasul
berjumpa dengan teori palsu pada zamannya, mengatakan, "Karena tidak ada
seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan."
1 Korintus 3:11.
Pada saat pertobatan dan
baptisan mereka orang‑orang percaya di Kolose menjanjikan kepada diri mereka
sendiri untuk menghindarkan kepercayaan‑kepercayaan dan kebiasaan‑kebiasaan
yang sampai pada waktu itu menjadi sebagian dari kehidupan mereka, dan menjadi
benar dalam penurutan mereka kepada Kristus. Dalam suratnya, Paulus
mengingatkan kepada mereka tentang ini, dan memohon kepada mereka untuk tidak
melupakan bahwa supaya memelihara perjanjian mereka, mereka harus memberikan
usaha yang tetap terhadap kejahatan yang berusaha menguasai mereka.
"Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus" ia
mengatakan "carilah perkara yang di atas di mana Kristus ada, duduk di
sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam
Allah."
"Jadi siapa yang ada
di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya
yang baru sudah datang." 2 Korintus 5:17. Melalui kuasa Kristus, pria dan
wanita telah memutuskan rantai kebiasaan yang berdosa. Mereka telah
meninggalkan sifat cinta diri sendiri. Yang tidak senonoh telah menjadi hormat,
yang pemabuk telah menjadi tidak pemabuk, dan yang cabul telah menjadi suci.
Jiwa‑jiwa yang mengambil rupa Setan telah diubahkan ke dalam peta Allah.
Perubahan ini dengan sendirinya adalah mukjizat dari segala mukjizat. Suatu
perubahan yang dikerjakan oleh Sabda itu adalah salah satu dari rahasia yang
terdalam dari Sabda itu. Kita tidak dapat mengertinya; kita hanya dapat
percaya, sebagaimana dinyatakan oleh Kitab Suci, ialah "Kristus ada di
tengah‑tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!"
Bila Roh Allah
mengendalikan pikiran dan hati, jiwa yang bertobat bersorak dengan suatu
nyanyian yang baru; karena ia menyadari bahwa dalam pengalamannya janji Allah
telah digenapi, bahwa pelanggarannya telah diampuni, dosanya telah ditutupi. Ia
telah mengadakan pertobatan kepada Allah karena pelanggaran hukum Ilahi, dan iman
kepada Kristus, yang mati untuk pembenaran manusia. "Sebab itu, kita yang
dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh
karena Tuhan kita, Yesus Kristus." Roma 5:1.
Tetapi sebab pengalaman ini
adalah pengalamannya, orang Kristen tidaklah melipat tangannya, puas dengan apa
yang telah dilaksanakannya bagi dia. Ia yang telah mengambil keputusan untuk
masuk ke dalam kerajaan rohani akan mendapati bahwa semua kuasa dan hawa nafsu
dari sifat yang tidak bertobat, didukung dengan kuasa kerajaan kegelapan,
dipersiapkan melawan dia. Setiap hari ia harus memperbarui penyerahannya,
setiap hari ia harus mengadakan pertempuran dengan kejahatan. Kebiasaan‑kebiasaan
yang lama, kecenderungan‑kecenderungan bawaan untuk berbuat kesalahan, akan bergumul
untuk kemenangan, dan terhadap ini ia harus selalu waspada, bergumul dalam
kekuatan Kristus untuk kemenangan.
"Karena itu matikanlah
dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi," Paulus menulis kepada orang
Kolose; "Dulu kamu juga melakukan hal‑hal itu ketika kamu hidup di
dalamnya. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram,
kejahatan, fitnah dan kata‑kata kotor yang ke luar dari mulutmu .... Karena
itu, sebagai orang‑orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi‑Nya,
kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan
kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan
yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti
Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas
semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan
menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu,
karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah."
Surat kepada orang Kolose
dipenuhi dengan pelajaran‑pelajaran yang tertinggi nilainya kepada semua orang
yang mengambil bagian dalam pelayanan Kristus, pelajaran‑pelajaran yang
menunjukkan keesaan maksud dan keagungan tujuan yang akan kelihatan dalam kehidupan
dari dia yang dengan benar menggambarkan Juruselamat. Meninggalkan segala
sesuatu yang akan menghalangi dia dari mengadakan kemajuan di dalam jalan yang
menuju ke atas atau yang akan mengalihkan kaki orang lain dari jalan yang
sempit, orang percaya akan menyatakan dalam kehidupannya setiap hari kemurahan,
kebaikan, kerendahan hati, kelemahlembutan, panjang sabar, dan kasih Kristus.
Kuasa dari kehidupan yang
lebih tinggi, lebih suci, dan lebih mulia adalah keperluan kita yang besar.
Dunia mempunyai terlalu banyak pikiran kita, dan kerajaan surga terlalu
sedikit.
Dalam usahanya untuk
mencapai cita‑cita Allah baginya, orang Kristen harus tidak putus asa.
Kesempurnaan akhlak dan rohani, oleh rahmat dan kuasa Kristus, dijanjikan
kepada semua orang. Yesus adalah sumber kuasa, mata air kehidupan. Ia membawa
kepada kita perkataan‑Nya, dan dari pohon kehidupan mempersembahkan kepada kita
daun‑daun untuk penyembuhan jiwa‑jiwa yang sakit. Ia memimpin kita ke takhta
Allah, dan menempatkan ke dalam mulut kita suatu doa dengan mana kita dibawa ke
dalam hubungan yang langsung dengan Dia. Untuk kepentingan kita Ia menjalankan
segala tenaga yang berkuasa dari surga. Pada setiap langkah kita menjamah kuasa‑Nya
yang hidup.
Allah tidak menaruh batas
kepada kemajuan mereka yang ingin "supaya kamu menerima segala hikmat dan
pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna."
Oleh doa, oleh kewaspadaan, oleh pertumbuhan dalam pengetahuan dan pengertian,
mereka harus "dikuatkan dengan segala kekuatan, oleh kuasa kemuliaan‑Nya."
Dengan demikian mereka disediakan untuk bekerja bagi orang lain. Adalah maksud
Juruselamat bahwa umat manusia, dibersihkan dan disucikan, akan menjadi tangan‑Nya
yang menolong. Untuk kesempatan yang besar ini biarlah kita memberikan terima
kasih kepada‑Nya yang "melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa
yang ditentukan untuk orang‑orang kudus di dalam kerajaan terang. Ia telah
melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam kerajaan
Anak‑Nya yang kekasih."
Surat Paulus kepada orang‑orang
Filipi, seperti sesuatu kepada orang‑orang Kolose, ditulis sementara ia seorang
tahanan di Roma. Gereja di Filipi telah mengirim pemberian kepada Paulus dengan
tangan Epafroditus, yang Paulus sebut "saudaraku dan teman sekerja serta
teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku."
Sementara di Roma, Epafroditus sakit, "nyaris mati, tetapi Allah mengasihi
dia." Paulus menulis, "bukan hanya dia saja, melainkan aku juga,
supaya dukacitaku jangan bertambah‑tambah." Mendengar tentang penyakit
Epafroditus, orang‑orang percaya di Filipi dipenuhi dengan kecemasan mengenai
dia, dan ia mengambil keputusan untuk kembali kepada mereka. "Karena ia
sangat rindu kepada kamu sekalian dan susah juga hatinya, sebab kamu mendengar
bahwa ia sakit.... Itulah sebabnya aku lebih cepat mengirimkan dia, supaya bila
kamu melihat dia, kamu dapat bersukacita pula dan berkurang dukacitamu. Jadi
sambutlah dia dalam Tuhan dengan segala sukacita dan hormatilah orang‑orang
seperti dia. Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia
mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu
kepadaku."
Oleh Epafroditus, Paulus
mengirim sebuah surat kepada orang‑orang percaya di Filipi, dalam mana ia
berterima kasih kepada mereka untuk pemberian mereka kepadanya. Dari semua
sidang, dari Filipilah yang paling murah hati untuk menyokong keperluan‑keperluan
Paulus. "Kamu sendiri juga tahu," rasul itu berkata dalam suratnya,
"pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari
Makedonia, tidak ada satu jemaat pun yang mengadakan perhitungan utang dan
piutang dengan aku selain daripada kamu. Karena di Tesalonika pun kamu telah
satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. Tetapi yang kuutamakan bukanlah
pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. Kini aku
telah menerima semua yang perlu daripadamu, malahan lebih daripada itu. Aku
berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu
persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada
Allah."
"Kasih karunia dan
damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai
kamu. Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan
setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Aku
mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai
dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu
Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai
pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir
demikian, akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu
semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik
pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan
Berita Injil. Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus
Yesus merindukan kamu sekalian. Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah
dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat
memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari
Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk
memuliakan dan memuji Allah."
Rahmat Allah menyokong
Paulus pada waktu ia dalam penjara, menyanggupkan dia untuk bersuka‑suka dalam
kesusahan. Dengan iman dan jaminan ia menulis kepada saudara‑saudaranya di
Filipi bahwa pemenjaraannya telah mengakibatkan kemajuan Injil, "Aku
menghendaki, saudara‑saudara, supaya kamu tahu," ia menyatakan,
"bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan
Injil, sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain bahwa aku
dipenjarakan karena Kristus. Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh
kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata‑kata tentang
firman Allah dengan tidak takut."
Ada suatu pelajaran bagi
kita dalam pengalaman Paulus ini, karena hal itu menyatakan jalan Allah untuk
bekerja. Tuhan dapat memberikan kemenangan yang nampaknya kepada kita boleh
jadi penaklukan dan kekalahan. Kita ada dalam bahaya melupakan Allah, melihat
pada perkara‑perkara yang kelihatan, gantinya memandang dengan mata iman
perkara‑perkara yang tidak kelihatan. Bila kemalangan atau malapetaka datang,
kita bersedia untuk membebankan kepada Allah dengan kelalaian dan kebengisan.
Jika Ia melihat cocok untuk memotong kegunaan kita dalam beberapa bagian, kita
bersusah, tidak memikirkan bahwa dengan berbuat demikian Allah boleh
mengerjakan untuk kebaikan kita. Kita perlu belajar bahwa hukuman adalah
sebagian dari rencana Allah yang besar dan di bawah cambuk kesusahan, orang
Kristen kadang‑kadang boleh berbuat lebih banyak untuk Tuhan dari pada bila ia
giat bekerja.
Sebagai teladan mereka
dalam kehidupan Kristen, Paulus menunjukkan orang‑orang Filipi kepada Kristus,
yang "walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah
itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri‑Nya
sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan
dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri‑Nya dan taat sampai
mati, bahkan sampai mati di kayu salib."
"Hai saudara‑saudaraku
yang kekasih," ia meneruskan, "kamu senantiasa taat; karena itu
tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti
waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,
karena Allahlah mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut
kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut‑sungut dan berbantah‑bantahan,
supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak‑anak Allah yang tidak
bercela di tengah‑tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini
sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang‑bintang di dunia,
sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari
Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah‑susah."
Perkataan ini dicatat untuk
menolong setiap jiwa yang bergumul. Paulus meninggikan ukuran kesempurnaan dan
menunjukkan bagaimana itu dapat dicapai. Karena itu "tetaplah kerjakan
keselamatanmu" ia mengatakan, "karena Allahlah yang mengerjakan di
dalam kamu."
Pekerjaan mencari
keselamatan adalah sesuatu kerjasama yang harus dikerjakan bersama‑sama. Ada
kerja sama antara Allah dan orang berdosa yang bertobat. Hal ini perlu untuk
pembentukan prinsip‑prinsip yang benar dalam tabiat. Manusia harus mengadakan
usaha yang sungguh‑sungguh untuk mengalahkan sesuatu yang menghalangi dia dari
mencapai kemerdekaan. Tetapi ia bergantung sepenuhnya kepada Allah untuk
kemajuan. Usaha manusia sendiri tidaklah cukup. Tanpa usaha pertolongan Ilahi
ia tidak akan mencapai sesuatu. Allah bekerja dan manusia bekerja. Perlawanan
akan pencobaan harus datang dari manusia, yang harus mendapat kuasanya dari
Allah. Pada segi yang lain ada akal budi yang tidak terbatas, belas kasihan,
dan kuasa; sebaliknya, kelemahan, sifat berdosa, mutlak tidak berdaya.
Allah menginginkan agar
kita untuk menguasai diri kita sendiri. Tetapi Ia tidak dapat menolong kita
tanpa persetujuan dan kerjasama kita. Roh Ilahi bekerja melalui kuasa dan
kesanggupan yang diberikan kepada manusia. Tentang diri kita sendiri, kita
tidak sanggup untuk membawa maksud dan keinginan dan kecenderungan selaras
dengan kemauan Allah; tetapi jika kita "rela untuk dijadikan rela"
Juruselamat akan melaksanakannya untuk kita, "Kami mematahkan setiap
siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia
untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan setiap pikiran dan
menaklukkannya kepada Kristus." 2 Korintus 10:5.
Ia yang mau membangun
tabiat yang kuat dan simetris, ia yang mau menjadi seorang Kristen yang
seimbang benar, harus menyerahkan segala sesuatu dan melakukan segala sesuatu
bagi Kristus; karena Juruselamat tidak mau menerima pelayanan yang setengah‑setengah.
Setiap hari ia harus belajar arti penyerahan diri. Ia harus belajar firman
Allah, mempelajari artinya dan menurut perintahnya. Dengan demikian ia dapat
mencapai ukuran kesempurnaan Kristen. Dari hari ke hari Allah bekerja baginya,
menyempurnakan tabiat yang harus berdiri pada masa ujian yang terakhir. Dan
dari hari ke hari orang percaya mengerjakan di hadapan manusia dan malaikat‑malaikat
suatu percobaan yang mulia. menunjukkan apa yang dapat diperbuat oleh Injil
bagi umat manusia yang telah jatuh.
"Saudara‑saudara, aku
sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya" Paulus menulis;
"tetapi ini yang kulakukan; aku melupakan apa yang telah di belakangku dan
mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari‑lari kepada tujuan
untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus
Yesus."
Paulus melakukan banyak
perkara. Sejak saat ia memberikan kesetiaannya kepada Kristus, kehidupannya
diisi dengan pelayanan yang tidak kenal lelah. Dari kota ke kota, dari negeri
ke negeri, ia mengadakan perjalanan, menceritakan tentang kisah salib,
memenangkan jiwa‑jiwa kepada Injil, dan mendirikan sidang‑sidang. Dan sidang‑sidang
ini selalu dijaganya, dan ia menulis banyak surat yang berisi petunjuk kepada
mereka. Kadang‑kadang ia bekerja dalam usaha tangannya untuk memperoleh
makanannya setiap hari. Tetapi dari kegiatannya yang sibuk setiap hari dari
kehidupannya, Paulus tidak pernah melupakan maksudnya yang besar--untuk menuju
kepada pahala dari panggilannya yang tinggi. Satu tujuan yang tetap di
hadapannya untuk tinggal setia kepada Seorang yang pada pintu gerbang Damsyik
telah menyatakan diri‑Nya kepadanya. Dari tujuan ini tidak ada sesuatu yang
berkuasa untuk mengalihkan daripadanya. Untuk meninggikan salib Kalvari--motif
inilah yang sangat menarik yang mengilhami perkataan dan perbuatannya.
Maksud yang besar yang
memaksa Paulus untuk maju menghadapi kesulitan dan kesukaran seharusnya
memimpin setiap pekerja Kristen untuk berserah diri sepenuhnya kepada pekerjaan
Allah. Penarikan-penarikan dunia akan dipersembahkan untuk menarik perhatian
dari Juruselamat, tetapi ia harus maju terhadap tujuan, menunjukkan kepada
dunia, kepada malaikat‑malaikat, dan kepada manusia bahwa pengharapan untuk
memandang wajah Allah adalah semua usaha dari pengorbanan yang layak yang
memenuhi tuntutan‑tuntutan dari pengharapan ini.
Meskipun ia seorang
tahanan, Paulus tidak putus asa. Sebagai gantinya nada kemenangan bergema di
seluruh suratnya yang ditulisnya dari Roma kepada sidang‑sidang.
"Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan," ia menulis kepada orang‑orang
Filipi. "Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah .... Jangan hendaknya kamu
khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu
kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera
Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam
Kristus Yesus. Jadi akhirnya, saudara‑saudara, semua yang benar, semua yang
mulia, semua yang adil, semua yang suci semua yang manis, semua yang sedap
didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya
itu."
"Allahku akan memenuhi
segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan‑Nya dalam Kristus Yesus....
Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai rohmu!"
No comments:
Post a Comment